Senja di Pantai Melayu

Sayang sekali rasanya kalau long weekend tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Libur berturut-turut begini agak langka, jadi kalau ada ya nikmatilah. 

Karena satu dan lain hal, pulang ke kota asal sepertinya tak memungkinkan. Makanya aku coba mencari alternatif lainnya, mumpung ada yang mau menemani.

Ide ini muncul sewaktu browsing daerah wisata di Batam. Batam punya banyak pantai, dan Pantai Melayu salah satu yang direkomendasikan. Letaknya agak jauh memang dari pusat kota, tepatnya di Pulau Rempang, salah satu gugusan Barelang.

Syukurlah, yang di ajak bersedia menempuh perjalanan yang lumayan jauh, so..let’s go.
Pengennya sih konsep liburan kali ini bertema piknik, bawa makanan dan minuman dari kota terus makan di tepi pantai. Seperti dulu sewaktu aku dan teman-teman traveller liburan ke Thailand. Tapi berhubung jam makan siang sudah berdentang dan perut kami sudah keroncongan jadilah kami makan dulu lalu berangkat.

Pukul 13.30 kami putuskan untuk segera berangkat setelah sejenak membeli sedikit cemilan dan minuman di minimarket tepi jalan. Kendaraanpun melaju, meski sempat beberapa kali terjebak macet tapi tak apa…si pria di balik kemudi sama sekali tak mengeluh.

Sepanjang jalan yang dirasa cukup jauh dihabiskan dengan obrolan ringan chit chat ini dan itu sambil ditemani lagu-lagu dari radio Singapore. Aku mendengarkan lagu-lagu terhits masa kini, dan dia mendengarkan lagu-lagu hits masa lampau..jadilah kami bergantian berlomba pencet-pencet saluran radio.

Mengobrol ini itu sembari menikmati pemandangan sepanjang jalan, membuat kami tak sadar entah berapa lama waktu yang sudah kami tempuh. Tak lama kemudian, jembatan Barelangpun terlihat. Tapi menurut info yang ku dapat, pantai Melayu berada di jembatan 4. Berarti perjalanan kami masih cukup lama..

Jembatan Barelang rameee… Banyak kendaraan yang parkir di tiap sisi jalan. Banyak pula penjaja makanan dan mobil berlalu lalang. Yah maklum saja, efek liburan.

Jembatan 1 sudah terlewati, begitu juga jembatan 2 karena jarak keduanya memang tak jauh. Kemudian jembatan 3 pun telah dilewati, terlihat di sisi kanan jalan ada pantai Sitokok, berselang beberapa saat terlihat pula plang Pantai Zore dan pantai Air Nanti.

Setelah melewati jembatan empat, pantai Melayu tak kunjung kelihatan. Temanku menyarankan memakai aplikasi maps, tapi sayang sinyal kurang mendukung. Hampir panik, sebab tak enak hati jauh-jauh kesini adalah ideku dan malah tak tahu tempatnya.

Setelah setengah jam lebih melewati jembatan empat, aku putuskan untuk bertanya ke warung penduduk lokal disana. Dari salah seorang ibu penjaga kedai makanan tahulah kami bahwa pantai yang kami tuju masih ada di depan sana.

Semangat karena tujuan sudah dekat, kamipun melaju. Benar saja, tak lama kemudian plang Pantai Melayu pun kelihatan. Letaknya di kanan jalan. Kalau memang mau kesana, pasti tahu sebab jalan belokannya cukup besar.

Untuk masuk ke area pantai, pengunjung dikenakan tarif 10 ribu Rupiah perorang. Masih cukup murah untuk pantai yang sudah dikelola ini.

Begitu sampai, kami langsung cari parkir. Dan pemandangan pertama yang terlihat adalah..rameee..

Tidaklah seramai Dufan atau taman bermain lainnya. Tapi untuk kalangan pantai di Batam ini sudah terhitung ramai. Selesai parkir, kami menuju pantai yang telah banyak dipenuhi pengunjung. Banyak pengunjung yang datang bersama keluarga memanfaatkan jasa penyewaan tikar ataupun dibawa sendiri dari rumah. Karena kami tidak bawa tikar, kami cukup menyewa saja seharga 15 ribu Rupiah sampai pulang.

Spot yang kami pilih yaitu di bawah pohon dan dekat dengan lokasi pantai. Jadi dapat full pemandangan lautnya.

Inilah salah satu foto penampakan pantai Melayu. Diambil agak sore ketika pengunjung mulai sepi. Kondisinya bersih, tong sampah ada dimana-mana. Tapi tetap saja ada pengunjung yang terlalu malas buang sampah ditempatnya. Jadilah beberapa botol minuman bekas masih terlihat bergeletakan di bawah-bawah pohon.

Kali ini pantai juga diramaikan oleh kegiatan anak-anak SMA, mungkin ekskul pecinta alam atau Pramuka yang terlihat sedang main games di depan kami.

Banyak juga anak-anak kecil berlarian, dan pasangan muda-mudi berfoto-foto ria.

Kami? Kami duduk-duduk sejenak sebelum berkeliling di pantai. Maklum saja, teman seperjalananku mungkin lelah jadi kubiarkan dulu dia meluruskan badan sesukanya.

Sambil duduk, akupun memainkan kamera. Sayang kalau dipantai tak ada yang diabadikan. Misalnya momen ini, harus dicapture sebanyak mungkin. Jepret sana, jepret sini. Jepret aku, jepret dia, jepret kami. Sambil mengobrol dan mengunyah snack yang tadi dibeli kamera tetap eksis, pasang pose berbagai ekspresi.

Ini fotonya diambil dengan kamera handphone dan batuan tongsis. Kamera lainnya dipegang oleh dia. Jadi kami masing-masing pegang kamera dan saling capture foto.

Fasilitas umum cukup lengkap, ada beberapa kamar mandi, kamar ganti pakaian, musholla dan ada beberapa warung makan yang menyediakan berbagai jenis kuliner. Sesekali ada juga abang-abang penjual eskrim hilir mudik menjajakan dagangannya. 

Puas duduk, kami berkeliling pantai. Merekam beberapa video dan entah dari mana ide iseng itu muncul, tiba-tiba dia mengajak berlomba lari. Yah jelas saja aku kalah meskipun tenaga sudah dikeluarkan full power, kakinya jauh lebih panjang dari aku. Curanggg..😆😆😆 Tapi tak apa, toh aku senang.

Semakin sore, langit mulai berawan. Tidak mendung tapi juga tidak panas. Membuat kami terus melanjutkan jalan berkeliling, main air sampai ujung-ujung kaki celanaku basah.

Karena hari semakin sore dan perjalanan pulang masih jauh, tepat pukul 6 kami memutuskan untuk beranjak dari pantai. Selain karena memang sudah sore, pantai juga sudah mulai sepi. Tadinya mau menunggu senja, tapi senja tertutup di balik awan. Menikmati senja di pantai, berdua. Wahh.. Sounds romantic, isn’t it?

Senja nun jauh di ufuk Barat sana, tak terjangkau tapi seolah begitu dekat. Dan kalau bukan karena waktu, tentulah aku disini akan menunggu.

Dan untuk teman seperjalanan kali ini, terima kasih. Terima kasih telah menemani, meluangkan waktu bersama disela kesibukan. Mendengarkan disetiap obrolan, dan membuat momen ini begitu spesial. Bercanda, tertawa, jahil, dan kadang-kadang menyebalkan.

Tempat spesial, pemandangan spesial bersama orang spesial. Would be so perfect. Hahahhaha.. Entahlah. Will you be my travel mate for next time, Sir?

Special thanks buat kamu yang menemani hari itu.. Tak mengeluh meski aku tahu kakimu pegal sekali mengatasi macet ketika pulang dari tempat itu. Huge thanks, terima kasih karena membuat liburan ini berwarna. 😃

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s