Wild Within Me

Pernah mengalami atau merasakan sesuatu yang menurut kamu “enggak gue banget”? Tapi entah bagaimana hal itu mau tak mau adalah bagian dari diri kamu. Misalnya ada suatu peristiwa, yang menurutmu kalau hal tersebut kamu alami sendiri maka kamu akan begini – begitu sesuai cara pandangmu. Tapi entah bagaimana ketika sungguhan terjadi, kamu malahan melakukan hal berbeda lagi. Hingga akhirnya kamu merasa atau bahkan sadar bahwa ada sisi lain yang selama ini terpendam dalam dirimu.

Dan kali ini, aku akan bahas satu hal – sisi lain dari diriku, yang akhir-akhir baru aku tahu.

Wild Within Me

Karena tuntutan mobilitas pekerjaan dan rasa mandiri sekaligus sungkan merepotkan orang lain akhirnya ku putuskan untuk memiliki motor dan belajar sendiri, beberapa tahun lalu. Setelah punya motor sendiri, awal-awalnya tetap bukan aku yang mengendarai tapi ada rekan A dan B yang selalu pergi-pulang kerja bersamaku. Hal itu lama kelamaan membuatku hampir manja dan terbiasa atas bantuan mereka. Hampir!

Beberapa bulan belakangan ini, aku terpaksa kembali mandiri. Pergi dan pulang mengendarai motor kesayangan. Dulu, awal-awal sekali…kecepatanku tak lebih dari 50 km/jam dan selalu be safe, lihat kiri kanan jika berpindah jalur. Jarak kantor dan kosan ditempuh sekitar 15 menitan, dulu. Tapi sekarang…

Semakin terbiasa dengan jalan raya, semakin terbiasa dengan kendaraan, terbiasa dengan kecepatan…lambat laun gaya berkendarapun berubah. Awal-awalnya cuma ingin mempercepat jam tiba di kantor, hingga akhirnya kecepatanpun ku pacu. Lama kelamaan, melaju kencang seperti telah terbiasa. Tanpa sadar saat melihat speedometer, telah mencapai 70 km/jam bahkan hampir 80 km/jam, shock! sebab tak pernah angka itu terlampaui olehku. Ditambah lagi, begitu gas ku tarik terlalu jauh, motor sedikit berguncang dan membuatku sadar kecepatanku tak layak.

Yang membuatku lebih tercengang adalah, I love the velocity, the sensation, the breeze. Takut? tidak. Khawatir iya, kalau-kalau arogansiku berkendara membahayakan orang lain.

Pengendara yang umumnya mengalami kecelakaan bukanlah para pengendara yang baru belajar mengemudi, tapi mereka yang telah memiliki kemampuan mumpuni. Pernyataan itu benar adanya. Sebab ketika merasa telah fasih dan lihai, timbul keinginan dari dalam diri untuk lebih lagi dan lebih lagi.

Pernah suatu malam, karena terlalu terbiasa dengan kecepatan dan merasa bahwa zona antara kantor – kostan telah “hafal” kendaraan ku pacu cukup kencang namun karena suatu hal (aku lupa apa) aku berpaling ke kiri cukup lama hingga ketika pandangan ku arahkan kembali ke depan, mobil yang tadinya di depan telah berhenti karena lampu merah dengan jarak tak jauh. Mendadak, ku tarik rem sekencang-kencangnya, Alhamdulillah…Allah masih sayang, roda ban depan hanya berjarak sekian cm dari mobil itu (itupun terpaksa di banting ke kiri demi menghindari tubrukan).

Dekat kostanku ada bundaran, suatu ketika karena buru-buru ingin sampai rumah, memaksakan diri untuk terus menyeberang padahal traffic lagi padat-padatnya. Ketika aku lewat, tanpa sadar ada motor yang menghadang di balik mobil sebelah. Nyaris, motorku ditabrak sebab si pengendara itu memacu motornya lumayan kencang. Alhamdulilah, lagi-lagi Allah masih sayang.

Sejak saat itu, aku mulai belajar mengendalikan diri dan pikiran ketika di atas motor. Tak jarang pikiranku melayang, mengembara entah kemana padahal semestinya fokus ke jalan di hadapan. Harus berpikir, kalau bukan untuk diri sendiri setidaknya untuk keselamatan orang lain.

There is a wild within me, but it must be tamed.

Lain lagi ketika dulu traveling ke Thailand, aku yang takut nyemplung ke laut lepas akhirnya memberanikan diri, mencoba hal-hal baru. Dan benar saja, ketika telah terbiasa dengan arus laut akhirnya malah ketagihan. Bahkan ketika ditawarkan untuk snorkeling malam hari (air laut gelap) untuk melihat plankton, aku bersedia turun dari kapal, sementara rekan-rekanku yang lainnya tidak. Awalnya takut – akhirnya malah ketagihan.

There is a wild within me that i do not know, yet.

Atau mungkin sebenarnya sisi liar ini telah lama ada, tapi aku baru sadar? Entahlah. Kalau dipikir-pikir lagi, aku pernah melakukan hal-hal yang menurutku hampir gila. Kalau bukan karena nekat, entah apa namanya.

Orang-orang di sekitarku mengenalku sebagai tipikal calm girl, almost shy. Tapi, Entah dapat keberanian dari mana, aku berani menyatakan perasaaan ke seorang teman yang ku suka – bertahun-tahun lalu.

Caranya? aku menuliskan “Love Hate Book”, dalam sebuah buku catatan sederhana. 12 lembar, persisnya ku tuliskan semua uneg-uneg sekaligus rasa dan ku serahkan langsung padanya. Tapi, aku hanya menyatakan perasaan, bukan meminta pengakuan. Aku hanya mengatakan suka, bukan menginginkan dirinya. Itu dua hal yang berbeda. Saat ini pria itu telah ada yang punya. Sedih? sama sekali tidak. Aku malah senang, sebab pernah mengenalnya dan namanya sempat masuk dalam lembar-lembar hidupku. Tak ada lagi rasa yang tersisa, sebab pria-pria masa lalu tak selayaknya lagi ditunggu. Hahahahah… ^_^ (6 tahun lalu, dan kadang ingatan itu masih jelas. Suka geli sendiri kalau ingat ini. Kadang mikir “berani banget yak gue waktu itu?”).

Masih banyak lagi sisi liar yang sepertinya menunggu di eksplor. Tapi biarlah, jangan terburu-buru, nanti juga ada masanya. Dan mudah-mudahan nanti apapun sisi lain yang aku temui, membuatku jadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, lebih dewasa dan lebih bijak. Bijak mengelola diri, pandai mengendalikan emosi, dan tentunya pandai menjinakkan another wild side of me.

When I gone wild, can you handle me?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s