Yang Dibutuhkan “Wanita” Vs “Pria”

Tulisan ini ku kutip dari salah satu point di buku “Kado Pernikahan Istimewa” karya M.As’ad Mahmud LC. Buku ini berhasil mencuri perhatianku ketika tanpa sengaja tadi malam iseng-iseng patroli ke Gramedia. Tebal bukunya 464 halaman, awalnya tak berminat. Eh ternyata di salah satu rak ada yang plastiknya sudah terbuka, pas lihat lembar demi lembar dan bertemulah dengan salah satu point yang akan aku kutip di bawah ini.

Pria dan wanita yang akan dibahas disini konteksnya adalah pasangan, dalam hal ini suami-istri. Sebab sejatinya dalam sebuah hubungan sudah semestinya selalu ada rasa “saling” sehingga akan timbul keharmonisan antara kedua belah pihak. Dan suami-istri adalah hubungan “saling” tersakral. 

Yuk simak… ^_^

Wanita membutuhkan perhatian, Pria membutuhkan kepercayaan

Perhatian yang sederhana tapi rutin dilakukan itu sangat bermakna bagi seorang wanita. Misalnya suami yang rajin berpamitan ketika berangkat pergi. Atau suami yang menelpon keadaannya saat bepergian beberapa hari. Itu sangat berarti. Itu membuat wanita tahu bahwa ia benar-benar ada dalam hati suaminya.

Continue reading

Advertisements

Dia Yang Menginspirasi…

Bukittinggi.

Banyak hal yang dapat ku ingat tentang kota itu. Kota dimana aku tinggal hampir 4 tahun. Ya, empat tahun. Mengenal adat budaya Ranah Minang, orang-orang Minang, bahasa Minang dan pria-pria Minang juga tentunya.

Pekerjaan adalah alasan utama kakiku bisa menjejak di Ranah itu, Ranah para orang berbudaya, Ranah para pujangga, sebut saja Taufik Ismail, Abdul Muis (si Penulis novel Salah Asuhan), Marah Rusli (sang creator Siti Nurbaya yang melegenda), Abdul Malik Karim Abdullah (lebih dikenal dengan nama penanya Hamka, penulis dibalik novel fenomenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk), dan lainnya yang lahir dan berasal dari wilayah Sumatera Barat ini. Wajarlah sepertinya jika ku sebut ini Ranah para Pujangga, yang namanya tetap fenomenal melegenda hingga era ini. Tak perlu pula ku tambahkan sang tokoh proklamator Indonesia, wakil presiden pertama – Mohammad Hatta – yang juga berasal asli dari kota Bukittinggi ini untuk menambah ke”sakral”an kota ini, sebab dengan sendirinya orang sudah tahu “Bukittinggi”.

Menariknya, tak seperti kota-kota lain yang pernah ku kunjungi, kota ini masih asri – sangat. Hawanya, lingkungan alamnya, tata kotanya, Jam Gadangnya. Tentu saja tak lepas, orang-orangnya.

Tapi kali ini aku tak ingin menceritakan tentang kota ini, tentang kawasan wisatanya ataupun tentang kultur budayanya. Yang ingin aku kisahkan…adalah tentang seseorang – dua orang tepatnya – yang hingga saat ini masih sangat aku kagumi perjuangannya, kesabarannya, keteguhannya, dan rasa syukurnya.

Tentang seorang wanita dan pasangannya, berusia beberapa tahun lebih tua dariku (untuk alasan kesopanan namanya ku samarkan menjadi Uni Melda). Nimel ini salah satu rekan kerjaku di kantor, lebih senior karena lebih dulu bergabung dengan perusahaan ini dibandingkan aku.

Continue reading

Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita

Barusan di salah satu social networking terbesar hingga saat ini, Facebook, aku menemukan video menarik oleh Ustadz Salim A Fillah. Videonya singkat, padat, namun sarat ilmu dan kaya makna. Berisi tentang perbedaan cara pandang wanita dan pria dalam menyelesaikan masalah…

Yuk disimak, video ini berjudul “Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita”

Di Video singkat itu, Ustadz SAF menjelaskan perbedaan pola tingkah laku dan cara berpikir wanita dan pria, yang dianalogikan langsung ke dalam peristiwa di rumah tangga.

Lelaki ketika sedang ditimpa masalah mereka akan cenderung menyendiri dan berusaha merumuskan solusi. Berbeda halnya dengan wanita yang jika terjadi masalah mereka berbicara untuk mencurahkan isi hatinya, mengurangi ketegangannya, ingin merasa dimengerti dipahami dan merasa tidak sendiri, jika perlu menangis sampai tuntas air matanya. Kedua perbedaaan ini akan menimbulkan masalah besar, jika tidak dipahami.

Beliau menggambarkan analogi sederhana, ketika suami pulang kerja di rumah dalam keadaan yang payah. Istri yang sebenarnya bermaksud baik, ingin mengurangi beban suami dengan mencoba mendengarkan cerita dan keluh kesahnya. Namun seperti yang sudah diduga, sang suami tetap bungkam karena tidak mau merepotkan istri, sementara istri menjadi salah paham mengira suami tak cukup percaya untuk jadi tempat curhatnya.

Continue reading