Catatan Kecil Pegawai Bank

Pegawai bank, pekerjaan yang terdengar cukup prestise di lingkungan masyarakat. Bagaimana tidak, masyarakat umumnya menilai pegawai bank dari penampilannya yang necis, pendapatan tetap, bonus segudang, tunjangan ini itu, bahkan beberapa di antaranya mendapatkan rumah dan kendaraan dinas. Benarkah begitu?

Wajar, yang mereka lihat adalah sisi terluar dari seorang pegawai bank. Penampilan necis dan rapi sudah tuntutan, mau tidak mau, suka tidak suka, harus tetap dijalankan.

Namun di samping itu ada begitu banyak hal yang tersembunyi di balik pakaian rapi dan gaji tetap seorang pegawai bank. Oh ya, sengaja saya tidak menyebutkan istilah ‘banker’ di sini karena istilah itu kesannya terlalu meninggi dan berlagak berkelas. Cukup disebut pegawai bank sajalah, sederhana tanpa mengada-ada.

Menjadi pegawai bank tidak mudah, kami harus mengikuti bertahap-tahap seleksi untuk sampai di posisi ini. Memang proses seleksi tidak sama untuk tiap pegawai, tergantung posisi dan fungsinya diperusahaan kelak. Untuk posisi yang aku tempati sekarang, tak kurang dari 5 lapis tahapan seleksi telah dilewati. Hanya dari universitas ternama dan prestise-lah yang dianggap layak lulus syarat administrasi. Ketika itu, 5 tahun lalu teman-temanku dari universitas lainnya terpaksa gigit jari karena perguruan tingginya tidak lolos kualifikasi. Proses seleksi bahkan dimulai dari universitas, nama universitas juga turut menjadi penentu.

Terlepas dari beragam seleksi, kami menjalani pelatihan dan akhirnya diterjunkan ke lapangan. Anak baru yang masih begitu lugu (anggap saja begitu), kemudian perlahan-lahan mengerti operasional perbankan dan seluk beluk bisnis. Tenang, bukan ini fokus ceritanya. Tentulah aku tidak mau membuat kalian bosan dengan narasi panjang lebar tentang operasional bank.

Berbekal SK bertajuk “bersedia ditempatkan dimana saja” membuat aku harus merantau ke kota lain yang jauh dari hometown. Tahun awal-awal menyenangkan, mengenali kota baru, lingkungan baru, kebudayaan baru dan tentunya teman-teman baru. Tak masalah, bagiku itu tantangan yang menunggu ditaklukkan perlahan. Lagi-lagi, bukan ini fokus masalahnya.

SK kembali muncul setelah hampir 4 tahun dari SK pertama, dan lagi aku harus berpindah ke destinasi lainnya. Kembali lagi kegiatan itu berulang, mengenal – beradaptasi – kemudian mengembangkan diri.

Bukan hanya lingkungan yang berubah, seiring dengan berjalannya waktu berganti pula kebijakan-kebijakan perusahaan. Lain pemimpin lain kebijakan. Makin kesini pressure dirasa makin berat yang berujung beberapa pegawai akhirnya mengambil langkah berani dengan memutuskan resign. Dari sini mulai terlihat kan, jika menjadi pegawai bank sebegitu nyamannya tentu resign tak akan pernah jadi pilihan.

Pressure yang akhir-akhir ini begitu menggila adalah target pencapaian kinerja. Hidup memang harus ada target, katanya. Tapi ketika target yang ditetapkan cuma sejengkal jaraknya dari langit, apa iya bisa kesampaian? Entahlah, tapi yang jelas usahain saja.

Tapi, yang begitu menjadi masalah bagi kami adalah waktu. Semenjak target menggila, waktu yang kami punya semakin sedikit. Hampir setiap malam, Senin – Jumat bahkan Sabtu dan Minggu harus kami luangkan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang bejibun itu. Rata-rata tiap hari pulang jam 9 atau jam 10 malam, bayangkan bagaimana kehidupan sosial kami dan kehidupan keluarga kami.

15 jam lebih hidup didedikasikan untuk kepentingan perusahaan, 5 atau 6 jam untuk tidur (yang kadang tidak nyenyak) dan sisanya waktu kami bersama keluarga atau melakukan aktivitas lainnya (itu juga kalau masih ada waktu tersisa).

Kehilangan waktu kebersamaan dengan keluarga, membuat sebagian orang mengambil langkah, resign. Ini keputusan berani. Aku selalu salut dengan orang-orang yang berani mengambil langkah keluar dari zona “yang katanya nyaman” ini.

Dari salah satu yang resign itu pernah bercerita begini, kita pegawai hanya salah satu aset yang keberadaannya bisa digantikan, masih banyak pegawai lainnya. Kita tidak ada, perusahaan akan tetap berjalan. Tapi bagi keluarga, diri kita adalah satu-satunya, tak tergantikan. Jika ada pegawai yang sakit bahkan meninggal, perusahaan akan mengirimkan santunan, karangan bunga dan paling tidak 1 atau 2 hari untuk mengenang. Tapi setelahnya, kegiatan akan berlangsung seperti biasa seolah kau tak pernah ada. Bayangkan hal sebaliknya di rumah, mereka butuh waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk terbiasa dan perlu waktu seumur hidup untuk lupa. Sebegitu pentingnya keberadaan kita di tengah-tengah keluarga, pikirkan.

Sepintas pertanyaan lantas muncul di kepalaku, “Jika waktu itu bisa dinilai dengan uang, berapakah harganya?” apakah setimpal?

Tidak, tak boleh mengeluh karena aku percaya mengeluh hanya melemahkan tubuh dan menambah masalah. Berjuang dan bertahan sekuat tenaga yang aku bisa, sebanyak doa dan dorongan dari kedua orang tua. Tapi nanti ketika aku telah menemukan diriku yang sebenarnya, tidak menutup kemungkinan langkah rekan-rekan sebelumnya tertapaki juga.

Bekerja diperusahaan itu tentu ada suka dukanya, ada lebih – kurangnya, ada untung – ruginya, jelas. Masih banyak lagi keluhan yang sebenarnya telah bertumpuk menyesaki secuil gudang di dalam hati, tapi bersabar dan ikhlas itu kuncinya.

Sudah-sudah, demikian dulu catatan kecil malam ini. Sudah larut sekali, saatnya aku memanfaatkan sedikit waktu yang tersisa untuk beristirahat.

“Menilai dari tampilan luar itu biasa, yang akan luar biasa yaitu ketika kita bisa menelisik apa yang ada dibaliknya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s