Paspor, Perjuangan Belum Usai

Orang-orang yang beruntung adalah orang yang hari esoknya lebih baik dari hari ini, begitu yang ku tahu. Tak ingin kejadian kemarin yang terulang lagi, aku datang lebih pagi esoknya.

Jum’at 17 Desember 2016, sehari setelah jadwal yang seharusnya ditentukan. Tak ingin kalah dari pengantri lainnya, aku bertekad datang lebih pagi. Dan untuk hari ini, aku sengaja mengambil izin cuti khusus untuk mengurus paspor. Cuti buat ngurus paspor, baru kali ini aku pakai hak cuti untuk urusan birokrasi.

Tebak jam berapa aku tiba? Jam 6.15 tepat aku sudah berdiri di depan pagar kantor Imigrasi Kelas 1A Batam. Kalian mungkin berpikir, “Wah…pagi banget!” yup, memang pagi. Tapi apakah aku yang paling pagi? Tidak. Sudah banyak orang yang mengantri sebelum aku. Lantas aku berpikir, mereka datang jam berapa???

Gerbang kantor belum lagi dibuka, jadi terpaksa para pemohon harus antri di depan gerbang hingga ke jalan raya. Hitungan kasar, di barisan antrian manual mungkin sudah ada sekitar 100-an orang, sedangkan di barisan online mungkin sudah hampir 50-60an orang. Padahal masih jam 6,15 loh… kebayang kan?

Info yang beredar, katanya terkait dengan libur hari besar dan liburan akhir tahun, yang membuat masyarakat akan travelling ke luar negeri. Tak heran, karena itu juga alasanku mengurus perpanjangan paspor di bulan Desember padahal bulan-bulan lain bisa.

Di tangan, jam menunjukkan pukul 7.00 pagi. Petugas keamanan mulai membukakan gerbang pintu masuk ke lapangan parkir kantor, dan kami dipersilakan masuk satu persatu. Pendaftar online dipersilakan masuk terlebih dahulu, petugas keamanan mengecek satu persatu bukti berkas pengurusan online. Namun, selalu ada saja yang protes. Pendaftar manual tiba-tiba teriak “Pak, kami sudah datang kesini sejak jam 5, kami mau masuk”, teriakan itu tak digubris aparat. Dengan lancar, satu persatu mulai masuk ke lapangan. Perjuangan semudah itu? Tidak kawan, karena begitu melewati gerbang, kami dipaksa berlari. Sebab yang duluan sampai di barisan antrian tentu akan lebih di depan. Jadilah kami harus berlari membentuk barisan antrian baru di lapangan parkir.

Pendatar manualpun juga menyusul masuk ke lapangan, membentuk barisan baru. Mereka berlarian, berhamburan, saling mendahului untuk sampai paling depan. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, anak-anak juga ikut serta.

Jangan berpikir kami mengantri di ruangan ber-AC, tidak. Kami masih mengantri di lapangan terbuka, tepatnya lapangan parkir kantor Imigrasi. Sebab gedung pelayanan paspor baru akan dibuka pukul 7.30. Sementara itu terpaksa kami menunggu di bawah panas mentari dhuha.

Berbeda dengan kemarin pagi itu karena hasil berlarian dan rebutan antrian, timbullah dialog-dialog singkat antar kami-kami. Dimulai dari ibu-ibu cantik ala sosialita yang menginstruksikan kami agar hapal siapa di depan dan siapa di belakang supaya tidak diserobot orang-orang  baru. Eh, jangan-jangan ini ibu yang sama dengan yang teriak kemarin “maju dong mas, mbak?!” entahlah..wajahnya sih lumayan mirip.

Dari hasil obrolan ringan, curhatan tentang perjuangan datang sepagi ini, terus pula dibumbui dengan keluhan ala ibu-ibu yang kemudian disambut dengan ibu lainnya dan begitu seterusnya, tak disangka menciptakan suasana akrab di antara kami. Siapa sangka di bawah teriknya sinar matahari pagi, ada orang-orang yang sedang mengobrol ramah dan akrab. Seorang ibu sosialita, ibu rumah tangga, bapak kantoran, cowok remaja, cece-cece modis, dan aku. Itulah kami.

Singkat cerita (sebenarnya penantian itu rasanya cukup panjang), kantorpun dibuka. satu persatu kami masuk sesuai dengan urutan barisan. Lumayan, di dalam tak lagi panas terik, berganti dengan ruangan sejuk meskipun tak ada AC. Ada AC dinding 2 unit tapi kok kayaknya tidak menyala? Tak ada efeknya.

Sebelum counter di buka, petugas imigrasi memberikan penjelasan singkat mengenai berkas yang harus dipersiapkan. Duh, berkasku kurang satu, Surat keterangan kerja. Jadi, kalau KTP pemohon bukan KTP Batam, diharuskan melampirkan surat keterangan kerja atau surat domisili. Segera ku hubungi rekan-rekan di kantor untuk membuatkan surat itu dan dengan koordinasi yang lancar, suratpun akhirnya sampai ditanganku. Driver kantor yang baik hati telah sampai di lapangan parkir membawakan suratku, aku pamitan ke ibu sosialitas (Sebut saja namanya Ibu Sis ya, biar singkat) agar menjaga tempat antrianku dan ku titipkan berkasku padanya supaya nanti begitu aku kembali ke barisan, orang-orang di belakang tidak pada heboh dan menduga aku menyerobot antrian.

“Makasih ya mas..” kataku pada si pengantar surat yang sudah repot-repot datang ke sini. Sebelum kembali masuk ke ruangan, ku sempatkan membeli minuman dan beberapa makanan ringan untuk sekedar camilan.

Kembali ke barisan, Ibu Sis dengan baik hati mempersilakan kembali menempati antrianku. “Enak ya, ada teman di luar yang bisa bantu kalau ada kekurangan apa-apa..”, kata bapak-bapak di depanku, “Iya Pak, Alhamdulillah”.

Meski cuma selangkah demi selangkah, barisan bergerak maju. Obrolan masih terus berlanjut, mulai dari cerita tentang pengalaman Ibu Sis ke Singapura dan keunggulan negara itu dibandingkan Batam. Banyak deh pokoknya. Kalau ibu-ibu udah mulai cerita, yah siap-siap aja kuatin telinga. Hahahah.. This is serious.

Kita persingkat saja ceritanya, jadi jam telah menunjukkan pukul 9.30. Batas waktu tetap sampai jam 10 seperti kemarin. Kami mulai deg-degan lagi, berdoa semoga kali ini berhasil. Soalnya Ibu Sis, aku dan bapak itu, sama-sama hari kedua. Jangan sampai Senin kembali minta cuti.

Alhamdulillah, pukul 9.53 aku mendapatkan nomor antrian. Sebelumnya aku sempat khawatir sebab ternyata si Bapak di depan mengurus paspor untuk 6 orang, anak-anak dan istrinya. 6 orang, bayangkan…berapa lama petugas counter mengecek satu persatu berkas mereka. Untungnya, si bapak bilang kalau berkasnya sudah dicek kemarin pagi sebelum counter tutup. Ibu Sis dan bapak itu terbilang beruntung, sebab mereka tidak datang ke kantor imigrasi sendirian, ketika lelah mereka minta pasangannya untuk bergantian berdiri. Ibu Sis bahkan terkadang gantian berdiri dengan anak perempuannya. Sedangkan aku? Yah…sendirian. Tahankan! ^_^

Nomor antrianku 3-140. Pukul 10, nomor antrian yang dipanggil baru urutan 20-an. Jadi berdasarkan perhitungan sederhana, aku asumsikan urutanku pukul 4 sore sebab mulai pukul 11.30 hingga 14.30 kantor Imigrasi tutup untuk sholat Jumat.

Dari pada menunggu disana kebosanan dan toh juga bakal “diusir” keluar ketika istirahat sholat Jumat, jadilah Mega Mall tujuanku menghabiskan waktu. Awalnya pengen nonton, tapi karena sudah janji dengan seseorang kalau aku bakal nonton dengan dia, akhirnya niat nonton sendirian aku batalkan. Gantinya, parah.

Setelah sejenak makan siang, aku muter-muter di departement store yang memajang diskon besar-besaran, selebaran sale dimana-mana. Kemudian perpaduan antara kalap dan khilaf, ujung-ujungnya jadi belanja.

Menjelang jam 4 sore ku putuskan kembali ke kantor imigrasi, dan tak berapa lama kemudian tibalah giliran antrianku. Aku masuk ke counter wawancara nomor 6, petugasnya seorang pria yang ku tebak umurnya mungkin sebaya denganku. Dan begitu dia melihat surat keterangan kerjaku, dia mulai bertanya ini itu. Tentang posisiku, apakah aku ODP, frontliner atau back office. Dan ternyata dia tahu banyak tentang ODP dan BNI secara umum. Tebakanku sih dua, mungkin dia pernah mendaftar jadi ODP BNI, atau  mungkin pernah menjadi pegawai BNI, entahlah.. bisa jadi.

Masalah kemudian muncul, mulai dari kartu keluarga menurutnya ada yang kurang. Kemudian berlanjut tentang perbedaan penulisan nama lengkapku di Paspor lama dan di KTP. Setelah ybs bolak balik bertanya ke seniornya, akhir ditetapkanlah pengajuanku mengalami error 111. Aku bahkan tak mengerti apa artinya.

Yang jelas, satu-satunya solusi yang ditawarkan untukku adalah MENUNGGU. Menunggu telepon dari kantor imigrasi selama 2-3 hari kerja, sebab error tersebut harus diproses di kantor imigrasi pusat. Ku coba meminta nomor telepon yang dapat dihubungi, namun si mas tidak berkenan menyerahkan.

“Nanti mbak datang ke saya lagi ya, jangan ke yang lain. Soalnya kartu keluarga ini udah saya ACC dan mengerti kondisinya. Kalau di tempat lain, nanti ditolak”, katanya.

Mana bisa menunggu satu arah tanpa adanya kepastian? Manalah aku sudi, menunggu tanpa pernah tau sampai kapan? 2-3 hari katanya, tapi aku menduga itu hanya angin surga saja. Sekedar untuk menenangkan kekecewaanku dan pengobat kelelahan kaki setelah berdiri 4 jam pagi tadi.

Tapi aku sadar, tak ada yang bisa aku lakukan. Pilihannya cuma dua, menunggu atau datang lagi ke kantor itu. Sampai saat tulisan ini dipublish, belum ada kabar sama sekali. Aku belum mendapat telepon dari yang mengatasnamakan imigrasi atau apalah.. belum ada, sama sekali.

Duh mas..mas, kok kamu php sih? Bikin dedek menunggu…

Menunggu itu sakit mas, apalagi tak pernah tahu sampai kapan. Menunggu tak berkesudahan. eh eh eh..kok jadi mellow, no no no.

Dengan langkah tegap, aku keluar ruangan wawancara. Meski kecewa, tapi harus tegar. Sebelum keluar, aku berpamitan dengan ibu Sis yang duduk di counter sebelahku.

Dengan sabar aku terima keputusan kamu mas-mas imigrasi. Bahkan senyum manismu tak mampu mengobati kekecewaanku menghabiskan waktu sehari di kantor imigrasi, pulang tanpa apa-apa. Sakitnya dimana-mana, terutama di kaki.

Segera, kita akan bertemu lagi. Dan ketika itu terjadi, aku akan menagih janji. Awas aja!

Hahahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s