Blade Runner 2049 – Pemburu Replicant

Ada yang sudah nonton film ini? Gimana pendapat kalian?

Yang kumaksudkan adalah film Blade Runner tahun 2017, bukan pendahulunya yang tahun 1982.

Film pendahulunya belum pernah ku tonton, mungkin itu sebabnya terasa banyak yang kurang disana sini. Terutama dari segi cerita.

Berkisah tentang Office KD6-3.7 (mudah-mudahan gak salah nama) yang diperankan oleh abang Ryan Gosling (itu tuh pemeran utama dalam The NoteBook), yang bertugas menjadi pemburu bagi para Replicant (manusia tiruan). Replicant yang diburu khusus yang seri lama. Karena seri lama dianggap tidak patuh dan menimbulkan kekerasan.

Continue reading

Advertisements

Wild Within Me

Pernah mengalami atau merasakan sesuatu yang menurut kamu “enggak gue banget”? Tapi entah bagaimana hal itu mau tak mau adalah bagian dari diri kamu. Misalnya ada suatu peristiwa, yang menurutmu kalau hal tersebut kamu alami sendiri maka kamu akan begini – begitu sesuai cara pandangmu. Tapi entah bagaimana ketika sungguhan terjadi, kamu malahan melakukan hal berbeda lagi. Hingga akhirnya kamu merasa atau bahkan sadar bahwa ada sisi lain yang selama ini terpendam dalam dirimu.

Dan kali ini, aku akan bahas satu hal – sisi lain dari diriku, yang akhir-akhir baru aku tahu.

Wild Within Me

Karena tuntutan mobilitas pekerjaan dan rasa mandiri sekaligus sungkan merepotkan orang lain akhirnya ku putuskan untuk memiliki motor dan belajar sendiri, beberapa tahun lalu. Setelah punya motor sendiri, awal-awalnya tetap bukan aku yang mengendarai tapi ada rekan A dan B yang selalu pergi-pulang kerja bersamaku. Hal itu lama kelamaan membuatku hampir manja dan terbiasa atas bantuan mereka. Hampir!

Beberapa bulan belakangan ini, aku terpaksa kembali mandiri. Pergi dan pulang mengendarai motor kesayangan. Dulu, awal-awal sekali…kecepatanku tak lebih dari 50 km/jam dan selalu be safe, lihat kiri kanan jika berpindah jalur. Jarak kantor dan kosan ditempuh sekitar 15 menitan, dulu. Tapi sekarang…

Semakin terbiasa dengan jalan raya, semakin terbiasa dengan kendaraan, terbiasa dengan kecepatan…lambat laun gaya berkendarapun berubah. Awal-awalnya cuma ingin mempercepat jam tiba di kantor, hingga akhirnya kecepatanpun ku pacu. Lama kelamaan, melaju kencang seperti telah terbiasa. Tanpa sadar saat melihat speedometer, telah mencapai 70 km/jam bahkan hampir 80 km/jam, shock! sebab tak pernah angka itu terlampaui olehku. Ditambah lagi, begitu gas ku tarik terlalu jauh, motor sedikit berguncang dan membuatku sadar kecepatanku tak layak.

Continue reading

Yang Dibutuhkan “Wanita” Vs “Pria”

Tulisan ini ku kutip dari salah satu point di buku “Kado Pernikahan Istimewa” karya M.As’ad Mahmud LC. Buku ini berhasil mencuri perhatianku ketika tanpa sengaja tadi malam iseng-iseng patroli ke Gramedia. Tebal bukunya 464 halaman, awalnya tak berminat. Eh ternyata di salah satu rak ada yang plastiknya sudah terbuka, pas lihat lembar demi lembar dan bertemulah dengan salah satu point yang akan aku kutip di bawah ini.

Pria dan wanita yang akan dibahas disini konteksnya adalah pasangan, dalam hal ini suami-istri. Sebab sejatinya dalam sebuah hubungan sudah semestinya selalu ada rasa “saling” sehingga akan timbul keharmonisan antara kedua belah pihak. Dan suami-istri adalah hubungan “saling” tersakral. 

Yuk simak… ^_^

Wanita membutuhkan perhatian, Pria membutuhkan kepercayaan

Perhatian yang sederhana tapi rutin dilakukan itu sangat bermakna bagi seorang wanita. Misalnya suami yang rajin berpamitan ketika berangkat pergi. Atau suami yang menelpon keadaannya saat bepergian beberapa hari. Itu sangat berarti. Itu membuat wanita tahu bahwa ia benar-benar ada dalam hati suaminya.

Continue reading

Dia Yang Menginspirasi…

Bukittinggi.

Banyak hal yang dapat ku ingat tentang kota itu. Kota dimana aku tinggal hampir 4 tahun. Ya, empat tahun. Mengenal adat budaya Ranah Minang, orang-orang Minang, bahasa Minang dan pria-pria Minang juga tentunya.

Pekerjaan adalah alasan utama kakiku bisa menjejak di Ranah itu, Ranah para orang berbudaya, Ranah para pujangga, sebut saja Taufik Ismail, Abdul Muis (si Penulis novel Salah Asuhan), Marah Rusli (sang creator Siti Nurbaya yang melegenda), Abdul Malik Karim Abdullah (lebih dikenal dengan nama penanya Hamka, penulis dibalik novel fenomenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk), dan lainnya yang lahir dan berasal dari wilayah Sumatera Barat ini. Wajarlah sepertinya jika ku sebut ini Ranah para Pujangga, yang namanya tetap fenomenal melegenda hingga era ini. Tak perlu pula ku tambahkan sang tokoh proklamator Indonesia, wakil presiden pertama – Mohammad Hatta – yang juga berasal asli dari kota Bukittinggi ini untuk menambah ke”sakral”an kota ini, sebab dengan sendirinya orang sudah tahu “Bukittinggi”.

Menariknya, tak seperti kota-kota lain yang pernah ku kunjungi, kota ini masih asri – sangat. Hawanya, lingkungan alamnya, tata kotanya, Jam Gadangnya. Tentu saja tak lepas, orang-orangnya.

Tapi kali ini aku tak ingin menceritakan tentang kota ini, tentang kawasan wisatanya ataupun tentang kultur budayanya. Yang ingin aku kisahkan…adalah tentang seseorang – dua orang tepatnya – yang hingga saat ini masih sangat aku kagumi perjuangannya, kesabarannya, keteguhannya, dan rasa syukurnya.

Tentang seorang wanita dan pasangannya, berusia beberapa tahun lebih tua dariku (untuk alasan kesopanan namanya ku samarkan menjadi Uni Melda). Nimel ini salah satu rekan kerjaku di kantor, lebih senior karena lebih dulu bergabung dengan perusahaan ini dibandingkan aku.

Continue reading