Menyelami Pesona Bahari Pulau Abang

Tahun baru 2016 lalu, berkemah di Pantai Ilruz Padang. Tahun ini, aku memilih wisata bahari di Pulau Abang, Kepri.

Enaknya mulai cerita dari mana ya? Hmm…

Sudah sejak lama ingin sekali berkunjung ke Pulau Abang, dan memang menjadi salah satu wishlist ku sebelum berangkat dari Batam (kalau-kalau pindah) seperti tulisanku sebelumnya. Nah, bulan Desember banyak sekali libur 3 hari berturut-turut, misalnya pada saat libur Maulid Nabi (12 Desember), cuti bersama Natal (26 Desember) dan cuti bersama Tahun Baru (2 Januari).

Tak ingin tanggal merah berlalu sia-sia, harus ada ide jalan-jalan kemana aja. Awalnya rekan seperjalanan ingin mengajak ke luar negeri entah Singapore atau ke Johor. Tapi berhubung pasporku belum diperpanjang maka mau tak mau alternatif yang tersisa hanya liburan lokal saja.

Setelah searching dan diskusi yang cukup panjang dengan rekan, akhirnya diputuskan bahwa kami akan snorkeling di Pulau Abang.

Kami bergabung dengan open trip yang diselenggarakan oleh tim Galang Bahari Batam pada tanggal 1 Januari 2017. Biayanya cukup murah untuk ukuran wisata hoping island dan snorkeling. Sebab sebelumnya pernah snorkeling di salah satu negara tetangga dan biaya bisa 3 hingga 4 kali lipat daripada di sini.

Para peserta telah dikonfirmasi untuk berkumpul di Kepri Mall pada pukul 7.30 pagi. Dan sejak jam 7 kurang aku sudah ready menunggu rekan yang belum kelar dandan. Hahaha (dia dandannya lamaaa.. -_-“) Akhirnya pada pukul 7.05 barulah kami berangkat menuju Kepri Mall.

Syukurlah, kami tidak terlambat -sebab telah ada pemberitahuan jika terlambat akan ditinggalkan oleh bus jemputan- bahkan sempat membeli roti untuk dimakan di bus nanti. Para peserta lainnya juga telah berkumpul dan tepat pukul 07.30 bus berangkat meninggalkan lokasi menuju jembatan 6.

Perjalanan panjang selama lebih kurang 90 menit di bus seolah tak terasa karena kami menghabiskan waktu dengan mengobrol ria sambil melihat pemandangan alam yang terhampar di luar jendela.

Setelah sampai di jembatan 6 bus berbelok ke kanan, tepatnya ke lokasi sebuah dermaga sederhana tempat kami semua memulai perjalanan. Tapi sayangnya aku tak terlalu memperhatikan tanda belokan, tau-tau sudah berbelok saja.

Ternyata peserta yang ikut pada trip kali ini jumlahnya cukup banyak, lebih dari 30 orang termasuk peserta yang satu bus dengan kami. Ada rombongan keluarga, rekan-rekan kerja, dll. Total dibutuhkan 2 unit kapal untuk mengangkut seluruh peserta.

Kapal pertama diisi, setelah kami semua duduk dengan rapi kemudian kapal berangkat menuju ke suatu lokasi dan kapal kedua menyusul tak lama setelahnya. Pemberhentian pertama adalah rumah singgah Galang Bahari Batam. Letaknya sekitar 10 – 15 menit naik kapal dari dermaga tadi. Rumah tersebut berupa rumah panggung yang pondasinya terpancang di atas permukaan air laut. Di lokasi ini, kami diperkenankan berganti pakaian untuk berenang dan mengenakan life jacket (pelampung).

Setelah seluruh peserta bersiap mengenakan pakaian dan pelampung, kami diminta berkumpul untuk briefing keselamatan. Beberapa pesan dari panitia antara lain:

  • Dilarang membuang sampah di laut dan pulau. Pihak panitia telah menyediakan kantong sampah dan jika terpaksa dapat mengumpulkan sampah botol minum kemasan di kapal.
  • Dilarang menginjak atau menyentuh terumbu karang. Sebab terumbu karang mudah sekali patah.
  • Beware terhadap bulu babi yang banyak terdapat di dasar laut. Sebagai pengaman, kami akan diberikan sepatu karet untuk menghindari tusukan duri bulu babi tersebut.
  • Jika tidak bisa berenang, akan ada diver guide yang akan mengawasi.

Briefing selesai, dan sebentar lagi kami berangkat. Namun sebelum itu, panitia mengabadikan momen-momen sebelum keberangkatan dengan mengambil beberapa foto dari masing-masing rombongan, termasuk kami.

Laut terhampar dari ujung ke ujung, kadang di salah satu sisi samudra terlihat pulau nun jauh di sana. Memang banyak pulau di gugusan Pulau Galang ini, dan kebanyakan masih belum bisa didatangi. Langit biru terhampar di atas, laut biru membentang di bawah. Garis batas antara langit dan samudera menjadi pemandangan luar biasa pagi itu.

Jumlah penumpang di kapal yang kami tumpangi sekitar 20-an orang. Lokasi yang pertama kami datangi adalah pulau Dedep. Di pulau tersebut, kami akan trial snorkeling terlebih dahulu. Uji coba untuk peserta yang sama sekali belum pernah snorkeling sebelumnya. Perjalanan menuju pulau Dedep sekitar 45 menit dari rumah singgah tadi. Sepanjang perjalanan itu kami sibuk memotret kanan kiri termasuk selfie.

Pulau Dedep terlihat, kecepatan kapal pun dikurangi. Suasana di pulau ini masih terbilang asri, bangunan yang ada hanya toilet 5 pintu dan 10 unit meja kayu untuk makan. Sepertinya pulau ini sering dijadikan tempat berkemah, sebab beberapa jejak pembakaran masih terlihat jelas di dekat pantai. Di sudut pulau terlihat sedang ada pembangunan cottage, entah siapa yang akan mengelola pulau ini nantinya, mudah-mudahan tetap orang lokal saja. Panitia kemudian menyerahkan alat-alat snorkel ke seluruh peserta disertai dengan penjelasan cara menggunakannya.

Para peserta tiba di Pulau Dedep (Atas). Pemandu memprakttekkan cara menggunakan alat-alat snorkeling.

Dengan antusias, para peserta kemudian langsung uji coba snorkeling di pantai ditemani oleh beberapa orang guide. Meskipun aku sudah pernah snorkeling sebelumnya, tapi tak ada salahnya juga ikutan ajang uji coba ini. Sedangkan rekanku? Dia hanya berdiri di pinggir pantai, seperti kucing yang takut kena air. Hahahaha #Peace. Dia mahir berenang, makanya renang ala-ala begini tak terlalu menarik buatnya. Inginnya sih mungkin langsung terjun ke tengah laut saja, sebab ini adalah kali pertama snorkeling buatnya.

Uji coba snorkeling sudah selesai. Tibalah saatnya kami mencoba langsung di tengah lautan. Kapal kembali berangkat menuju lokasi snorkeling yang pertama.

Sedang asyik-asyiknya memotret pemandangan lautan, tiba-tiba kapal berhenti. Oh, ternyata sudah sampai. Kapal yang kami tumpangi berhenti tak terlalu jauh dari pulau Dedep tadi. Guidenya bilang ini adalah laut pulau Abang.

Satu persatu peserta turun ke laut dengan tertib. Pakaian keselamatan merupakan hal wajib. Kami pun memulai petualangan dengan melihat sisi lain dari lautan. Dari atas, lautan terlihat begitu tenang. Namun ternyata arusnya cukup kuat, jadi dengan mudah kami seakan cepat sekali menjauh dari kapal, tak apa. Ketika melihat ke dasar laut, barulah terlihat jelas berbagai spesies terumbu karang dan ikan. Ikan yang banyak kami temui yaitu jenis ikan badut berbagai versi warna, hitam – ungu, orange – kuning, dll. Ikan-ikan badut ini bersembunyi di balik terumbu karang. Semakin dilihat teliti, ternyata banyak pula bulu-bulu babi di dasar lautan. Untungnya kedalaman lautan saat itu 4 – 5 meter sehingga kaki kami jauh dari jangkauannya.

Keindahan bawah laut pulau Abang.

Panitia kemudian menawarkan sesi foto underwater, seluruh peserta tentu ingin sekali ikutan kekinian dengan gaya-gaya bawah laut. Tapi harus antri, sebab jika rebutan air akan menjadi keruh. Tibalah giliran kami, tapi aku tetap dengan pelampung sedangkan rekanku sudah sejak tadi melepas life jacketnya. Jadilah foto itu setengah dilaut setengah mengapung. Gagal.

Beberapa peserta trip yang ikutan foto underwater

Mungkin karena terlalu asyik menikmati pemandangan bawah laut, ada beberapa peserta yang terbawa arus dan dengan cekatan guide menarik mereka kembali ke dekat kapal. Beberapa peserta lainnya yang terlihat kelelahan segera naik ke perahu. Rekanku naik lebih dulu ke kapal, tapi tak lama kemudian kembali turun ke laut membawa pelampung yang disampirkan begitu saja di lengannya, mungkin dia lelah berenang tanpa life jacket. Aku sih santai saja sebab sedari tadi berenang dengan pelampung, jadi aman..

Arus yang begitu kuat akhirnya membuat kami kelelahan. Sebagian penumpang di kapal merasa pusing, termasuk juga aku. Baru pertama kali ini merasa pusing setelah snorkeling. Satu persatu peserta kembali ke kapal, dan setelah hampir tengah hari panitia membawa kami kembali ke pulau Dedep untuk makan siang.

Menu makan siang itu seluruhnya disediakan oleh panitia, gulai ikan, tahu tempe, kerupuk, kopi dan teh. Kami dipersilakan menikmati hidangan di meja-meja kayu yang telah disediakan. Menunya sederhana, tapi rasanya begitu istimewa. Di tempat special bersama orang-orang special, meskipun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang asing yang tak aku kenal.

Makan siang

Sehabis makan, beberapa peserta terutama anak-anak muda kembali menceburkan diri di pantai. Anak-anak berlarian dan bermain-main dengan pasir, memang ada peserta anak-anak di sini, 2  orang yang berumur di bawah 5 tahun. Khusus ibu-ibu dan bapak-bapak, mereka mengobrol ria tentang ini itu dengan para guide.

Sementara kami berdua berkeliling pantai. Menikmati pemandangan dan foto ini itu. Ide membuat foto-foto unik namun konyol pun timbul. Entah siapa yang mulai, tapi akhirnya kami mencoba memotret gaya melompat-lompat. Abang-abang guidepun aku mintakan bantuannya untuk mengambil gambar kami berdua, dan hasilnya epic. Foto terkeren sekaligus terkonyol hari itu. Dan kemudian, seperti biasa setiap traveling selalu aku sempatkan merekam beberapa video untuk dokumentasi perjalanan.

Menjelang pukul 3 sore seluruh peserta kembali di ajak snorkeling di lokasi berbeda. Kali ini lokasinya lebih jauh daripada sebelumnya, lebih ke tengah lautan dan lebih dalam. Kami pun turun tak sabar ingin menikmati sensasi melihat-lihat terumbu karang yang seperti menari di bawah sana. Terumbu karang berwarna warni, dan ikan-ikan berenang kian kemari.

Tak ingin melewatkan momen kali ini, kami kembali meminta foto underwater karena sebelumnya gagal. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya berhasil. Sempat panik ketika berada di bawah lautan, tapi ada guide yang memandu.

img_20170106_152433.jpgHari semakin sore, seorang ibu mulai merepet… “ayo cepat naik, udah sore, nggak kedinginan kelen rupanya?” maklum, ibu ini orang Medan jadi ya begitulah logatnya. Yang berenang sih tetap berenang, tanpa memedulikan omelan si ibu. Tapi, ibu ini penggembira suasana. Saat anaknya duduk di bagian depan kapal, otomatis dia akan teriak “Riooooooo, nanti jatuh kauuuu.. pegangan dulu anakku…” (aku cuma tersenyum dalam hati).

Kali ini, arus tak begitu kuat seperti siang tadi. Jadi para peserta berenang lebih lama. Hanya saja begitu pemandangan bawah laut menjadi kebanyakan rumput laut, aku memutuskan untuk naik saja ke kapal, karena lelah juga sih. Sementara rekanku masih juga berenang sana sini, dan mengajakku kembali turun tapi ketika aku hampir turun, ternyata peserta lain malah mau naik ke kapal. Ya sudahlah…

Hari sudah semakin sore, tak terasa ternyata kami telah snorkeling selama 1 jam lebih di lokasi kedua. Selanjutnya panitia membawa kami ke lokasi pantai lainnya, Pantai Ranoh. Pantai ini masih di kawasan pulau Abang katanya. Pantai ini lebih bagus dibandingkan pantai pulau Dedep, pasirnya lebih halus dan pantainya lebih luas. Bersih, masih benar-benar alami. Jangan tanya pemandangannya sekeren apa? Yang pasti…sempurna.

Kelapa-kelapa muda kemudian diturunkan dari kapal, salah seorang panitia kemudian membantu membukakan kelapa-kelapa tersebut dan menyerahkan ke kami. Menyesap kelapa muda sembari menikmati langit sore di Pantai Ranoh, wuihhh…

wp-image-736126411jpg.jpg

img_20170106_152316.jpg

Keindahan pantai Ranoh

Di kejauhan, langit terlihat mendung. Tapi syukurlah hingga perjalanan usai kami tidak kehujanan.

Ibu-ibu yang ku sebut sebelumnya kembali menceriakan suasana dengan teriak, “Yok lah bang, kita pulang aja..udah sore. Mau jam berapa lagi kita sampek nanti?” Mungkin karena lelah mendengarkan ocehan si ibu, akhirnya panitia kemudian memanggil kami semua untuk segera berangkat. Yah, padahal masih mau berlama-lama di Pantai itu…

Kami menurut, berkumpul dan naik ke kapal. Tak lupa, sampah-sampah dikumpulkan dan diangkut oleh panitia. Perjalanan usai sudah, saatnya kembali ke rumah singgah tadi. Jaraknya dari Pantai Ranoh sekitar 30 menit. Para pria, duduk di haluan kapal bergaya seolah merekalah penguasa dunia.. ^_^”

I am the king of the world” kata Jack Dawson di Titanic.

wp-image-1309441291jpg.jpg

Sesampainya di rumah singgah, kami berganti pakaian dan diberitahu bahwa kondisi lalu lintas di jembatan 1 (jembatan Barelang) dan jembatan 2 sangat macet. Jadi diprediksikan kami akan tiba tengah malam di kota. Selagi menunggu file foto-foto dari panitia di copy untuk kami semua, teh, kopi dan buah segar telah tersedia. Setelah selesai sholat, akhirnya kami semua berpamitan dan berangkat menuju dermaga.

Seperti yang telah diprediksi, perjalanan pulang lumayan macet karena hari itu masih libur panjang. Masyarakat tentu beramai-ramai mencari tempat rekreasi terutama pantai. Lelah dan mengantuk, akhirnya aku pun tertidur pulas di bus.

Singkat cerita, bus tiba di Kepri Mall pukul 23.30 tengah malam. Lantas kami pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Oh ya, biaya parkir di Kepri Mall murah sekali, hanya Rp.2.000 padahal kami telah parkir selama 15 jam.

Karena tadi di perjalanan pulang bus sempat berhenti di jembatan Barelang, kami menyempatkan makan malam. Jadi begitu tiba di rumah pukul 23.45 WIB langsung siap-siap untuk istirahat.

Demikianlah kisah perjalanan travelling pertama di tahun baru kali ini, serunya luar biasa. Akhirnya cita-cita ke Pulau Abang kesampaian juga. Next time kemana? Belum tahu…tergantung hasil kompromi dengan partner saya. Insya Allah nanti akan ada perjalanan-perjalanan selanjutnya, sebab masih banyak tempat yang ingin ku kunjungi. Mungkin nanti ketika ada waktu, ada dana, dan ada teman yang mau di ajak..bolehlah kita bikin itinerary lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s