Resensi #8 : The Girl On The Train by Paula Hawkins

Judul                    : The Girl On The Train
Pengarang         : Paula Hawkins
Genre                  : Thriller, Drama
Halaman            : 431
Penerbit             : Noura Books

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Di pinggir London, keretanya akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas. Tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan yang tampak bahagia, bahkan nyaris sempurna. Pemandangan ini mengingatkan Rachel pada kehidupannya sendiri yang sebelumnya sempurna.

Pada suatu pagi, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah.

Finally, setelah sekian lama akhirnya novel ini selesai dibaca. Wuih, senang karena akhirnya bisa memenuhi janji ke diri sendiri dan bukti kalau rasa jenuh itu bisa diatasi, tergantung kontrol diri saja.

Penilaianku sejak awal hingga akhirnya selesai melahap seluruh isi buku, tetap sama. Dengan berat hati, terpaksa nilai terendah harus dilekatkan. Bukannya tanpa alasan, dari sisi cerita endingnya bisa tertebak oleh pembaca. Ya, awalnya pembaca akan dibuat bingung siapa pelakunya tapi tetap saja tertebak.

Kedua, dari sisi pengungkapan misteri. Rachel adalah satu-satunya saksi kunci namun awalnya dia lupa seluruh peristiwa, namun secara “cring cring” seketika ia bisa ingat seluruh hal yang dilupakannya dalam sekejap saja. Agak kurang masuk akal, menurutku sih.

Ketiga, dari sisi narasi. Pawla Hawkins jelas-jelas bukan penulis tipeku. Lebih banyak menjelaskan hal-hal yang tak perlu, dan meringkas hal-hal yang sebenarnya menarik. Misalnya “aku menangis, aku terjatuh menapaki tangga, aku sedih”. Pengungkapan perasaan tokoh utama secara gamblang seperti itu menghilangkan tantangan pembaca untuk membayangkan seperti apa perasaan dan peristiwa yang menimpa si tokoh utama.

Ke empat, menurutku tak ada satupun tokoh di novel ini yang bisa dijadikan idola ataupun disukai pembaca. Rachel, si tokoh utama yang depresi dan pemabuk, pembohong, dan tak bisa lepas dari alkohol. Alkohol pula yang menyebabkannya kehilangan pekerjaan. Scott, pria yang awalnya terlihat begitu romantis dan penyayang dirusak Hawkins menjadi seorang pria pemarah dan kasar. Anna, Tom dan lainnya juga serupa. Anna, wanita yang merebut suami Rachel dan hidup senantiasa dalam kekhawatiran, dan Tom si suami yang awalnya terlihat sebagai korban dari depresi Rachel mendadak berubah menjadi pria pembohong dan kasar. Minim sekali adegan-adegan yang “memorize”, yang menarik dan dikenang pembaca. By the way, ini murni pendapatku pribadi. Jikalau pembaca lain beranggapan berbeda, sah-sah saja.

Ringkasan Cerita

Cerita digambarkan bergantian dari tiga tokoh wanita, Rachel, Megan dan Anna. Dimulai dari Rachel yang setiap hari menaiki komuter menuju London tempatnya bekerja. Pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya, kereta selalu berhenti di perlintasan tepat di depan rumah nomor lima belas. Setiap paginya, Rachel selalu melihat sepasang suami-istri di rumah tersebut, begitu bahagia, begitu romantis, bercanda tawa, seperti kehidupannya dahulu. Sebab ia dahulu tinggal di rumah nomor 23, tak jauh dari sana. Saking seringnya melihat sepasang suami istri itu, Rachel bahkan menamai mereka Jess dan Jason. Melihat Jess dan Jason begitu mesra, Rachel sering menghayalkan kehidupannya bersama Tom dulu sebelum mereka berpisah. Di gerbong itulah, Rachel masih membayangkan seandainya dirinya dan Tom masih bersama, kemana mereka akan liburan, apa yang akan mereka lakukan, dan lainnya. Tapi kini tak bisa, Tom telah bersama Anna. Wanita yang membuatnya bahagia dan memberinya anak.

Pagi itu, Rachel yang dalam keadaan mabuk (Rachel memang alkoholik, depresi karena dirinya dan Tom belum juga memiliki anak, dan akhirnya Tom memilih pergi darinya sebab tak tahan akan kecanduan alkohol yang diderita Rachel) dipecat dari pekerjaan. Lagi-lagi karena alkohol, Rachel didapati tengah mabuk saat tiba dikantor menjadikan atasannya begitu murka dan seketika itu juga memecatnya.

Tak hanya itu Rachel yang hidup menumpang di rumah temannya – Cathy – terpaksa harus berbohong kepada Cathy bahwa dirinya masih bekerja dan setiap hari tetap menaiki kereta ke London, setiap hari.

Berpisah dari Tom, tak lantas membuat Rachel melupakan mantan suaminya itu. Secara rutin, Rachel mengirimi Tom email, surat, pesan telepon, menelpon ke rumah dan sebagainya untuk menarik perhatian pria itu kembali. Hal ini membuat Anna (istri baru Tom) geram dan takut akan kehadiran Rachel. Terror itu terus menerus dilakukan Rachel terutama saat dirinya kehilangan kesadaran pasca minum-minum. Perhatiannya terhadap Tom masih begitu besar, entah cinta entah obsesi.

Hingga suatu malam, Rachel yang lagi-lagi sedang mabuk bermaksud mendatangi rumah Tom (rumah lama mereka) untuk bertemu. Namun saat turun dari kereta Rachel berjalan ke arah terowongan dan kehilangan kesadaran. Pagi harinya saat terjaga, dia mendapati kepalanya terluka dan darahnya menetes dimana-mana.

Tak lama kemudian tersiar kabar bahwa wanita bernama Megan menghilang. Wanita cantik berambut pirang yang tinggal di rumah nomor 15 (wanita yang dinamai Jess oleh Rachel). Malam menghilangnya Megan, adalah malam saat Rachel terdampar di terowongan. Dengan kata lain, dirinya adalah saksi mata atas kejadian yang menimpa Megan malam itu.

Rachel menawarkan diri menjadi saksi, karena dirinya ada di TKP malam itu. Dan kemungkinan bisa jadi dirinya melihat Megan. Namun karena alkoholik, kesaksian Rachel tak dipercaya begitu saja oleh penyelidik.

Keinginan untuk mengungkapkan misteri muncul dalam diri Rachel, akhirnya iapun berkenalan dengan Scott (Jason) suami Megan. Kepada Scott ia bercerita bahwa dirinya adalah teman Megan dan mengatakan bahwa suatu pagi dirinya pernah melihat Megan bersama pria lain, yang kemudian diketahui bernama Kamal Abdic psikiater Megan. Kecurigaan kemudian mengarah kepada Abdic, namun tak terbukti.

Setelah berhari-hari, jasad Megan ditemukan dihutan tak jauh dari rel kereta. Jelaslah sudah bahwa Megan dibunuh malam itu. Rachel berusaha mengingat-ingat memorinya yang hilang saat malam kejadian, berusaha mengingat apa dan siapa yang ditemuinya malam itu. Untuk membantunya mengingat, Rachel mencoba menghubungi Tom dan bertanya apa mungkin ia lakukan malam itu, apakah dirinya bertemu dengan Tom atau tidak. Tom pun menjelaskan bahwa Rachel malam itu marah-marah dan mencoba masuk rumahnya, kemudian setelahnya pergi entah kemana.

Megan diketahui pernah bekerja di rumah Tom dan Anna sebagai pengasuh bayi mereka, dan lambat laun kisah-kisah kehidupan pribadi Megan masa lalu pun terkuak, Megan sebelumnya pernah punya anak dan tak sengaja membunuh anak itu. Berita ini begitu mengejutkan bagi Scott, ia sama sekali tak tahu Megan pernah punya anak sebelum menikah dengannya. Bahkan ia akui, dirinya sangat menginginkan kehadiran seorang anak.

Setelah autopsi, diketahui bahwa Megan sedang hamil saat meninggal. Dan bayi yang dikandungnya bukanlah bayi Scott ataupun Abdic, ada pria lain. Sosok Megan yang selama ini dikagumi oleh Rachel sirna. Tak disangka ternyata Megan menjalin affair, padahal memiliki suami sempurna.

Singkat cerita, Rachel mencoba berteman dengan Scott dan Abdic demi mengungkap misteri yang melingkupi mereka, apalagi laporan perkembangan kasus dari kepolisian sama sekali nihil. Saat bertemu dengan Abdic, Rachel tahu bukan dia pembunuhnya karena Psikiater itu terlihat begitu lembut dan tak akan sanggup membunuh. Sedangkan Scott, awalnya pria itu baik namun berubah kasar bagitu tahu bahwa istrinya berselingkuh, bahkan dipertemuan terakhir antara Rachel dan Scott berakhir dengan luka pada tubuh Rachel. Penilaian Rachel terhadap pria itu pun berubah.

Walaupun Scott berubah kasar, namun pembaca tahu bukanlah dia pembunuhnya. Saat bagian inilah aku tahu siapa kira-kira pembunuhnya. Ketebak.

Misteri makin terkuak, Anna kemudian menemukan ponsel asing di tas suaminya, Tom. Ponsel itu ternyata milik Megan. Rachel pun kemudian ingat kejadian malam itu, ia bertemu dengan Tom yang berjalan dengan seorang perempuan, Megan.

Bermaksud konfirmasi, Rachel kembali datang ke rumah Tom dan mendapati Anna sedang ada di rumah. Keduanya kemudian bercerita tentang Tom, tipuan dan kebohongan yang Tom rekayasa selama ini. Tom pulang, mendapati Rachel sedang berusaha menelpon polisi dan akhirnya mengamuk. Memukul, menendang, dan menghantam kepala Rachel. Pada suatu kesempatan, Rachel dapat membela diri dan dengan bantuannya Anna akhirnya Tom tumbang.

Pada saat polisi datang dan melihat jasad Tom tergelatak, kedua wanita tersebut mengaku bahwa Rachel mencoba melindungi diri dan Anna mencoba menghentikan pendarahan pada luka-luka Tom. Padahal Anna lah yang membantu memperdalam luka yang disebabkan tusukan pembuka botol itu…

Pada akhirnya, diceritakan kalau Anna dan Rachel saling memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, namun tidak diterangkan apakah Polisi akhirnya mengetahui siapa pembunuh Megan. Jadi, menurutku sampai akhir polisi tak tahu bahwa Tom pelakunya, cuma tertulis “banyak berita tentang Tom di koran-koran”. Itu saja.

Silakan kalian baca sendiri ya, mungkin ada pendapat lain…

^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s