Dia Yang Menginspirasi…

Bukittinggi.

Banyak hal yang dapat ku ingat tentang kota itu. Kota dimana aku tinggal hampir 4 tahun. Ya, empat tahun. Mengenal adat budaya Ranah Minang, orang-orang Minang, bahasa Minang dan pria-pria Minang juga tentunya.

Pekerjaan adalah alasan utama kakiku bisa menjejak di Ranah itu, Ranah para orang berbudaya, Ranah para pujangga, sebut saja Taufik Ismail, Abdul Muis (si Penulis novel Salah Asuhan), Marah Rusli (sang creator Siti Nurbaya yang melegenda), Abdul Malik Karim Abdullah (lebih dikenal dengan nama penanya Hamka, penulis dibalik novel fenomenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk), dan lainnya yang lahir dan berasal dari wilayah Sumatera Barat ini. Wajarlah sepertinya jika ku sebut ini Ranah para Pujangga, yang namanya tetap fenomenal melegenda hingga era ini. Tak perlu pula ku tambahkan sang tokoh proklamator Indonesia, wakil presiden pertama – Mohammad Hatta – yang juga berasal asli dari kota Bukittinggi ini untuk menambah ke”sakral”an kota ini, sebab dengan sendirinya orang sudah tahu “Bukittinggi”.

Menariknya, tak seperti kota-kota lain yang pernah ku kunjungi, kota ini masih asri – sangat. Hawanya, lingkungan alamnya, tata kotanya, Jam Gadangnya. Tentu saja tak lepas, orang-orangnya.

Tapi kali ini aku tak ingin menceritakan tentang kota ini, tentang kawasan wisatanya ataupun tentang kultur budayanya. Yang ingin aku kisahkan…adalah tentang seseorang – dua orang tepatnya – yang hingga saat ini masih sangat aku kagumi perjuangannya, kesabarannya, keteguhannya, dan rasa syukurnya.

Tentang seorang wanita dan pasangannya, berusia beberapa tahun lebih tua dariku (untuk alasan kesopanan namanya ku samarkan menjadi Uni Melda). Nimel ini salah satu rekan kerjaku di kantor, lebih senior karena lebih dulu bergabung dengan perusahaan ini dibandingkan aku.

Continue reading

Beauty and the Beast – “Tale as Old as Time”

Sudah pada nonton Beauty and The Beast live action? Kalau sudah, gimana menurut kalian? Kalau belum, jangan khawatir, kali ini aku takkan spoiler.

Kali ini Disney menayangkan salah satu film “Princess series”, yaitu si cantik Belle dan Beast. Kisahnya sendiri, sama persis dengan versi animasi yang ditayangkan tahun 1991 lalu.

wp-1489937828428.jpg

Lagi-lagi, aku memilih menonton midnight. Sebab jam-jam sebelumnya, studionya penuh. Terpaksa ambil jam 22.10 malam di Blitz. Kebetulan CGV Blitz letaknya sebelahan dengan tempat tinggal, jadi rasanya tak masalah menonton selarut ini.

Film ini masih menonjolkan musikal, sebagai salah satu hal yang ikonik banget di film-film garapan Disney. Ku hitung, sekitar 10 lagu dinyanyikan sepanjang 120 menit durasi film.

Continue reading

Sekarang, Tidurlah Dulu…

Sekarang, tidurlah dulu. Percayalah suatu saat nanti, akan ada seseorang yang memberikan bahunya agar kamu bisa bersandar, lalu ia khusyuk mendengarkan ceritamu, tentang apa-apa saja yang kamu lakukan sepanjang siang tadi.

Sekarang, tidurlah dulu. Percayalah suatu saat nanti, akan ada sepasang telinga yang akan ikhlas mendengarkan keluh dan menguatkanmu, mendengarkan kesah dan menghapus laramu.

Sekarang, tidurlah dulu. Percayalah nanti di suatu pagi, akan ada yang akan membangunkanmu, dengan kecupan hangat dan tatap mesra. Mengucapkan selamat pagi sembari mendekapmu erat.

Continue reading

Next Read : Asiyah 

wp-image-1118933643jpg.jpg“Kok bukunya belum dibaca?”
“Kok coklatnya belum dimakan?”

Tanyanya setiap kali melihat buku yang dibelikannya itu masih tersusun rapi di rak berderetan dengan buku-bukuku lainnya. “Ngantri ya…ini aja belum selesai, maklum..sibuk.” Jawabku seraya nyengir lebar, feeling guilty sih. Tapi sesuai komitmenku ke diri sendiri, tak akan membaca buku lain sebelum The Girl on The Train itu selesai (sebab kalau sudah beralih ke buku lain, buku tersebut akan tertinggal, tak akan usai), dan karena TGoTT itu agak membosankan makanya durasi bacanya agak lama dan panjang. TGoTT telah selesai, buku inilah yang jadi the next one.

Lantas untuk urusan cokelat, hmm.. Sebenarnya agak sayang untuk dimakan. Nantilah. Biar saja dulu jadi pajangan. Sebab kalau sudah habis, tak ada lagi gantinya… 😁 Continue reading

Menyalur Hobi, Mengisi Kosongnya Waktu Luang

Sejak awal Januari, niat untuk mulai perbaikan pola hidup telah terencana cukup matang. Sayang, niat hanya sebatas niat yang kemudian berpledoi kesibukan kerja membuat seluruh rencana lenyap ke ruang antah berantah.

Menjelang pertengahan Januari niat itu muncul, dipicu oleh tetangga kost yang kedatangan ibundanya. Hampir tiap hari ku dengar sang bunda memasakkan makanan untuk anaknya yang akan pulang kerja. Niat yang semula sirna, perlahan-lahan kembali muncul seperti sedia kala. Siapa sangka, suara percikan air beradu dengan minyak panas di penggorengan bisa membuat saya begitu merindu rumah.

Niatan itu sederhana, memasak menu makanan sendiri seperti yang pernah ku lakukan di kota yang ku tinggali sebelumnya, Payakumbuh dan Bukittinggi. Kondisi perlengkapan memasak memang berbeda, jika sebelumnya di rumah kontrakanku dulu satu set kompor dan gas tabung 12 kg adalah hal mutlak. Sedang dikosan ku yang sekarang hanya ada kompor gas bertungku tunggal bertabung gas 220 gr. Sebab kebanyakan menu di Bukittinggi dan Payakumbuh, tak lain tak bukan adalah masakan Padang, dan hal itu memaksa aku dan teman serumah untuk memasak sendiri. Masakan Padang itu nikmat, tapi kalau tiap hari makan yang itu-itu saja, bosan juga. Terlebih untuk kami yang bercita rasa heterogen.

Di Batam, menu masakan beragam. Tinggal pilih mau makan dimana, pesan apa, sediakan uang, dan perutpun kenyang.

Continue reading