Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita

Barusan di salah satu social networking terbesar hingga saat ini, Facebook, aku menemukan video menarik oleh Ustadz Salim A Fillah. Videonya singkat, padat, namun sarat ilmu dan kaya makna. Berisi tentang perbedaan cara pandang wanita dan pria dalam menyelesaikan masalah…

Yuk disimak, video ini berjudul “Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita”

Di Video singkat itu, Ustadz SAF menjelaskan perbedaan pola tingkah laku dan cara berpikir wanita dan pria, yang dianalogikan langsung ke dalam peristiwa di rumah tangga.

Lelaki ketika sedang ditimpa masalah mereka akan cenderung menyendiri dan berusaha merumuskan solusi. Berbeda halnya dengan wanita yang jika terjadi masalah mereka berbicara untuk mencurahkan isi hatinya, mengurangi ketegangannya, ingin merasa dimengerti dipahami dan merasa tidak sendiri, jika perlu menangis sampai tuntas air matanya. Kedua perbedaaan ini akan menimbulkan masalah besar, jika tidak dipahami.

Beliau menggambarkan analogi sederhana, ketika suami pulang kerja di rumah dalam keadaan yang payah. Istri yang sebenarnya bermaksud baik, ingin mengurangi beban suami dengan mencoba mendengarkan cerita dan keluh kesahnya. Namun seperti yang sudah diduga, sang suami tetap bungkam karena tidak mau merepotkan istri, sementara istri menjadi salah paham mengira suami tak cukup percaya untuk jadi tempat curhatnya.

Silakan lanjut menyaksikan videonya, benar-benar inspiratif…

Nah, sekarang aku kembalikan analogi-analogi tersebut ke diriku sendiri. Tiap manusia, memang berbeda cara mengelola emosi ketika ditimpa masalah, terutama wanita. Satu  wanita berbeda dengan wanita  lainnya, tak ada generalisasi yang benar-benar sempurna untuk menyimpulkannya.

Tak terkecuali aku.

Para pria mungkin berpikir, menangis tak pernah menyelesaikan persoalan. Sama, aku pun berpikir demikian. Air mata yang tumpah tak pernah menjadi solusi dari sebuah masalah. Lantas mengapa kami menangis? Untuk menumpahkan dengan mengurangi ketegangan. Dan ketika kami menangis, kami cuma butuh sedikit perhatian dan pengertian.

Kami, lebih memilih bercerita, mengungkapkan masalah kepada pasangannya, kepada teman dekatnya, kepada keluarganya, atau siapapun yang berkenan mendengar curhatnya. Dan aku sendiri, lebih senang menumpahkan masalahku ke dalam sebuah tulisan. Dan kalau tulisan tak mampu meredakan, aku akan langsung membahas masalah kepada Si pemilik segala persoalan.

Setiap ada masalah, aku lebih memilih membahas persoalan saat itu juga. Hadapi dan carikan solusi seketika itu, secepat-cepatnya tanpa perlu menunda-nunda. Karena menurut logikaku (IMHO) semakin cepat sebuah masalah diselesaikan, semakin cepat pula pikiran tenang. Menunda menyelesaikan masalah, hanya akan membuatnya semakin besar saja (lagi-lagi IMHO).

Misalnya jika bermasalah dengan pasangan atau teman, aku lebih memilih berdiskusi sesegera mungkin untuk mendapatkan solusi secepat mungkin. Aku lebih memilih bertanya apa ada yang salah, atau sebaliknya memberitahukan apa yang salah dengan sikapnya, setelah terjadi diskusi singkat maka segera solusi akan didapat. Begitulah aku, lebih memilih mengungkapkan dari pada diam seribu bahasa dan menunggu seseorang menebak jalan pikiran kita, that’s too lame.

Berbeda dengan orang lain, ada yang lebih memilih menyelesaikan masalahnya nanti, dan bisa saja terselesaikan sendiri seiring berjalannya waktu. Bukan bermaksud sengaja menunda, tapi biar lebih tenang katanya. Dengan demikian pikiran lebih ringan dan dingin, hati lebih tentram dan menurutnya lebih mudah mencari solusi terbaik.

Perbedaan kedua pola pikir ini, apabila tidak dipahami dengan baik dan tidak dicari jalan tengahnya, sudah dapat dipastikan komunikasi akan lebih sulit daripada biasa. Jangan salah, pasangan suami istri yang bertahan dalam sebuah pernikahan berpuluh-puluh tahun itu bukannya tidak pernah ditimpa masalah. Mereka bertengkar, berdebat, tapi kemudian bersama mencari solusi. Menyalahkan diri sendiri, menyalahkan pihak lain, akan menyebakan keretakan sebuah tembok yang bernama hubungan.

Hubungan mereka itu, bertahan bukan hanya karena rasa cinta. Sebab rasa cinta itu fluktuatif, hari ini bisa jadi kita sebegitu sayangnya pada seseorang. Esok bisa jadi cuek dan bersikap dingin satu sama lain. Hubungan itu bertahan karena komitmen. Komitmen untuk terus bersama, serius mempertahankan hubungan, serius terus menatap ke depan seraya saling menjaga dan peduli satu sama lain, menjaga diri dan menjaga hati.  Kelanggengan hubungan itu berawal dari komunikasi.

Sebab, dengan komunikasi yang tepat… yang awalnya hanya ada aku, hanya ada kamu, akan menjadi kita. Masa lalu aku, masa lalu kamu, kelak akan menjadi masa depan kita. Masalahku, masalah kamu, akan menjadi masalah kita untuk diselesaikan bersama.

#Inspired By Salim A Fillah

Batam

23.40 WIB

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s