Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita

Barusan di salah satu social networking terbesar hingga saat ini, Facebook, aku menemukan video menarik oleh Ustadz Salim A Fillah. Videonya singkat, padat, namun sarat ilmu dan kaya makna. Berisi tentang perbedaan cara pandang wanita dan pria dalam menyelesaikan masalah…

Yuk disimak, video ini berjudul “Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita”

Di Video singkat itu, Ustadz SAF menjelaskan perbedaan pola tingkah laku dan cara berpikir wanita dan pria, yang dianalogikan langsung ke dalam peristiwa di rumah tangga.

Lelaki ketika sedang ditimpa masalah mereka akan cenderung menyendiri dan berusaha merumuskan solusi. Berbeda halnya dengan wanita yang jika terjadi masalah mereka berbicara untuk mencurahkan isi hatinya, mengurangi ketegangannya, ingin merasa dimengerti dipahami dan merasa tidak sendiri, jika perlu menangis sampai tuntas air matanya. Kedua perbedaaan ini akan menimbulkan masalah besar, jika tidak dipahami.

Beliau menggambarkan analogi sederhana, ketika suami pulang kerja di rumah dalam keadaan yang payah. Istri yang sebenarnya bermaksud baik, ingin mengurangi beban suami dengan mencoba mendengarkan cerita dan keluh kesahnya. Namun seperti yang sudah diduga, sang suami tetap bungkam karena tidak mau merepotkan istri, sementara istri menjadi salah paham mengira suami tak cukup percaya untuk jadi tempat curhatnya.

Continue reading

Beauty and the Beast – “Tale as Old as Time”

Sudah pada nonton Beauty and The Beast live action? Kalau sudah, gimana menurut kalian? Kalau belum, jangan khawatir, kali ini aku takkan spoiler.

Kali ini Disney menayangkan salah satu film “Princess series”, yaitu si cantik Belle dan Beast. Kisahnya sendiri, sama persis dengan versi animasi yang ditayangkan tahun 1991 lalu.

wp-1489937828428.jpg

Lagi-lagi, aku memilih menonton midnight. Sebab jam-jam sebelumnya, studionya penuh. Terpaksa ambil jam 22.10 malam di Blitz. Kebetulan CGV Blitz letaknya sebelahan dengan tempat tinggal, jadi rasanya tak masalah menonton selarut ini.

Film ini masih menonjolkan musikal, sebagai salah satu hal yang ikonik banget di film-film garapan Disney. Ku hitung, sekitar 10 lagu dinyanyikan sepanjang 120 menit durasi film.

Continue reading

La La Land, Cita – Perjuangan – Cinta

Weekend kemarin imlek, jadi sehabis acara imlek di tempat nasabah kali ini aku dan seorang rekan memutuskan untuk menonton film. Malam sebelumnya nonton Resident Evil, malam minggunya nonton La La Land.

La La Land, dari judulnya tentu sedikit banyak kita sudah menduga bahwa film ini bertemakan musikal. Benar saja, begitu menyaksikan adegan pertama, adegan kemacetan lalu lintas tiba-tiba saja di salah satu kendaraan yang terjebak macet seorang pengemudi bersenandung. Lambat laun musik ikut mengalir mengiringi, tak hanya itu…pengguna jalan lain yang tadinya juga ikut bermacet ria menyambung lagu menjadi harmoni. Persis film India. Itu pendapat pertamaku 5 menit awal filmnya tayang.

Film ini bercerita tentang seorang gadis muda, Mia Dolan (Emma Stone) bekerja sebagai barista di cafe yang bercita-cita menjadi seorang aktris. Berkali-kali ia mencoba ikut audisi namun kesempatan belum juga muncul.

Di sisi lain, seorang pemuda bernama Sebastian (Ryan Gosling) bekerja sebagai pianist di cafe. Sebenarnya dia terlalu berbakat untuk sekedar memainkan tuts piano mengikuti chords lagu-lagu sepele. Karena selalu berimprovisasi, akhirnya Seb dipecat.

Mia yang sedang gundah karena audisinya gagal melulu, suatu malam memutuskan mampir ke cafe karena tertarik dengan musik yang mengalun indah dari dalam. Inilah momen pertemuan pertama mereka. Malam itu tepat dimana Sebastian dipecat oleh atasannya.

Continue reading

Segenggam Rindu untuk Ayah

“Dimana, Nak? Kok belum pulang?” Sahutnya dari ujung telepon.
“Lagi di angkot, bentar lagi nyampe”, jawabku.
“Ohh..ya udah”.

Setiap kali terlambat pulang ke rumah, ayah atau ibu pasti menelpon memastikan keberadaanku. Itu dulu sewaktu masih kuliah dan tinggal bersama mereka. Sekarang ini, kalau ayah menelpon yang pertama ditanyakan adalah “Lagi dimana? Sibuk” yang kedua “Sehat?”. Selalu saja ada perhatian disetiap ucapannya.

Entah kenapa, belakangan ini aku lebih sering kepikiran ayah, pahadal hari ibu baru saja berlalu. Rindu ibu lebih mudah, tinggal angkat telpon dan bertanya hal remeh temeh. Semudah mengobrol “Lagi ngapain, Mak?” atau “Mamak masak apa?” atau hal-hal lainnya, semudah itu. Rindu ayah lebih susah. Kadang sedikit sekali topik yang bisa diobrolkan secara ringan. Menelpon ayah biasanya harus ada topik khusus. Kalau dipikir-pikir, aku lebih sering menelpon ibu – yang kemudian nantinya akan dioper juga ke ayah, dari pada langsung menelpon ke nomor Ayah.

Continue reading

Sekarang Mimpi, Besok Nyata. 

Sepertinya aku harus buat sub category baru di blog ini, Before Midnight. Sebab beberapa malam belakangan ini sedang banyak hal yang ingin dituliskan, dan saat yang paling pas buat nulis ya kayak gini…sebelum midnite.

Sesaat sebelum tidur memang adalah waktu yang cocok buat memikirkan berbagai ide-ide baru, pikiran dan cita-cita esok hari. Lagi pula, pas malam-malam gini biasanya suasana lagi enak buat diajak menghayal…

Masalahku adalah, kalau aku memikirkan terlalu banyak hal akan kesulitan tidur. Jadi dari pada dipendam, mending dituangkan ke dalam tulisan. Mudah-mudah yang saat ini cuma sekedar khayalan akan jadi nyata nanti..

Latar belakang masalahnya adalah Facebook. Jadi gini, singkat cerita kebiasaan sebelum tidur biasanya pegang-pegang smartphone dulu. Buka ini itu…salah satunya “memantau” isi timeline FB. Lantas ketemu deh hal ini, yang sudah aku impi-impikan sejak bertahun-tahun lalu. Dan sampai sekarangpun masih berharap semoga nanti di masa depan aku punya kemampuan untuk wujudkan itu.

Buku. Aku suka sekali itu. Suka. Sekali. Buku fisik, bukan e-book atau tulisan-tulisan digital. Tak ingat sejak kapan mulai naksir dengan buku-buku ini, mungkin dampak dari keisengan baca-baca buku gratisan di perpus SMP dulu. Menurutku pesona buku fisik belumlah tergantikan oleh kepraktisan e-book. Menyentuh dan memegang buku secara fisik itu…hmm..bagaimana menjelaskannya ya, mencium aroma kertasnya saja bikin senang. Belum lagi menyentuh tiap lembaran halaman, membolak-balik halaman per halaman, ditenteng sewaktu jalan, dipegang sewaktu duduk, dipeluk saat tidur #eehh😍. Sedangkan kalau e-book, yang kita pegang cuma gadget, too standard. Praktis memang, tapi dimana letak tantangannya??? 😛

Continue reading