Dia Yang Menginspirasi…

Bukittinggi.

Banyak hal yang dapat ku ingat tentang kota itu. Kota dimana aku tinggal hampir 4 tahun. Ya, empat tahun. Mengenal adat budaya Ranah Minang, orang-orang Minang, bahasa Minang dan pria-pria Minang juga tentunya.

Pekerjaan adalah alasan utama kakiku bisa menjejak di Ranah itu, Ranah para orang berbudaya, Ranah para pujangga, sebut saja Taufik Ismail, Abdul Muis (si Penulis novel Salah Asuhan), Marah Rusli (sang creator Siti Nurbaya yang melegenda), Abdul Malik Karim Abdullah (lebih dikenal dengan nama penanya Hamka, penulis dibalik novel fenomenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk), dan lainnya yang lahir dan berasal dari wilayah Sumatera Barat ini. Wajarlah sepertinya jika ku sebut ini Ranah para Pujangga, yang namanya tetap fenomenal melegenda hingga era ini. Tak perlu pula ku tambahkan sang tokoh proklamator Indonesia, wakil presiden pertama – Mohammad Hatta – yang juga berasal asli dari kota Bukittinggi ini untuk menambah ke”sakral”an kota ini, sebab dengan sendirinya orang sudah tahu “Bukittinggi”.

Menariknya, tak seperti kota-kota lain yang pernah ku kunjungi, kota ini masih asri – sangat. Hawanya, lingkungan alamnya, tata kotanya, Jam Gadangnya. Tentu saja tak lepas, orang-orangnya.

Tapi kali ini aku tak ingin menceritakan tentang kota ini, tentang kawasan wisatanya ataupun tentang kultur budayanya. Yang ingin aku kisahkan…adalah tentang seseorang – dua orang tepatnya – yang hingga saat ini masih sangat aku kagumi perjuangannya, kesabarannya, keteguhannya, dan rasa syukurnya.

Tentang seorang wanita dan pasangannya, berusia beberapa tahun lebih tua dariku (untuk alasan kesopanan namanya ku samarkan menjadi Uni Melda). Nimel ini salah satu rekan kerjaku di kantor, lebih senior karena lebih dulu bergabung dengan perusahaan ini dibandingkan aku.

Dirinya telah menikah hampir selama 5 tahun bersama seorang pria yang juga penduduk asli Bukittinggi. Namun saat itu keduanya terpaksa harus LDR sementara sebab sang suami (sebut saja si Uda), bertugas di kantor pemerintahan di Kota Batusangkar yang berjarak sekitar 40an Km dari Bukittinggi atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Bisa saja mereka berulang pulang-pergi saban hari, tapi tentu saja melelahkan, maka jadilah si Uni mengontrak di Bukittinggi dan si Uda tinggal di rumah Batusangkar.

Keduanya bertemu awal sekali di counter Teller bank. Ya, sebelum jadi analis Ni Melda memang bertugas sebagai Teller yang tentunya bertemu tiap hari dengan nasabah berbeda, singkat cerita keduanya jatuh cinta – saling cocok – dan kemudian menikah. Menginjak usia pernikahan 5 tahun, finansial cukup, tempat tinggal tersedia, keluarga besar bahagia, rasanya begitu sempurna. Namun, ada yang kurang…

Buah Hati…

“Tekanan paling berat itu bukan berasal dari pasangan kita, Jan. Tapi dari lingkungan kita, lingkungan keluarga besar kita, tetangga kita, teman-teman kita yang sekenanya bertanya ‘Loh kok belum punya anak, jangan ditunda-tunda terus lah…jangan mikirin pekerjaan terus..’ itu yang bikin kita tertekan”.

Aku ingat persis ketika Ni Mel bercerita, sambil menahan air mata yang berkaca-kaca. Tentang perkataan orang-orang yang kadang terpaksa hanya bisa didengar tanpa bisa dibalas. Hanya bisa di tahan, tanpa bisa ditepis.

Di tengah tekanan dan omongan seperti itu, Ni Mel terus saja tersenyum dan tertawa mencoba menjawab sekenanya. Yang tentunya tidak diketahui orang lain adalah, dia menangis…ketika tiba di rumah.

Lebih dari siapapun, dia menginginkan kehadiran buah hati itu. Lebih dari yang diketahui orang lain, dia telah berusaha sungguh-sungguh. Dia dan suaminya tidak berpangku tangan menerima nasib saja. Mereka berusaha. Berusaha saling menguatkan, saling support sembari berkonsultasi dengan dokter kandungan yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Mereka menyerah?

“Udah ada tanda-tanda kehadiran mata hati kita, Mel?” tanya si Uda sesekali sembari bercanda ketika mereka bertemu.

“Belum, Da. Bulan ini belum rezeki kita.” Jawabnya dengan senyum. Namun suaminya yang baik tahu persis apa yang dirasakan istri. Serta merta si Uda meraihnya dalam pelukan hangat, “Ndak baa do Mel, insya Allah bulan muko dih. Sabar-sabar se dulu, ado tu masonyo beko. Awak syukuri seh lah apo nan ado kini” (red. Tak apa Mel, insya Allah bulan depan ya. Sabar-sabar aja dulu, ada waktunya tuh nanti. Kita syukuri aja apa yang sudah ada sekarang ini).

Saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Saling melindungi, bukannya saling menyalahkan. Itulah kuncinya, kata mereka.

Ketika sahabat baiknya yang dahulu sama-sama berjuang ikut promil telah lebih dulu berhasil, Ni Mel bahagia bukan main. Ya, mengetahui temannya telah lebih dahulu mendapat kabar bahagia, dirinya pun ikut bahagia. Meskipun sesampainya di rumah tetap berlinang air mata, bertanya-tanya kapan tiba gilirannya.

“Tadi di arisan, teman-teman mama ngobrolin tentang cucunya. Mama belum punya cucu, nggak ada yang bisa mama obrolin.” Kata Mama ni Mel suatu hari di telepon. Ni Mel yang supel tahu benar cara menghibur hati ibunda. Meski ibu dan anak ini sempat menangis ketika membicarakan itu, namun keduanya tetap tabah. Lagi, saling support itu perlu.

Mereka menyerah?

Tidak.

Ketika lingkungan tidak mendukung asalkan pasangan mendukung, semuanya terasa lebih mudah. Setiap hari ni Mel bersyukur atas suaminya. Atas apa yang suaminya lakukan untuknya, atas apa yang suaminya lakukan untuk keluarganya. Bersyukur dirinya dipersatukan dengan pria sesabar Uda. “Dia sebaik-baik suami yang aku idamkan, Jan” katanya padaku.

Aku ingat persis saat itu, akhir tahun 2012 ni Mel merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Takut terjadi apa-apa, ia meminta diantar Uda menemui dokter. Dan ketika dokter memvonis “Ibu, selamat Anda hamil” air mata mengalir di kelopak mata mereka, bersyukur. “Pernyataan dokter barusan, telah kami nanti bertahun-tahun, Dok”.

Perjuangan tak sampai di situ, trimester pertama memang yang paling riskan katanya. Pekerjaan yang mengharuskan dirinya pergi keluar kota, tetap dijalani ni Mel dengan bahagia. Hingga ketika tiba waktunya kontrol, dokter mengabarkan bahwa ada masalah dengan kondisi kandungan, janinnya tidak berkembang.

Dokter mengharuskan ni Mel bed rest sampai kondisi kandungannya pulih, berkembang dengan normal. Bed rest, kedengarannya enak. Kerjanya cuma baring-baring, leyeh-leyeh di tempat tidur. Salah besar.

Berbaring beberapa jam sambil beristirahat, tentu enak. Tapi, bedrest yang dilakukan ibu-ibu hamil ini adalah berbaring selama 24/7, tidak boleh turun, tidak boleh berbaring ke kiri ataupun kanan, hanya terlentang sepanjang hari. Hari pertama bed rest, ni Mel agak bandel, miring kesana kesini, turun bolak bali ke kamar mandi “Bosan Jan tidur terus, lagian uni merasa badan uni sehat-sehat saja, pusing malah kalau terus-terusan tidur”, katanya. Tapi, dokter berkata lain.

Ibu ingin anak ini sehat, atau tidak?”

Jadilah, ni Mel berbaring selama hampir 3 bulan sampai janinnya sehat dan cukup kuat hingga si ibu bisa beraktivitas seperti biasa. Hari pertama – ketiga, kepala pusing luar biasa. Hari-hari selanjutnya, badan gatal-gatal karena mandi hanya seadanya, bahkan ni Mel bercerita kulit punggungnya terkelupas ketika itu. Dan yang paling memalukan baginya adalah sama sekali dirinya tidak diperbolehkan turun bahkan untuk ke kamar mandi, jadilah seluruh kegiatan pribadi itu dilakukannya di atas tempat tidur. Untungnya, ada si Uda yang dengan luar biasa mengurus ni Mel bahkan sampai ke kegiatan paling pribadi itu.

Uda tau kamu merasa kamu sehat untuk turun dan melakukan semuanya seperti biasa. Tapi, ingat Mel, bukannya ini yang sama-sama kita tunggu-tunggu? Sabar ya, bertahan sebentar, mudah-mudah segera dikuatkan.”

Tapi Mel malu, Da. Masa uda yang mengurus semuanya?”

Ndak Baa (Gpp), dengan Mel bertahan dan bersabar saat kondisi begini, uda udah seneng kok.”

Ketika siang hari si Uda bekerja, ni Mel ditemani oleh mamanya (mertua ni Mel telah meninggal dunia) dan setelah pulang kerja, gantian si Uda yang akan merawatnya, mengurusnya, dan memandikannya.

Disaat begitulah Jan, aku benar-benar bersyukur. Mama dan Uda sudah sangat-sangat sabar mengurusku. Tanpa keluhan, tanpa beban. Disitulah aku bersyukur, aku punya mereka berdua. Bahkan disaat yang sememalukan itu.”

Dulunya ketika kami menikah, Uda hanyalah pegawai honorer biasa, gajiku 5 kali lipat darinya. Alhamdulillah beberapa saat setelah menikah, ia mendapatkan rezeki menjadi PNS di kantor pemerintahan. Hingga saat ini, gajiku masih sedikit lebih tinggi darinya. Tapi, pria seperti itulah Jan yang layak mendapatkan rasa hormat dan taat seorang wanita. Bukan karena harta dan gajinya, tapi karena kesabarannya dan perlakuannya kepada wanitanya.

Saat ini, keduanya telah memiliki buah hati, seorang putra berusia empat tahun. Mereka juga tidak lagi LDR, keluarga itu telah berkumpul di kota yang sama, Bukittinggi.

Salah satu pesan ni Mel yang paling ku ingat,

Jangan mencari pendamping karena harta, sebab nanti dirimu hanya akan dilimpahi uang dan permata, bukan perhatian dan kesabarannya.

Jangan mencari pendamping karena rupa, sebab nanti akan ada saatnya tidurmu tak nyenyak kala ia jauh disana.

Pesan-pesan beliau yang lainnya, akan ku tuang dalam tulisan berbeda.

Untuk sang kakak, yang menjadi inspirasi tulisan ini. Terima kasih atas nasihatnya selama ini, semasa kita sama-sama di Bukittinggi hingga telah pisah kota berbeda pulau pula. Terima kasih untuk pelajarannya, ilmu-ilmunya, tips masaknya dan pengetahuan lainnya, termasuk kisah-kisah konyol pengalamannya dengan si Uda. Yang paling aku kagumi dari kakak ini, sekalipun tidak pernah terucap darinya hal-hal jelek tentang suaminya. Meskipun aku tahu, Uda bukanlah manusia sempurna tanpa cela, tapi….sebagai istri dia begitu bersyukur hingga tak ada lisan darinya tentang keluhan terhadap suaminya.

Dia, sebaik-baik suami yang aku idamkan...” katanya.

 

Batam

Created : 17 Juli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s