La La Land, Cita – Perjuangan – Cinta

Weekend kemarin imlek, jadi sehabis acara imlek di tempat nasabah kali ini aku dan seorang rekan memutuskan untuk menonton film. Malam sebelumnya nonton Resident Evil, malam minggunya nonton La La Land.

La La Land, dari judulnya tentu sedikit banyak kita sudah menduga bahwa film ini bertemakan musikal. Benar saja, begitu menyaksikan adegan pertama, adegan kemacetan lalu lintas tiba-tiba saja di salah satu kendaraan yang terjebak macet seorang pengemudi bersenandung. Lambat laun musik ikut mengalir mengiringi, tak hanya itu…pengguna jalan lain yang tadinya juga ikut bermacet ria menyambung lagu menjadi harmoni. Persis film India. Itu pendapat pertamaku 5 menit awal filmnya tayang.

Film ini bercerita tentang seorang gadis muda, Mia Dolan (Emma Stone) bekerja sebagai barista di cafe yang bercita-cita menjadi seorang aktris. Berkali-kali ia mencoba ikut audisi namun kesempatan belum juga muncul.

Di sisi lain, seorang pemuda bernama Sebastian (Ryan Gosling) bekerja sebagai pianist di cafe. Sebenarnya dia terlalu berbakat untuk sekedar memainkan tuts piano mengikuti chords lagu-lagu sepele. Karena selalu berimprovisasi, akhirnya Seb dipecat.

Mia yang sedang gundah karena audisinya gagal melulu, suatu malam memutuskan mampir ke cafe karena tertarik dengan musik yang mengalun indah dari dalam. Inilah momen pertemuan pertama mereka. Malam itu tepat dimana Sebastian dipecat oleh atasannya.

Demi mempersingkat cerita, Mia kembali bertemu dengan Seb disebuah pool party. Ketika itu, Seb yang telah kehilangan pekerjaan bergabung dengan band amatir yang bertugas memeriahkan pesta. Dengan sengaja Mia merequest lagu yang menurut Seb sangat tidak menghargainya sebagai musisi.

Lagi-lagi, pertemuan mereka diakhiri dengan nyanyian dan tarian. Mirip-mirip India, tapi bedanya…mereka berdansa, romantis.

Keduanya jatuh cinta, dan saling bercerita tentang mimpi masing-masing. Mia yang berkeinginan menjadi aktris panggung Hollywood dan Seb yang ingin membuka cafe Pure Jazznya sendiri. Mimpi yang saat ini terlalu jauh untuk digapai keduanya.

Dukungan demi dukungan tak hentinya mereka lakukan untuk pasangan. Hingga suatu hari Seb yang belum juga menemukan pekerjaan tetap memutuskan untuk bergabung dengan band temannya, Keith (John Legend). Beda dengan band sebelumnya, band ini lebih ternama dan bahkan sukses di pasaran. Suatu ketika Mia melihat Seb manggung dan tercengang karena musik yang dimainkan Sebastian jauh berbeda dengan apa yang dicitakannya dulu. Musik yang dimainkannya saat ini bukan lagi pure -murni- tapi telah terkontaminasi alat musik buatan.

Merasa Sebastian telah melenceng dari impiannya, Mia mengingatkan kembali tentang mimpi yang sedang mereka rencanakan. Cafe musik Jazz dan aktris Hollywood. Tak ambil pusing dengan ucapan Mia, Seb memutuskan untuk ikut tour band selama beberapa saat.

Inilah awal keretakan keduanya. Mimpi mereka mulai tak sejalan…

Puncak pertengkarang terjadi ketika kemudian Monolog Drama yang dimainkan Mia di sebuah teather mungil sepi pengunjung. Hanya beberapa orang saja yang menyaksikan, dan terlebih Seb tak datang sebab memilih photoshoot bersama rekan bandnya.

Di ambang kehancuran mimpinya, Mia pulang ke kampung halaman.

Seb kemudian menyusul ke kota asal Mia, mengabarkan bahwa Mia diundang casting oleh sutradara ternama yang kebetulan melihat aksi panggung Mia ketika itu. Dengan susah payah, Seb akhirnya berhasil membujuk Mia untuk ikut.

Berbeda dengan audisi sebelumnya, audisi kali ini Mia tuntaskan maksimal dengan sebuah nyanyian, lagi. Ketika selesai audisi, mereka berdua berbincang serius. Di hasil perbincangan diceritakan bahwa Seb akan ikut tour band beberap lama, mungkin setahun atau 2 tahun dan seterusnya.

Disinilah perjalanan mereka berpisah, ketika mimpi mereka berbeda arah…

5 tahun kemudian…

Mia telah menjadi aktris sukses, namanya menghiasi berbagai Teather dikota. Ketika Mia tiba dirumah, penonton dikejutkan dengan kehadiran putri kecil dan seorang pria yang disebut suami oleh Mia. Dan pria itu bukan Sebastian.

Suatu malam, Mia dan suaminya memutuskan untuk makan malam disuatu cafe demi menghindari macet dan tak disangka, cafe yang mereka masuki adalah cafe Sebastian. Terlihat persis seperti yang pernah dirancang Mia dan Seb ketika dulu bersama.

Yang agak nyesek adalah adegan berandai-andai di akhir film ini. Penonton dibuat lena sesaat, andai saja Mia dan Seb tak berpisah waktu itu… Andai saja yang saat ini duduk di sebelah Mia adalah Seb, bukan pria lain. Tapi apa daya, masa lalu tak bisa diubah. Kini Seb dan Mia hanya sekedar orang asing yang pernah terikat di masa lalu…

Mia dan Seb akhirnya berpisah kembali, setelah menyunggingkan seulas senyum perpisahan…

Berjuang bersama-sama, belum tentu berakhir hidup bersama…mungkin itu pesan yang ingin disampaikan film ini.

Well, beberapa pendapat pribadi setelah menonton film ini…

Jangan percaya imdb, di imdb rating La La Land 8,6. Dahsyat kan… Tapi over all filmnya membosankan.

Tak kurang dari 8 lagu dinyanyikan sepanjang film. Benar-benar terbayang seolah film India lengkap dengan tari-tarian. Beberapa kali aku mikir, ini film Disney atau Summit? Kalau Disney yang begini agak wajar..

Bagi yang tak terlalu hobi musik jazz, seperti saya. Film ini cukup ditonton sekali saja. Tak ada niatan nonton kedua kalinya bahkan kalau tayang di tv sekalipun.

Nilai plus film ini adalah dansanya. Mia dan Sebastian di beberapa kesempatan selalu berdansa berdua, apik, keren, romantis. Serasa dansa-dansa ala cinderella tapi dikemas modern.

Tapi kabar-kabarnya film ini banyak masuk nominasi loh, mungkin menang juga? Entahlah. Tapi yang jelas film ini tak masuk salah satu favoritku. Padahal sebelum nonton ekspektasi begitu tinggi karena menurut review filmnya bagus, ada yang bilang baper, rating imdbnya juga ciamik..siapa yang sangka bakal begini.

Dan lucunya, ketika film usai dan penonton bergegas keluar ruangan cinema, seorang bapak berseru “terus..inti filmnya apa???” akupun tersenyum dalam hati, pengen bilang “sama pak, sayapun hampir bingung”

Rekan nonton pun mengaku kebosanan dan bahkan sempat tertidur ditengah-tengah film. Hahaha..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s