Paspor, Cerita Sebuah Perjuangan.

Sudah beberapa hari berlalu, tapi rasa lelah di kaki seolah terus menerus mengingatkan perjuangan panjang mengantri nomor giliran pengurusan passpor di Kantor Imigrasi kelas 1 A Batam Kamis kemarin.

Tanggal di Passpor ku menunjukkan jatuh tempo di 17 Maret 2017, jadi menurut peraturan keimigrasian, harus diperpanjang 6 bulan sebelum jatuh tempo. Karena satu dan lain hal, pengurusan perpanjangan baru sempat ku ajukan di bulan Desember ini. Dengan pertimbangan salah satunya ingin segera persiapan travelling baik jangka panjang maupun jangka pendek menjelang tahun baru.

Aku tak menduga bahwa ternyata sebagian orang-orang Batam juga berpikiran sama…

Proses perpanjangan paspor secara online menjadi pilihan, karena setelah pengalaman mengurus paspor adek di Medan lewat online jauh lebih mudah dibandingkan secara manual. Tidak perlu bolak balik datang ke kantor imigrasi, hanya perlu membayar biaya pengurusan ke BNI dan langsung segera diproses oleh petugas. Proses pembuatanpun juga tidak lama, hanya 4 hari kerja kemudian pasporpun jadi. Itu waktu pengurusan paspor adek, aku juga berharap kali ini begitu…tapi harapan rupanya belum seindah kenyataan.

Setelah input data secara online dan melakukan pembayaran ke teller bank, konfirmasi langsung selesai dilakukan dengan mengklik link yang telah dikirim via email sebelumnya. Janji kedatangan ke kantor imigrasipun dibuat, tanggal 16 Desember 2016.

Hari itu, Kamis pagi begitu tiba di kantor jam 7 pagi aku langsung pamitan ke atasan untuk ijin sejenak buat foto dan wawancara pengurusan paspor. Berkas-berkas telah lengkap di tangan, dengan penuh percaya diri…lantas akupun menuju kesana.

Jaman sekarang mah gampang, bermodalkan smartphone kita bisa pesan ojek. Berdalih memanfaatkan teknologi, akupun memesan sejenis ojek online dan cusss cabut ke TKP.

Pukul 7.20 tepat akupun tiba. Tak berapa lama kemudian segera aku menuju ke barisan antrian orang-orang yang telah membludak ke halaman parkir gedung. Setelah bertanya kanan kiri akhirnya aku masuk di barisan yanh tepat, pengantri online. Well…rame sekali.

Kami diberitahu bahwa nomor antrian hanya bisa didapat hingga jam 10 pagi. Dan yang antri di barisan online mungkin sudah sekitar 150an orang berbaris di depanku. Jangan tanya berapa banyak yang antri di barisan permohonan manual.

Sendiri, berbekal gadget yang ku pegang jadi hiburan saat berdiri menunggu, awalnya semenit, sepuluh menit, sejam, dua jam, dan waktu makin mendekat ke jam sepuluh.

Saat berdiri aku memperhatikan sekeliling, ku lihat ada mas-mas yang sibuk dengan smartphonenya. Buka whatsapp kemudian membalas pesan dari seseorang – ku perhatikan background image wall WAnya foto si mas dan pacarnya, mesra. Tak lama kemudian si mas ini membuka Line, dan BBM lalu melakukan hal yang sama. Membalas pesan. Mungkin itu dari kantornya, urusan pekerjaan atau teman-temannya. Atau mungkin juga dari pacarnya, entahlah… 

Lagi, pemberitahuan via pengeras suara bergema di penjuru ruangan, mengingatkan jam 10 loket ditutup. Antrian masih panjang, kaki ku sendiri hanya bergeser dua langkah tiap satu jam. 

Tenggorokan begitu kering, haus. Ingin membeli air di luar karena biasanya selalu ada penjual minuman di tempat-tempat ramai seperti ini. Tapi, meninggalkan barisan berarti meninggalkan antrian. Hilang orang, hilang pula haknya masuk dalam barisan. Mau tak mau, haus harus ditahankan. Lapar? Ya, dari sejak keluar rumah belum makan apa-apa, minumpun hanya sempat seteguk tadi di kantor sebelum berangkat. Sama sekali tak membawa cemilan atau minuman karena siapa yang sangka antrian akan sepanjang ini?

Antrian ini hanya antrian untuk mendapatkan nomor pemeriksaan berkas. Jadi kalau beruntung, setelah dapat nomor dan berkas dinyatakan lengkap, barulah bisa duduk tenang atau melakukan kegiatan lain sampai nomor antrian dipanggil.

Seorang cowok yang ada persis di depanku bercerita kalau hari ini adalah hari kedua baginya. Kemarin dia datang jam 9 namun tak kebagian nomor antrian. Hari ini dia datang jam 7, dan berdoa semoga dapat. Sebab batas waktu pengurusan online hanya 5 hari kerja saja. Setelah obrolan singkat dapatlah aku simpulkan bahwa kalau hari ini tak dapat nomor antrian maka besok aku akan datang sangat pagi, demi antri.

Barisan terus maju, dan di barisan belakang ada ibu-ibu mulai menunjukkan rasa tidak sabar, “maju dong mbak, mas”. Andai ibu ini tau bahwa merapatkan barisan bukan berarti gilirannya makin cepat. Urutan sudah jelas, dan kalau rapat bisa-bisa sesak napas. Tapi janganlah ibu tersebut disalahkan, dia hanya ingin mendapatkan kesempatan sama seperti puluhan orang yang masih mengantri.

Jam entah kenapa seperti berlari. Jam 10 tinggal 30 menit lagi. Dan masih ada sekitar 50 orang lagi di depanku. Sementara per satu jam petugas counter hanya bisa melayani sekitar 10 orang saja. Nah…mulailah deg-degan.

Pasalnya, kalau tak dapat hari ini berarti besok aku harus kesini lagi. Dan hari ini saja harus minta izin ke atasan, tentu tak enak harus izin juga esok hari.

Sembari menunggu, terus menerus berdoa…semoga hari ini rizkiku mendapatkan nomor antrian.

20 menit lagi menuju jam 10, pria yang tadi di depanku (ku tebak usianya kira-kira 2 atau 3 tahun lebih muda) akhirnya pergi dari barisan, pulang katanya, pesimis bakal dapat kesempatan. Sempat pula aku berpikir demikian, pulang saja dari pada menunggu. Tapi kekuatan pikiran positif memang banyak dampaknya, aku menguatkan kaki yang kelelahan, tenggorokan yang kehausan dan perut yang keroncongan. Terus berdiri sampai loket ditutup, tekadku.

10 menit lagi, barisan tetap merangkak maju, perlahan. Masih ada sekitar 30 orang lagi di depan. Alhamdulillah, akhirnya ada dispenser air minum disediakan tepat di salah satu sudut ruangan. Tenggorokan yang dagaha terobati sudah, tapi tentu belum cukup.

Semoga hari ini rezeki-ku…

Di kala sedang bosan, applikasi di smartphone seperti tak mau bekerja sama. Biasanya akan ada notif dari sana sini yang meminta untuk dibaca. Grup yang minta direspon, atau chattingan teman yang sekedar bertanya kabar. Tapi tidak pagi itu…handphone sepi.

5 menit lagi, aku menolak menyerah. Biarlah menyerah hingga saat terakhir. Setidaknya aku sudah berusaha hingga titik penghabisan.

Akhirnya jam menunjukkan pukul 10, tapi petugas loket masih membuka layanan. Tepat 10.05, lampu loket dipadamkan. Pemohon yang masih berdiri mulai bubar. Namun beberapa dari mereka tetep kekeuh, minimal minta bantuan petugas loket memeriksa berkasnya meskipun tidak akan dapat nomor antrian, termasuk aku. Petugas yang baik hatipun membantu memeriksa berkas beberapa orang. Tapi..tepat 2 orang lagi di depanku..petugas loket menutup counternya. Hiks..hiks..hiks.. Merasa di-php-in. Berdiri 3 jam tanpa hasil apa-apa..

Tak ada yang perlu disalahkan, bahkan keadaan. Besok aku hanya perlu datang lebih pagi.

Hari itu aku sadar, lagi-lagi rezeki bukan cuma sekedar makanan yang aku makan, uang yang aku punya. Tapi jauh lebih sederhana, kesempatan juga merupakan rezeki. Beruntunglah orang-orang yang mendapat nomor antrian pagi itu..itu rezeki mereka. Mungkin giliranku besok, aku cuma perlu ikhtiar sekuatnya dan bersabar seluas-luasnya.

Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s