Sekarang Mimpi, Besok Nyata. 

Sepertinya aku harus buat sub category baru di blog ini, Before Midnight. Sebab beberapa malam belakangan ini sedang banyak hal yang ingin dituliskan, dan saat yang paling pas buat nulis ya kayak gini…sebelum midnite.

Sesaat sebelum tidur memang adalah waktu yang cocok buat memikirkan berbagai ide-ide baru, pikiran dan cita-cita esok hari. Lagi pula, pas malam-malam gini biasanya suasana lagi enak buat diajak menghayal…

Masalahku adalah, kalau aku memikirkan terlalu banyak hal akan kesulitan tidur. Jadi dari pada dipendam, mending dituangkan ke dalam tulisan. Mudah-mudah yang saat ini cuma sekedar khayalan akan jadi nyata nanti..

Latar belakang masalahnya adalah Facebook. Jadi gini, singkat cerita kebiasaan sebelum tidur biasanya pegang-pegang smartphone dulu. Buka ini itu…salah satunya “memantau” isi timeline FB. Lantas ketemu deh hal ini, yang sudah aku impi-impikan sejak bertahun-tahun lalu. Dan sampai sekarangpun masih berharap semoga nanti di masa depan aku punya kemampuan untuk wujudkan itu.

Buku. Aku suka sekali itu. Suka. Sekali. Buku fisik, bukan e-book atau tulisan-tulisan digital. Tak ingat sejak kapan mulai naksir dengan buku-buku ini, mungkin dampak dari keisengan baca-baca buku gratisan di perpus SMP dulu. Menurutku pesona buku fisik belumlah tergantikan oleh kepraktisan e-book. Menyentuh dan memegang buku secara fisik itu…hmm..bagaimana menjelaskannya ya, mencium aroma kertasnya saja bikin senang. Belum lagi menyentuh tiap lembaran halaman, membolak-balik halaman per halaman, ditenteng sewaktu jalan, dipegang sewaktu duduk, dipeluk saat tidur #eehh😍. Sedangkan kalau e-book, yang kita pegang cuma gadget, too standard. Praktis memang, tapi dimana letak tantangannya??? 😛

Stop dulu membahas buku, bukan itu yang akan ku tuang malam ini. Melainkan tentang “RAK BUKU”.

Kenapa rak buku penting? Karena terkait dengan jumlah buku-buku yang makin bulan makin nambah. Maklum, efek kalap dan khilaf pas ada diskon di Gram*dia atau toko-toko sejenis lainnya. Buku itu investasi, beli dulu…bacanya nanti. 😅 Kalau nanti harganya naik gimana coba?? Kan nyesal. Mending beli aja. Kalau nanti harga turun gimana? Ya tak apa, buku yang sudah dibeli kan pasti cetakan awal-awal kalau tunggu nanti cetakan ke-sekian puluhan, beda dong.. (Inilah pembaca, salah satu alibi terkhilaf. Tolong jangan diikuti).

Balik ke rak buku. Dari dulu, sejak awal-awal merantau ke Ranah Minang dan mulai hidup jauh dari orang tua, aku mulai berpikir rumah seperti apa yang ingin aku tempati. Akhirnya, setelah berpikir ini itu, ada beberapa hal yang ingin aku punya di rumahku nantinya. Ruang tamu, dapur, kamar dan lain-lain yang standar tentu harus ada..tapi, jika nanti aku bisa dan mampu, ada tambahan yang aku mau.

1. Teras dan halaman

Dua hal ini termasuk langka, kalau kalian tinggal di perumahan padat warga seperti halnya rumah kami. Jarak dari pintu rumah ke jalan komplek biasanya dipakai untuk tempat parkir kendaraan, dll.

Nah, karena kami tidak punya halaman rumah, makanya aku memasukkan ini jadi daftar dalam rumah impianku. Enak kali ya, kalau pas sore duduk-duduk di teras lantas ngobrol ini itu. Atau menikmati gemerintik hujan dan lukisan senja dari teras rumah… Atau menanami bunga, mengatur dekorasi rumput-rumput…atau bahkan dibiarkan terhampar luas begitu saja untuk tempat main anak-anak. Dulu bahkan aku ingin punya ayunan di halaman rumah, tapi berhubung banyak film horror yang menampilkan adegan ayunan bergoyang-goyang yang akhirnya sukses menghancurkan mimpi itu, jadi..no ayunan.

Jaman sekarang banyak yang memilih tinggal di apartemen, flat, atau bahkan ruko. Aku sih tetap prefer rumah. Ruko misalnya, memang bisa dijadikan tempat usaha tapi lantai atas sumber cahayanya terbatas dan tata ruangnya juga susah.

Kalau rumah hanya bertujuan untuk tidur, tak apa. Tapi yang ingin aku bangun adalah hunian yang bukan sekedar bangunan, I want a home..not just a house.

2. Dapur luas

Wah, yang ini lagi. Mau banget ini. Rumah-rumah cluster yang lagi marak-maraknya dibangun saat ini entah kenapa selalu tidak menyertakan dapur dalam rancangan awalnya. Jadilan banyak rumah tanpa dapur, jika mau dibuatkan tentu harus nambah rogohan kocek dulu..

Mungkin para developer berpikiran bahwa keluarga masa kini kebanyakan pasangan bekerja dan hanya punya sedikit waktu di rumah jadi lebih memilih makan diluar dengan alasan kepraktisan.

However, dapur itu tetap perlu. Dimana lagi area untuk kami para wanita bebas berkreasi. Zona rumah yang bisa kami kuasai dan menjadi teritory utama kami??? 😛 Di dapur inilah kami menunjukkan kebolehan kami, syukur-syukur ada yang menikmati. Selain itu juga, wanita itu butuh tempat untuk menyimpan koleksi panci-panci, wajan dan perlengkapan masak lainnya, dimana lagi kalau bukan dapur? Semoga para pria akan mengerti, semoga. 😂😂😂

3. Ruang Baca / Perpus mini

Khusus yang ini cuma bisa terlaksana kalau ukuran rumah cukup luas. Soalnya, aku ingin sekali menyimpan buku-buku itu dalam ruangan kecil yang apik, dilengkapi sofa kecil untuk tempat baca…membayangkannya saja hmm…terlena.

Zona dapur mungkin saja masih bisa diinvasi oleh pria. Ruangan inipun tak masalah juga kalau harus berbagi, jika punya pasangan yang hobinya sama..

Maunya nanti, ruangan ini jadi ruangan pribadiku. Hehhehe… Tempat bersantai saat lelah, stress atau jenuh. Di tiap sisi dindingnya akan dipasang rak berderet-deret dan semuanya terisi buku…wuihhh girangnya bukan main.

Buku-buku itu akan tersusun sesuai alfabet, sesuai genre, novel, terjemahan, psikologi, dll. Tapi tentu novel akan mendominasi rak-rak itu. Di antara rak-rak itu, terjulur sofa kecil yang pas sekali untuk berbaring, menghadap jendela kaca lebar ke arah halaman. Membaca buku ditangan, memandang senja diluar, syukur-syukur ditemani pelukan pasangan hmmm..terdengar sempurna.

Rak-raknya jangan dipasang terlalu rendah, sebab anak-anak akan gampang sekali menjangkaunya. Tapi kalaupun begitu tak apa, bakal aku sediakan buku-buku khusus seusianya yang bisa mereka baca kapan saja..asal jangan ganggu buku bundanya. Hahahaha

Kalaupun nanti ternyata aku belum berkesempatan punya ruangan lebih yang bisa difungsikan jadi perpus ya tak apa. Masih bisa lah aku minta dibuatkan rak-rak lucu di ruang keluarga, ruang tamu, atau kamar tidurpun boleh juga kalau diijinkan… Yang begini misalnya..

Keren kan…

Apalagi yang ini…juara!!!

Dengan melihat gambar-gambar itu saja aku jadi pengin…hmm..beli buku lagi. Hehhehe.

Untuk foto ke-2 di atas, pengennya sih tak pakai pohon besar gitu ya.. Soalnya agak ganggu. Khayalan indah bisa-bisa rusak kalau tiba-tiba ada yang nangkring di sana kan..

(sumber gambar : Facebook)

Itulah beberapa keinginan yang ada sejak lama, mungkin seiring berjalannya waktu keinginan lainnya akan bertambah atau malah bisa berkurang, tergantung situasi. Tak perlulah rumah bertingkat mewah, luas bak istana layaknya sinetron-sinetron Ind*siar yang didubbing dulu…ingat kan? Rumah sederhana, nyaman dan suasananya hangat, itu cukup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s