Next Read : Asiyah 

“Kok bukunya belum dibaca?” 
“Kok coklatnya belum dimakan?”

Tanyanya setiap kali melihat buku yang dibelikannya itu masih tersusun rapi di rak berderetan dengan buku-bukuku lainnya. “Ngantri ya…ini aja belum selesai, maklum..sibuk.” Jawabku seraya nyengir lebar, feeling guilty sih. Tapi sesuai komitmenku ke diri sendiri, tak akan membaca buku lain sebelum The Girl on The Train itu selesai (sebab kalau sudah beralih ke buku lain, buku tersebut akan tertinggal, tak akan usai), dan karena TToT itu agak membosankan makanya durasi bacanya agak lama dan panjang. TToT telah selesai, buku inilah yang jadi the next one. 

Lantas untuk urusan cokelat, hmm.. Sebenarnya agak sayang untuk dimakan. Nantilah. Biar saja dulu jadi pajangan. Sebab kalau sudah habis, tak ada lagi gantinya… 😁 Continue reading

Resensi #8 : The Girl On The Train by Paula Hawkins

Judul                    : The Girl On The Train
Pengarang         : Paula Hawkins
Genre                  : Thriller, Drama
Halaman            : 431
Penerbit             : Noura Books

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Di pinggir London, keretanya akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas. Tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan yang tampak bahagia, bahkan nyaris sempurna. Pemandangan ini mengingatkan Rachel pada kehidupannya sendiri yang sebelumnya sempurna.

Pada suatu pagi, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah.

Finally, setelah sekian lama akhirnya novel ini selesai dibaca. Wuih, senang karena akhirnya bisa memenuhi janji ke diri sendiri dan bukti kalau rasa jenuh itu bisa diatasi, tergantung kontrol diri saja.

Penilaianku sejak awal hingga akhirnya selesai melahap seluruh isi buku, tetap sama. Dengan berat hati, terpaksa nilai terendah harus dilekatkan. Bukannya tanpa alasan, dari sisi cerita endingnya bisa tertebak oleh pembaca. Ya, awalnya pembaca akan dibuat bingung siapa pelakunya tapi tetap saja tertebak.

Kedua, dari sisi pengungkapan misteri. Rachel adalah satu-satunya saksi kunci namun awalnya dia lupa seluruh peristiwa, namun secara “cring cring” seketika ia bisa ingat seluruh hal yang dilupakannya dalam sekejap saja. Agak kurang masuk akal, menurutku sih.

Continue reading

Menyalur Hobi, Mengisi Kosongnya Waktu Luang

Sejak awal Januari, niat untuk mulai perbaikan pola hidup telah terencana cukup matang. Sayang, niat hanya sebatas niat yang kemudian berpledoi kesibukan kerja membuat seluruh rencana lenyap ke ruang antah berantah.

Menjelang pertengahan Januari niat itu muncul, dipicu oleh tetangga kost yang kedatangan ibundanya. Hampir tiap hari ku dengar sang bunda memasakkan makanan untuk anaknya yang akan pulang kerja. Niat yang semula sirna, perlahan-lahan kembali muncul seperti sedia kala. Siapa sangka, suara percikan air beradu dengan minyak panas di penggorengan bisa membuat saya begitu merindu rumah.

Niatan itu sederhana, memasak menu makanan sendiri seperti yang pernah ku lakukan di kota yang ku tinggali sebelumnya, Payakumbuh dan Bukittinggi. Kondisi perlengkapan memasak memang berbeda, jika sebelumnya di rumah kontrakanku dulu satu set kompor dan gas tabung 12 kg adalah hal mutlak. Sedang dikosan ku yang sekarang hanya ada kompor gas bertungku tunggal bertabung gas 220 gr. Sebab kebanyakan menu di Bukittinggi dan Payakumbuh, tak lain tak bukan adalah masakan Padang, dan hal itu memaksa aku dan teman serumah untuk memasak sendiri. Masakan Padang itu nikmat, tapi kalau tiap hari makan yang itu-itu saja, bosan juga. Terlebih untuk kami yang bercita rasa heterogen.

Di Batam, menu masakan beragam. Tinggal pilih mau makan dimana, pesan apa, sediakan uang, dan perutpun kenyang.

Continue reading

La La Land, Cita – Perjuangan – Cinta

Weekend kemarin imlek, jadi sehabis acara imlek di tempat nasabah kali ini aku dan seorang rekan memutuskan untuk menonton film. Malam sebelumnya nonton Resident Evil, malam minggunya nonton La La Land.

La La Land, dari judulnya tentu sedikit banyak kita sudah menduga bahwa film ini bertemakan musikal. Benar saja, begitu menyaksikan adegan pertama, adegan kemacetan lalu lintas tiba-tiba saja di salah satu kendaraan yang terjebak macet seorang pengemudi bersenandung. Lambat laun musik ikut mengalir mengiringi, tak hanya itu…pengguna jalan lain yang tadinya juga ikut bermacet ria menyambung lagu menjadi harmoni. Persis film India. Itu pendapat pertamaku 5 menit awal filmnya tayang.

Film ini bercerita tentang seorang gadis muda, Mia Dolan (Emma Stone) bekerja sebagai barista di cafe yang bercita-cita menjadi seorang aktris. Berkali-kali ia mencoba ikut audisi namun kesempatan belum juga muncul.

Di sisi lain, seorang pemuda bernama Sebastian (Ryan Gosling) bekerja sebagai pianist di cafe. Sebenarnya dia terlalu berbakat untuk sekedar memainkan tuts piano mengikuti chords lagu-lagu sepele. Karena selalu berimprovisasi, akhirnya Seb dipecat.

Mia yang sedang gundah karena audisinya gagal melulu, suatu malam memutuskan mampir ke cafe karena tertarik dengan musik yang mengalun indah dari dalam. Inilah momen pertemuan pertama mereka. Malam itu tepat dimana Sebastian dipecat oleh atasannya.

Continue reading

Resident Evil : The Final Chapter

Ini bukan resensi ataupun review filmnya, hanya sekedar ulasan pribadi sehabis nonton barusan. Yup, tadi sore rekan ngajak nonton Resident Evil The Final Chapter yang baru aja premiere beberapa hari lalu.

Sebenarnya sih lebih ingin nonton La La Land, denger-denger sih seru…tapi diajak nonton film ini, ya tak apa…hayuk ajaa…

Tau kan film ini? Film yang diangkat dari video game ini kembali menampilkan Mila Jovovich sebagai Alice.

wp-image-302801643jpg.jpgSetelah lebih kurang 14 tahun sejak Resident Evil pertama, Milla masih terlihat tangguh untuk memerankan Alice. Still tough and strong, fast and smart.

I always adore women who can fight well. Itu sebabnya Milla jadi salah satu aktris favoritku, selain Jennifer Garner, Scarlet Johanson, dll. Mereka cocok jadi petarung.

Secara singkat ceritanya kurang lebih begini… .

Continue reading

Princess Hair Do

Lagi, malam ini menemukan sesuatu yang menarik di laman facebook.  Belakangan ini kebanyakan postingan di timeline facebook adalah resep masakan, kue, dekor rumah, tips cara mengasuh anak, dll.

Yang satu ini beda. Bukan tips-tips pola asuh anak atau tips menghadapi anak yang sedang sakit. Melainkan tatanan rambut ala-ala princess.

Tatanan rambut begini pernah jadi favoritku dulu, sewaktu kecil. Hmmm…kalau dipikir-pikir, sekarang juga masih. Inilah salah satu sebabnya kenapa aku menjaga rambut tetap panjang.

Siapa yang tak kenal kepang rambut? Tatanan satu ini terbilang paling simple dan chic. Cocok untuk anak-anak dan juga gadis belia, yah dewasa juga masih cocok sih..tergantung tipenya.

Dulu waktu kecil senang sekali kalau rambutku dikepang-kepang atau diikat sana sini. Koleksi ikat rambut, jepitan lucu-lucu selalu dibeli tiap kali punya sisa uang lebih.

Continue reading

Kekuatan Do’a

Jangan pernah menyepelekan kekuatan doa, jangan sesekali. 

Berdoalah sesungguhnya, yakin doamu didengar dan dikabulkanNya. Yakin doamu telah mengetuk pintu langit dan surga. Yakin kau tak berdoa sendiri, ada doa-doa orang yang menyayangi turut mengiringi.. 

Setidaknya itulah yang terjadi pada saya…
Doa yang teruntai setiap saat, membuahkan hasil nyata…

Di setiap kali berdoa, senantiasa ku selipkan sebuah permintaan.
Kekuatan hati, kelapangan jiwa.

Continue reading