Beauty and the Beast – “Tale as Old as Time”

Sudah pada nonton Beauty and The Beast live action? Kalau sudah, gimana menurut kalian? Kalau belum, jangan khawatir, kali ini aku takkan spoiler.

Kali ini Disney menayangkan salah satu film “Princess series”, yaitu si cantik Belle dan Beast. Kisahnya sendiri, sama persis dengan versi animasi yang ditayangkan tahun 1991 lalu.

wp-1489937828428.jpg

Lagi-lagi, aku memilih menonton midnight. Sebab jam-jam sebelumnya, studionya penuh. Terpaksa ambil jam 22.10 malam di Blitz. Kebetulan CGV Blitz letaknya sebelahan dengan tempat tinggal, jadi rasanya tak masalah menonton selarut ini.

Film ini masih menonjolkan musikal, sebagai salah satu hal yang ikonik banget di film-film garapan Disney. Ku hitung, sekitar 10 lagu dinyanyikan sepanjang 120 menit durasi film.

Continue reading

Catch a Plane

Satu kata untuk pelayanan maskapai Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 153 dari BTH ke CGK hari ini, Salut. 

Kenapa?

Aku dijadwalkan terbang pukul 8.55 WIB, boarding 8.35 WIB di Hang Nadim, Batam. Senin besok, selama 3 hari aku akan berada di ibu kota untuk dinas pelatihan. 

Pagi-pagi sekali, aku dan rekanku telah berangkat menuju bandara dan tiba disana pukul 7.20 pagi. Masih banyak waktu, dan akupun telah check-in dan drop bagasi di counter Garuda. Mbaknya counternya ramah banget, pakai senyum dan chit chat sederhana. Mungkin karena masih pagi jadi si mbaknya semangat? Entahlah, bisa jadi pula memang tipenya ceria, seperti saya. 😁

Usai drop bagasi, aku kembali ke pintu kedatangan. Keluar dari gedung hall checkin counter, menemui rekanku yang sabar menunggu dan telah repot-repot mengantar.

Continue reading

Sekarang, Tidurlah Dulu…

Sekarang, tidurlah dulu. Percayalah suatu saat nanti, akan ada seseorang yang memberikan bahunya agar kamu bisa bersandar, lalu ia khusyuk mendengarkan ceritamu, tentang apa-apa saja yang kamu lakukan sepanjang siang tadi.

Sekarang, tidurlah dulu. Percayalah suatu saat nanti, akan ada sepasang telinga yang akan ikhlas mendengarkan keluh dan menguatkanmu, mendengarkan kesah dan menghapus laramu.

Sekarang, tidurlah dulu. Percayalah nanti di suatu pagi, akan ada yang akan membangunkanmu, dengan kecupan hangat dan tatap mesra. Mengucapkan selamat pagi sembari mendekapmu erat.

Continue reading

Next Read : Asiyah 

wp-image-1118933643jpg.jpg“Kok bukunya belum dibaca?”
“Kok coklatnya belum dimakan?”

Tanyanya setiap kali melihat buku yang dibelikannya itu masih tersusun rapi di rak berderetan dengan buku-bukuku lainnya. “Ngantri ya…ini aja belum selesai, maklum..sibuk.” Jawabku seraya nyengir lebar, feeling guilty sih. Tapi sesuai komitmenku ke diri sendiri, tak akan membaca buku lain sebelum The Girl on The Train itu selesai (sebab kalau sudah beralih ke buku lain, buku tersebut akan tertinggal, tak akan usai), dan karena TGoTT itu agak membosankan makanya durasi bacanya agak lama dan panjang. TGoTT telah selesai, buku inilah yang jadi the next one.

Lantas untuk urusan cokelat, hmm.. Sebenarnya agak sayang untuk dimakan. Nantilah. Biar saja dulu jadi pajangan. Sebab kalau sudah habis, tak ada lagi gantinya… 😁 Continue reading

Resensi #8 : The Girl On The Train by Paula Hawkins

Judul                    : The Girl On The Train
Pengarang         : Paula Hawkins
Genre                  : Thriller, Drama
Halaman            : 431
Penerbit             : Noura Books

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Di pinggir London, keretanya akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas. Tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan yang tampak bahagia, bahkan nyaris sempurna. Pemandangan ini mengingatkan Rachel pada kehidupannya sendiri yang sebelumnya sempurna.

Pada suatu pagi, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah.

Finally, setelah sekian lama akhirnya novel ini selesai dibaca. Wuih, senang karena akhirnya bisa memenuhi janji ke diri sendiri dan bukti kalau rasa jenuh itu bisa diatasi, tergantung kontrol diri saja.

Penilaianku sejak awal hingga akhirnya selesai melahap seluruh isi buku, tetap sama. Dengan berat hati, terpaksa nilai terendah harus dilekatkan. Bukannya tanpa alasan, dari sisi cerita endingnya bisa tertebak oleh pembaca. Ya, awalnya pembaca akan dibuat bingung siapa pelakunya tapi tetap saja tertebak.

Kedua, dari sisi pengungkapan misteri. Rachel adalah satu-satunya saksi kunci namun awalnya dia lupa seluruh peristiwa, namun secara “cring cring” seketika ia bisa ingat seluruh hal yang dilupakannya dalam sekejap saja. Agak kurang masuk akal, menurutku sih.

Continue reading

Menyalur Hobi, Mengisi Kosongnya Waktu Luang

Sejak awal Januari, niat untuk mulai perbaikan pola hidup telah terencana cukup matang. Sayang, niat hanya sebatas niat yang kemudian berpledoi kesibukan kerja membuat seluruh rencana lenyap ke ruang antah berantah.

Menjelang pertengahan Januari niat itu muncul, dipicu oleh tetangga kost yang kedatangan ibundanya. Hampir tiap hari ku dengar sang bunda memasakkan makanan untuk anaknya yang akan pulang kerja. Niat yang semula sirna, perlahan-lahan kembali muncul seperti sedia kala. Siapa sangka, suara percikan air beradu dengan minyak panas di penggorengan bisa membuat saya begitu merindu rumah.

Niatan itu sederhana, memasak menu makanan sendiri seperti yang pernah ku lakukan di kota yang ku tinggali sebelumnya, Payakumbuh dan Bukittinggi. Kondisi perlengkapan memasak memang berbeda, jika sebelumnya di rumah kontrakanku dulu satu set kompor dan gas tabung 12 kg adalah hal mutlak. Sedang dikosan ku yang sekarang hanya ada kompor gas bertungku tunggal bertabung gas 220 gr. Sebab kebanyakan menu di Bukittinggi dan Payakumbuh, tak lain tak bukan adalah masakan Padang, dan hal itu memaksa aku dan teman serumah untuk memasak sendiri. Masakan Padang itu nikmat, tapi kalau tiap hari makan yang itu-itu saja, bosan juga. Terlebih untuk kami yang bercita rasa heterogen.

Di Batam, menu masakan beragam. Tinggal pilih mau makan dimana, pesan apa, sediakan uang, dan perutpun kenyang.

Continue reading

La La Land, Cita – Perjuangan – Cinta

Weekend kemarin imlek, jadi sehabis acara imlek di tempat nasabah kali ini aku dan seorang rekan memutuskan untuk menonton film. Malam sebelumnya nonton Resident Evil, malam minggunya nonton La La Land.

La La Land, dari judulnya tentu sedikit banyak kita sudah menduga bahwa film ini bertemakan musikal. Benar saja, begitu menyaksikan adegan pertama, adegan kemacetan lalu lintas tiba-tiba saja di salah satu kendaraan yang terjebak macet seorang pengemudi bersenandung. Lambat laun musik ikut mengalir mengiringi, tak hanya itu…pengguna jalan lain yang tadinya juga ikut bermacet ria menyambung lagu menjadi harmoni. Persis film India. Itu pendapat pertamaku 5 menit awal filmnya tayang.

Film ini bercerita tentang seorang gadis muda, Mia Dolan (Emma Stone) bekerja sebagai barista di cafe yang bercita-cita menjadi seorang aktris. Berkali-kali ia mencoba ikut audisi namun kesempatan belum juga muncul.

Di sisi lain, seorang pemuda bernama Sebastian (Ryan Gosling) bekerja sebagai pianist di cafe. Sebenarnya dia terlalu berbakat untuk sekedar memainkan tuts piano mengikuti chords lagu-lagu sepele. Karena selalu berimprovisasi, akhirnya Seb dipecat.

Mia yang sedang gundah karena audisinya gagal melulu, suatu malam memutuskan mampir ke cafe karena tertarik dengan musik yang mengalun indah dari dalam. Inilah momen pertemuan pertama mereka. Malam itu tepat dimana Sebastian dipecat oleh atasannya.

Continue reading