Sepenggal Catatan Tanpa Pembaca

Tahu tidak? Ternyata di balik satu buku yang saat ini sedang kita baca ada proses yang sedemikian panjangnya. Rakitan pekerjaan dari tim yang solid, bukan cuma melulu soal penulis tapi turut serta pula rekan-rekan tangguh yang berkarya dengan sebegitu luarbiasanya sehingga jadilah seperti yang kita lihat di rak-rak toko buku.

Ken Terate, seorang novelis dan saat ini juga merangkap sebagai translator novel-novel terjemahan punya cerita tentang proses terbitnya buku…

Naskah sudah selesai, dan tulisan “TAMAT” telah digoreskan. Lantas? Asyik dong penulis tinggal ongkang-ongkang?

Salah, jalan masih panjang. Naskah masih harus dioprek, yang bolong-bolong ditambal. Sinopsis, outline, dan biografi penulis juga harus ditulis. Setelah proses itu selesai, masih harus di-swa-edit (kalau penulisnya perfeksionis swa edit bisa sampai berkali-kali). Barulah dikirim ke penerbit.

Itu juga belum kelar. Masih harus antre dibaca editor. Kadang menunggu sebentar, kadang lama. Penulis juga harus nyambi berdoa semoga naskah lolos dan layak diterbitkan. Kalau naskah diterima dan akan diterbitkan, masih harus antre penyuntingan, lay out, dan dibuatkan sampul. Kadang dalam prosesnya editor kasih masukan ini itu dan penulisnya harus revisi.

Kalau buku sudah terpajang di toko buku, harus nunggu lagi sampai tiba waktunya pembayaran royalti, itupun kalau bukunya laku. Beruntunglah yang dapat DP, beruntunglah yang bekerja sama dengan penerbit kredibel.

Oalah Mak, berat nian jalan jadi penulis. Lah iya, kadang tulisan ratusan halaman terbuang, kadang 400 halaman naskah ditolak begitu saja oleh penerbit.

Trus kok mau jadi penulis? Errr saya maunya juga jadi pengusaha kaya raya, tapi gimana dong kalau tiap bangun pagi, jari jemari rasanya sudah gatal pengen nulis. Kalau sambil nyucipun, ide cerita bersliweran tanpa diundang. Tanpa dibayarpun saya tetap nulis. Apalagi saat menulis dua sekeliling meluruh dan rasanya…wow mengawang-awang. Lalu saat melihat sebuah buku mewujud…itu…nyandu banget.

***

Curahan hati seorang penulis profesional tentu beda dengan kelas amatiran ^_^. Beliau telah menerbitkan beberapa novel yang nangkring dengan apik di rak-rak Gramedia dan toko-toko sejenis lainnya.

Lantas, siapakah Aku? Aku hanya ingin menulis untuk diri sendiri. Aku menulis karena ingin menulis. Karena tak ingin lupa tentang apa-apa yang berlalu, tentang apa yang terjadi, tentang apa yang dirasa. Menulis, sejatinya seperti melukis. Menuangkan rangkaian kalimat menjadi cerita, menuliskan rangkaian kata menjadi gambaran penuh makna. Kenangan.

Ya, saat ini aku sedang menulis sebuah buku yang telah dimulai sejak bertahun-tahun lalu. Hingga saat ini buku itu belum terbaca, pun belum selesai ku tulis. Karena nanti, buku itu hanya akan dibaca satu orang saja…hanya satu.

Kata-kata yang disampaikan secara lisan, aku bukan ahlinya. Via tulisan, lebih ku suka. Di kepalaku terlalu banyak kata-kata berputar menunggu untuk dituangkan, dan jika aku salurkan dengan lisan aku khawatir tak ada yang mendengar, dan lebih lagi…tak ada yang paham.

Tulisan, bisa menggambarkan perasaan hati. Via lisan, bertatapan langsung dengan pendengar bisa saja mengalihkan pikiran. Kata-kata yang ku ucapkan kadang tak runtut, meloncat sana sini, berujar terlalu cepat, dan sedihnya…bisa saja berlalu seperti angin. Tak dihiraukan.

Lebih lagi, bisa saja…ada yang akan meneteskan air mata tiap kali aku bertanya. Bisa saja akan ada yang merana apabila ucapanku salah.

Baru-baru ini, kembali aku menulis sebuah catatan. Sebuah catatan yang dimaksudkan untuk seseorang sebelum dia mengambil keputusan. Sayang, buku itu kini teronggok rapi di sudut lemari. Kenapa? Karena sejenak aku lupa. Yang ku kira, dia telah mengurungkan niatnya dan sebab terlena..aku pun lupa melanjutkan cerita.

Ku pikir waktu mengiringi langkahku, tapi tidak. Niat seseorang tidaklah kita tahu. Tuan pun berlalu, tanpa pernah tahu…apa isi buku itu. Buku yang tak sempat ku serahkan, karena sang Tuan berlalu tanpa peringatan…

Catatan yang ditulis di atas jilidan rapi kertas-kertas sederhana. Sebuah catatan tentang kisah, tentang rasa, tentang apa yang selama ini tersimpan rapat dalam dada. Sebuah catatan yang bermula di penghujung November dan berakhir di awal Desember.

Belum sempat menuliskan semuanya, baru sebagian kisah. Ditulis ketika waktu senggang, di sela-sela pekerjaan, dan di tengah malam sebelum lelap. Sayang, akhirnya akan terbuang.

Ah, tidak. Tulisan itu tak akan terbuang percuma. Biar bagaimana, tetap akan jadi sepenggal kisah. Entah ku putuskan menyelesaikan atau tidak, tapi yang jelas…catatan ini tak terbaca. Remain unread…

Semoga buku yang satunya lagi bisa tetap ku tulisi. Meski berganti kisah, berganti tokoh, berganti rasa, berganti peristiwa…tapi itu semua akan berakhir dalam satu kalimat sederhana…

“Wa’alaikumsalam, Kalila…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s