Menyalur Hobi, Mengisi Kosongnya Waktu Luang

Sejak awal Januari, niat untuk mulai perbaikan pola hidup telah terencana cukup matang. Sayang, niat hanya sebatas niat yang kemudian berpledoi kesibukan kerja membuat seluruh rencana lenyap ke ruang antah berantah.

Menjelang pertengahan Januari niat itu muncul, dipicu oleh tetangga kost yang kedatangan ibundanya. Hampir tiap hari ku dengar sang bunda memasakkan makanan untuk anaknya yang akan pulang kerja. Niat yang semula sirna, perlahan-lahan kembali muncul seperti sedia kala. Siapa sangka, suara percikan air beradu dengan minyak panas di penggorengan bisa membuat saya begitu merindu rumah.

Niatan itu sederhana, memasak menu makanan sendiri seperti yang pernah ku lakukan di kota yang ku tinggali sebelumnya, Payakumbuh dan Bukittinggi. Kondisi perlengkapan memasak memang berbeda, jika sebelumnya di rumah kontrakanku dulu satu set kompor dan gas tabung 12 kg adalah hal mutlak. Sedang dikosan ku yang sekarang hanya ada kompor gas bertungku tunggal bertabung gas 220 gr. Sebab kebanyakan menu di Bukittinggi dan Payakumbuh, tak lain tak bukan adalah masakan Padang, dan hal itu memaksa aku dan teman serumah untuk memasak sendiri. Masakan Padang itu nikmat, tapi kalau tiap hari makan yang itu-itu saja, bosan juga. Terlebih untuk kami yang bercita rasa heterogen.

Di Batam, menu masakan beragam. Tinggal pilih mau makan dimana, pesan apa, sediakan uang, dan perutpun kenyang.

Ada alasan lain di balik niat masak memasak ini. Pertama karena sejak dekat dengan orang yang begitu peduli dengan kolesterol, garam dan penyedap rasa, lama-lama pandangan ku mengenai makanan juga turut berubah. Yang tadinya hanya dua “enak dan halal” menjadi “sehat, enak dan halal”. Beli makanan di luar bisa enak dan halal, tapi sehat belum tentu. Jadi jika bisa masak sendiri, kenapa tidak? Lebih sehat, mudah-mudahan lebih enak, dan insya Allah halal. Sekalian hitung-hitung pelampiasan kreativitas yang kelamaan beku di kepala.

Tantangan jelas ada, aku yang selama ini terbiasa berbelanja di supermarket agak kelabakan mencari pasar tradisional terdekat. Di Supermarket memang lebih simpel, mudah, nyaman. Tapi umumnya sayurannya kalah segar dibanding pasar dan bumbu-bumbu printilan juga tak lengkap. Sebut saja ketumbar, kemiri, jintan, kapulaga, pala, bunga lawang, dll, tak ada di supermarket. Bumbu yang bisa dijumpa di deretan rak-rak supermaket¬†sudah melebur seluruhnya menjadi “penyedap rasa”.

Susah dan hampir kepayahan teman menjelaskan arah menuju pasar tradisional. Beliau ingin mengantarkan tapi aku menolak, mau sampai kapan terus-terus bergantung pada orang lain? Kalau tak dicoba sendiri, kapan bisa mandiri? Akhirnya bermodal niat kuat namun nekad dan pengetahuan terhadap jalan yang pas-pasan, sampai juga di pasar Jodoh. Dinamai pasar Jodoh karena memang letaknya di Sei Jodoh, tak tahu apa mungkin penamaan jodoh ada asal muasalnya, entahlah…

Jalan menuju pasar agak padat, karena melewati jalan tikus yang dipagari oleh pedagang kaki lima menjajakan berbagai jenis produk, mulai dari baru hingga bekas. Dengan sedikit perjuangan dibalut kesabaran, tiba juga ditempat yang dituju.

wp-image-409057762jpg.jpgSesampainya di tengah perkumpulan pedagang yang menjajakan bahan-bahan segar, membuat agak sedikit kalap. Cabai merah dan hijau, bawang, tomat, kentang dll langsung dibeli seketika padahal menu yang ada di kepala saat itu sama sekali tak melibatkan tomat, kentang, terlalu banyak cabai ataupun bawang. Semakin masuk lebih dalam, menu yang tadinya sudah disusun dari rumah mendadak buyar terganti oleh menu baru akibat tertarik pada ikan segar yang bergelimpangan, padahal tadinya berencana mengolah ayam-ayaman. Sudah tak apalah, namanya juga improvisasi, sah-sah saja. Ya kan?

Membeli langsung ke pasar membuat aku sejenak bersyukur sejak kecil aku tak asing dengan ikan-ikan mentah, didikan dari profesi orang tua. Karena demikian, aku bisa membedakan mana yang segar mana yang telah dibekukan. Tangan hampir tak muat, setelah ku ingat lagi bahan-bahan yang kubutuhkan akupun memutuskan pulang.

Prosesi masak memasak pun dimulai. Tibalah saatnya membiarkan ikan berenang dikumpulan minyak goreng, cesssss…. suaranya….membuat rindu rumah sesaat terobati. Rindu ketika melihat ibu memasak untuk kami, rindu obrolan ringan saat kami berdua berkolaborasi mencipta kreasi masakan kala itu.

Suara rintik hujan mungkin menggodamu kembali ke masa lalu. Tapi suara percik air di minyak mengingatkanku akan rumah, sesederhana itu.

Beberapa saat setelahnya masakan telah siap tersedia. Satu hal yang pernah ku tahu, seenak apapun masakannya jika dimakan sendiri, akan terasa nelangsa. Untung saja, selalu ada rekan yang bersedia mencicipi kreasi amatir ala saya.

Masak-memasak baru bisa aku lakukan tiap weekend, karena disitulah waktu luang terbanyak. Sempat untuk berkreasi dan mencari referensi sana sini. Sudah beberapa pekan terakhir selalu memasak, insya Allah tetap konsisten. Demi masa depan yang lebih sehat, lebih hemat, plus lebih bisa menata waktu mengisi kekosongan di waktu luang.

“Enak”, katanya.

Itu saja sudah cukup membuat hariku sempurna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s