Beauty and the Beast – “Tale as Old as Time”

Sudah pada nonton Beauty and The Beast live action? Kalau sudah, gimana menurut kalian? Kalau belum, jangan khawatir, kali ini aku takkan spoiler.

Kali ini Disney menayangkan salah satu film “Princess series”, yaitu si cantik Belle dan Beast. Kisahnya sendiri, sama persis dengan versi animasi yang ditayangkan tahun 1991 lalu.

wp-1489937828428.jpg

Lagi-lagi, aku memilih menonton midnight. Sebab jam-jam sebelumnya, studionya penuh. Terpaksa ambil jam 22.10 malam di Blitz. Kebetulan CGV Blitz letaknya sebelahan dengan tempat tinggal, jadi rasanya tak masalah menonton selarut ini.

Film ini masih menonjolkan musikal, sebagai salah satu hal yang ikonik banget di film-film garapan Disney. Ku hitung, sekitar 10 lagu dinyanyikan sepanjang 120 menit durasi film.

I’ve been waiting for months. So, waktu rekan yang selalu menemaniku menonton mengajak nonton film lain, dengan berat hati aku menolak dan dengan sedikit bujukan akhirnya diapun rela menemani. Hahahaha.. ^_^

Tanggapanku tentang film ini, well…tak ada hal-hal yang baru. Hanya saja, di sini diceritakan kenapa pangeran memiliki sifat kasar dan sombong, juga diceritakan apa yang terjadi dengan ibu Belle. Selama ini, tokoh-tokoh kartun Disney dikenal memang tak punya ibu. Dan di versi live action, Belle akhirnya tahu apa yang terjadi dengan ibunya berkat buku yang ditinggalkan oleh Enchanters (penyihir).

Emma Watsonnya cantikkkk banget di film ini. Dulu, sewaktu Emma berperan sebagai Hermione di Harry Potter, momennya yang paling cantik adalah di Goblet of Fire (seri ke empat), ketika diadakan pesta dansa dan Hermione turun dari tangga mengenakan gaun pink dan telah ada pria yang menunggunya di lantai dansa, Krum. Ingat kan? Nah, di film ini….Emma kelihatan jauh lebih cantik. Make up nya, gaunnya, tatanan rambutnya, aku suka.

Simple but lovely.

Kesan cerdas yang melekat sewaktu memerankan Hermione masih tetap melekat di Belle, sebab seperti yang kita tahu, Belle sendiri adalah kutu buku dan di filmnya bahkan Belle menciptakan mesin cuci manual yang ditarik oleh keledai.

Kastilnya, kurang lebih sama dengan animasi. Detail-detailnya tentu dipoles dengan CGI, dan grafisnya juga oke. Dan setiap helaian kelopak bunga mawarnya jatuh, kastilpun perlahan runtuh memberikan kesan bahwa mawar itu tak sekedar batas waktu untuk perubahan beast tapi juga akhir dari keberadaan kastil itu sendiri.

Yang paling aku suka di film ini, lelucon-leluconnya. Cukup banyak lelucon yang diselipkan sepanjang film yang membuat tawa seisi bioskop pecah. Ledekan-ledekan yang dilemparkan Belle kepada Beast, dan bagaimana sikap Beast yang sok gengsian dan ngambekan. Hahahah.. lucu juga. Membuat suasana fresh, dan durasi sekitar 120 menitpun tak terasa.

Berkali-kali aku lihat rekan di sebelahku. Awalnya ku pikir dia bakal ngantuk ataupun bosan, karena film-film begini sama sekali bukan tipenya. Not his kind of movies. Tapi, nyatanya dia anteng-anteng aja tuh, bahkan sesekali ikut tertawa. Nontonnya serius banget, mungkin serius ngeliatin Bellenya. Wkwkwkkw..

Btw, tentang kontroversial gay scene dalam film ini. Tak begitu kentara kok, cuma sekedar pelukan sahabat antara dua orang pria. Itu menurutku ya. Tak ada kesan sensual ataupun menjurus saat adegan itu (setahuku di Indonesia no cut, jadi anggaplah yang tadi malam aku tonton full version ya).

Tapi sejujurnya ada yang kurang, Prince Charming-nya kurang charming. Kurang ganteng. Dan Steven kurang kharismatik untuk jadi pangeran. Waktu jadi Beast, okelah..

Overall, film ini oke. Kalau ada yang ngajak untuk nonton lagi, aku mau. ^_^

Yuk nonton…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s