Segenggam Rindu untuk Ayah

“Dimana, Nak? Kok belum pulang?” Sahutnya dari ujung telepon.
“Lagi di angkot, bentar lagi nyampe”, jawabku.
“Ohh..ya udah”.

Setiap kali terlambat pulang ke rumah, ayah atau ibu pasti menelpon memastikan keberadaanku. Itu dulu sewaktu masih kuliah dan tinggal bersama mereka. Sekarang ini, kalau ayah menelpon yang pertama ditanyakan adalah “Lagi dimana? Sibuk” yang kedua “Sehat?”. Selalu saja ada perhatian disetiap ucapannya.

Entah kenapa, belakangan ini aku lebih sering kepikiran ayah, pahadal hari ibu baru saja berlalu. Rindu ibu lebih mudah, tinggal angkat telpon dan bertanya hal remeh temeh. Semudah mengobrol “Lagi ngapain, Mak?” atau “Mamak masak apa?” atau hal-hal lainnya, semudah itu. Rindu ayah lebih susah. Kadang sedikit sekali topik yang bisa diobrolkan secara ringan. Menelpon ayah biasanya harus ada topik khusus. Kalau dipikir-pikir, aku lebih sering menelpon ibu – yang kemudian nantinya akan dioper juga ke ayah, dari pada langsung menelpon ke nomor Ayah.

Dari sedikit kenangan masa kecil yang ku ingat, beberapa ingatan tentang dirimu. Orang-0rang sekeliling bilang dahulu kala betapa manjanya aku. Tapi manjaku tidak ke sembarang orang, cuma pada dirimu saja, Yah. Bahkan, katanya aku jauh lebih manja ke ayah ketimbang ibu. Mereka juga bilang aku bahkan tidak mau digendong orang lain ketika ayahku tiba, aku hanya mau ayah.

Kenangan itu ada, mungkin jauh terkubur di dalam ingatan kecilku. Aku ingat bagaimana aku bergelayutan di kakimu tiap kali kau melangkah. Bagaimana aku menarik rambutmu ketika kau gendong aku di bahu kokohmu. Duduk di bahumu, aku merasa bak tuan putri, yang begitu tinggi dan diagungkan. Berjalan-jalan dari rumah ke warung kopi tempatmu bercengkrama dengan rekan-rekanmu, ke rumah tetangga, ke rumah nenek, dan orang-orang yang kau kenal. Aku protes? Tidak. Aku senang kemanapun bersamamu.

Juga ku ingat, bagaimana tangan-tangan kecilku menggenggam tanganmu saat kita berjalan berdampingan. Ketika untuk pertama kalinya kau mengajakku ke Mall berdua saja, tanpa ada ibu. Langkahmu begitu tegap, lebar dan kaki-kaki kecilku kesulitan mengejar. Tapi tanganku kau genggam erat membuatku tak merasa tertinggal.

Dulu, tempat tidur favoritku adalah punggungmu. Dimanapun kau merebahkan badanmu, biasanya aku akan langsung bergelendotan.

Hobi kesukaanku adalah tertidur di depan tv, karena aku tahu esok pagi aku akan berada di atas tempat tidur yang hangat, kau yang menggendongku. Sampai kemudian beberapa kali aku sengaja pura-pura tertidur agar digendong, karena ketika kau menggendongku ayah…aku merasakan betapa besar sayangmu. Itu dulu, ketika tubuhku masih terlalu kecil dan rapuh.

Kau bangun tengah malam ketika aku merintih kesakitan. Bertahan memijit kaki dan tanganku di waktu yang seharusnya jadi hak istirahatmu. Masih aku ingat jelas malam itu, tengah malam itu tubuhku menggigil kedinginan dan dengan cekatan kau lantas mencarikan selimut dan memijitiku hingga ku pulas. Padahal, aku tahu…esok subuh-subuh sekali kau harus mulai bekerja.

Kata-kata sayang memang tak pernah terujar dari lisanmu, usapan lembut di kepala sudah lama sekali berlalu, tapi aku tahu kau menyayangi kami.

Beranjak remaja, kita mulai sering beradu pendapat. Aku yang mulai keras kepala, mulai mencari makna dibalik setiap perintahmu. Benakku ketika itu merasa bahwa akulah yang paling benar paling pintar. Seolah-olah semua ilmu sudah ku dapat di sekolahku.

Beranjak dewasa, ayah jadi semakin sering menanyakan pendapat dan ide-ideku. Senang sekali rasanya ketika dalam diskusi keluarga, kau menyertakan dan bahkan mendengar saranku. Ini bagian terbaik menjadi beranjak dewasa saat itu…

Tiba masanya aku harus berangkat ke luar kota, untuk menempuh pelatihan di perusahaan yang baru saja merekrutku, April 2011. Selama ini aku berpikir ayah melepas kepergianku begitu saja, tanpa perasaan apa-apa. Bertahun-tahun setelah itu, barulah aku tahu bagaimana perasaanmu sesungguhnya ketika melepasku di bandara pagi itu…

Mati lampu menjadi momen lain lagi. Ketiadaan listrik membuat kita semua berkumpul di satu ruangan yang sama. Kita sekeluarga. Di momen itu, kami kembali mendengar leluconmu. Lelucon garing khasmu. Telah beberapa kali kami dengar sebelumnya, tapi tetap saja lucu. Momen itu, selalu ada cerita-cerita seru.

Pernah suatu kali ketika aku pulang mendadak ke rumah, tanpa memberitahukan siapa-siapa sebelumnya.

Ibu bilang, “Kamu kenapa pulang mendadak, padahal tidak libur (biasanya aku pulang ketika banyak tanggal merah atau sedang cuti)? Apa ada masalah di kantor?”.

“Tidak”, jawabku.

“Ayahmu khawatir kalau-kalau kamu ada masalah di sana. Makanya dia minta ibu bertanya.” lanjut ibu.

Itulah ayahku, kekhawatirannya dan pengertiannya selalu ada. Dia menunjukkan kepeduliannya dengan cara berbeda, bukannya langsung tapi dengan perantara. Jangan-jangan selama ini ibu selalu menjadi perantara ayah ketika khawatir padaku?

“Nak, bikinin ayah kopi Nak?!” kata ayahku. Pernah aku bersungut-sungut melakukan permintaan sederhanamu itu. Kemudian akupun bertanya, “Kenapa bukan Ibu saja? Toh ibu sedang di dapur”, bantahku.

“Kopi buatan kamu lebih enak ketimbang Ibu.”

Kalimat sederhana itu, mampu membuat luluh hati gadis kecil ini. Sejak saat itu, membuatkan kopi untukmu selalu jadi tugas khususku. Untuk teh, seleramu buatan Ibu tapi untuk kopi…khusus aku.

Membuatkanmu kopi dan mencabuti uban di kepalamu, dua hal yang telah ku patenkan menjadi tugasku sejak dulu. Senang rasanya dibutuhkan, dan lebih senang lagi karena ketika aku pulang ke rumah (yang hanya beberapa kali dalam setahun), ayah bilang aku masih menjadi juara di kedua bidang itu. Belum tergantikan.

Sampai saat ini, posisimu pun belumlah tergantikan Yah. Kau masih jadi yang utama.

Dengan ini aku sampaikan rinduku padamu, segenggam saja. Kenapa cuma segenggam?Karena sebesar itulah ukuran jantungku. Segenap hati aku merindukanmu, rindu setiap canda tawamu, rindu setiap nasihatmu, bahkan rindu marahmu. Aku merindukanmu dalam setiap doaku. Dan aku pun tahu, di sana kau senantiasa mendoakanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s