Resensi #7-1 : Knife (Fairy Rebel) Part 1

Judul                : Knife, Pemburu Mantra

Pengarang       : R.J Anderson

Image

Knife bertekad untuk mencari tahu kenapa sihir kaumnya telah hilang dan berusaha mendapatkannya kembali. Ia tidak takut terhadap apapun – tidak kepada gagak-gagak yang jahat, para manusia memesona yang hidup di dekat situ, bahkan kepada sang ratu peri. Tapi, ketika knife tidak mematuhi sang ratu dan berteman dengan seorang manusia bernama Paul, pencariannya menjadi lebih berbahaya dari pada yang ia sadari. Bisakah knife mempercayai Paul untuk membantunya? Atau, apakah justru ia membawa kaum peri semakin dekat dengan ambang kehancuran?

Gambar cover sebelah kiri adalah cover edaran Internasional, dan gambar cover kanan adalah cover Knife yang diedarkan di Indonesia. Silahkan hunting ke toko buku terdekat ya, meskipun sudah membacanya :p

Bagian awal dari kisah ini memang cenderung flat, bahkan kalau aku tega mengatakan agak membosankan. Penulis kurang bisa menarik perhatian pembaca untuk terus memegang buku, pada awalnya. Bahkan aku kesulitan memahami bagaimana sih wujud peri yang jadi tokoh utama ini? Maklum, pengetahuanku tentang peri berbeda-beda tergantung buku yang aku baca. Beberapa buku menyebutkan peri itu tinggi seperti manusia, namun di buku ini peri digambarkan hanya setinggi 15 cm namun bisa membesar layaknya manusia dengan sihir yang mereka miliki.

Rasa bosanku tak kunjung reda menjelang bab-bab berikutnya, namun aku paksakan untuk terus menerus berpindah dari halaman ke halaman berikutnya. Akhirnya, aku mulai merasa terjun dalam cerita ini. Bagaimana kisah lengkapnya, silahkan baca ringkasan berikut ini. Tapi, ingat bahwa sekali lagi ini sepenuhnya SPOILER.

Ringkasan cerita

Bryony adalah satu dari sedikit populasi peri yang tersisa di Oak, sebuah pohon tempat para peri bernaung. Peri itu sangat ingin sekali menjelajah ke luar Oak, meski sebentar namun hal itu bertentangan dengan aturan Ratu yang jelas-jelas melarang para peri selain peri pengumpul dan peri pemburu untuk keluar Oak. Ratu menganggap bahwa pergi keluar sangat tidak aman, banyak pemangsa berkeliaran dan juga manusia.

Siang itu, Bryony sangat kebosanan dan mengungkapkan keinginannya untuk terbang keluar, lagi-lagi ia dilarang ibu asuhnya, Wink. Wink memberi berbagai tugas rumah untuk menyibukkan pikirannya menjauh dari dunia luar. Konon, dahulu mereka bebas terbang keluar karena masih memiliki sihir, namun sejak peristiwa Pencabutan, sihir mereka musnah atau kalaupun masih ada hanya sedikit yang tersisa.

Bryony tetap nekat, sama sekali tidak mengindahkan ibu asuhnya. Ia memanjat ke tepian jendela dan terbang bebas ke dahan pohon terdekat. Wink begitu panik melihat si peri kecil berada diluar jangkauannya. Ditengah rasa senang akan kebebasan yang begitu membuncah, pikirannya tiba-tiba dialihkan oleh suara yang berasal dari bawah pohon. Bryony mengintip dan melihat makhluk yang sangat besar, dan memanjat ke arahnya. Monster itu punya rambut hampir sepucat rambut Bryony sendiri tapi lebih kekuningan, telinganya bundar dan aneh. Matanya sebiru mata wink, dan mendadak menatap Bryony. Bukannya takut, Bryony alih-alih merasa takjub akan wajah yang dilihatnya, wajah seorang anak manusia. Sayang, tiba-tiba sosok peri Pemburu, Thorn merenggutnya ke udara dan menjauhkannya dari si manusia.

Thorn si peri Pemburu memarahinya habis-habisan, dan memperlihatkan pada Bryony salah satu peri yang menderita Keheningan –nama salah satu penyakit yang katanya disebabkan oleh kedatangan manusia-. Peri yang menderita Keheningan awalnya marah dan kasar, namun lama kelamaan lumpuh dan sekarang menunggu mati. Bryony shock mengetahui hal ini, rasa penasaran dihatinya terhadap dunia luar menciut. Kengerian itu begitu menyiksa.

Tujuh tahun berlalu sejak pengalaman liarnya terdahulu. Bryony yang sekarang tumbuh menjadi peri remaja yang telah mencoba segala pekerjaan yang pernah ada di Oak, mencuci, mengepel, memoles cermin, menguliti kelinci, dan segala macam pekerjaan rumah tidak penting lainnya. Namun ada hal yang tidak berubah, tekadnya untuk melihat Luar. Itulah sebabnya ia ingin sekali menjadi Pengumpul, yang bertugas mengumpulkan makanan bagi seluruh penghuni Oak dan bebas terbang keluar Oak.

Hari itupun tiba, hari dimana seluruh peri Oak memulai kewajiban barunya. Setiap peri yang telah dianggap dewasa memiliki satu pekerjaan penting bagi koloni, Wink misalnya adalah satu-satunya penjahit di Oak, Thorn pemburu, Wallow tukang masak, Bluebell sang tangan kanan ratu. Tibalah saatnya Ratu Amaryllis memberikan titah pekerjaan untuknya. Pemburu, itulah pekerjaan barunya. Sekarang, ia adalah murid didik Thorn.

Pemburu, pekerjaan paling berbahaya di Oak. Berbeda dengan para pengumpul yang diharuskan selalu membanting tulang dan bersembunyi di lubang perlindungan, Pemburu terbang melindungi dirinya dengan kekuatan dan keahlian. Dan terutama, Pemburu dapat meninggalkan Oak secara berkala.

Hari demi hari kemudian berganti minggu, Bryony berlatih menjadi pemburu tangkas dan gesit dibawah bimbingan Thorn. Suatu waktu ketika keduanya sedang berlatih di Luar, seekor gagak hampir saja mencelakakan mereka, beruntung Bryony mampu menyerang dengan senjata seadanya. Dari situlah muncul keinginannya untuk memiliki senjata baru, sebilah pisau.

Sayangnya, sama sekali tak ada logam di Oak. Satu-satunya jalan adalah menyelinap ke Rumah – tempat manusia-. Tengah malam, Bryony membulatkan tekadnya dan terbang ke Rumah. Sesampainya di sana, dia mendengar bahwa manusia itu berbicara bahasa yang ia mengerti. Ini, kedua kalinya ia bertemu manusia seumur hidupnya. Tapi itu kalah penting dari apa yang ditemukannya, sebilah pisau yang pas dalam genggamannya.

Rasa penasarannya terhadap manusia mulai muncul, bagaimana mungkin peri sebegitu sedikitnya tahu tentang manusia padahal telah hidup berdampingan sejak lama. Dipenuhi rasa penasaran, Bryony bertekad untuk tahu lebih banyak tentang manusia, dimulai dari perpustakaan Oak, dimana buku-buku catatan tentang manusia pastinya tersimpan. Dibantu oleh Campion (pustakawati), Bryony menemukan buku tersebut dan membacanya sepanjang musim dingin.

Melihat ketangkasan Bryony yang semakin tajam, Thorn memutuskan bahwa Bryony sepenuhnya siap menjadi Pemburu tanpa bimbingannya lagi. Malam itu, Bryony memberanikan dirinya kembali mengunjungi Rumah, sepertinya ada kejadian di rumah itu yang membuat dua orang pemiliknya berduka, entah sebab apa.

Sekembalinya dari Rumah, perjalanan pulang ke Oak tidak begitu mulus, ia harus berhadapan dengan seekor gagak dan untungnya diselamatkan Ratu. Sebagai perhargaan atas keberaniannya melawan gagak tersebut, Ratu memperbolehkannya mengganti nama, menjadi Knife.

Knife makin intens mengamati Rumah, Beatrice dan George (pemilik rumah) sedang menantikan kepulangan putra mereka, Paul. Namun sepertinya terjadi sesuatu pada Paul yang menyebabkan keduanya berduka.

Siang itu, Knife ditugaskan menjaga para Pengumpul ketika keluar Oak. Ketika Knife dan para pengumpul sedang berada di semak-semak, Knife melihat ‘Dia’. Dia duduk di atas kursi roda perak mendadak muncul dari pagar tanaman. Berpakaian polos, ramping, dan membeku, memandang ke arahnya, ke arah Knife.

Knife tidak bisa bergerak, mulutnya kering dan tangannya gemetar memegangi pangkal belati yang ada di pinggulnya. Sementara itu, kedua mata biru itu memandangi Knife tanpa berkedip. Seketika, rasa penasaran berkembang di wajah Paul McCormick. Sebuah teriakan dari Beatrice (ibu Paul) menyelamatkan Knife karena Paul memalingkan wajah ke arah panggilan ibunya.

Knife berbaring di tempat tidurnya namun sama sekali tidak bisa menghapusnya bayangan Paul dari ingatannya. Tidak hanya syok yang membuat Knife berlama-lama di sisi Paul,itu ketertarikan. Dialah anak laki-laki yang pernah Knife temui ketika ia kali pertama melangkah keluar Oak.

Knife menyibukkan dirinya dengan menggali lebih banyak dalam buku-buku itu tentang manusia. Ia menemukan bahwa dahulu pastilah ada ikatan antara peri dan manusia.

Sayangnya, kejadian Knife bertemu manusia didengar oleh Ratu sehingga buku-buku tentang manusia yang ada di perpustakaan dibakar seluruhnya untuk mencegah Knife tahu lebih banyak tentang dunia luar.

Knife tetap melajutkan tugasnya menemani para Pengumpul, hingga suatu siang mereka berhadapan dengan seekor gagak. Knife menyerang dan si gagak balas mengejarnya hingga membuat sayap Knife robek, dan jatuh tepat di pangkuan Paul. Sesudahnya, Knife bangun dalam sebuah kotak gelap, di kamar Paul.

Knife memprotes ingin segera dikeluarkan dari kotak itu, namun Paul dengan caranya sendiri mampu membuat Knife tinggal. Awalnya Knife takut, namun setelah mengobrol beberapa saat dengan Paul bahkan melihat sketsa dan lukisannya, membuat Knife takjub. Bahkan Knife mengijinkan Paul melukis dirinya. Luar biasa, lukisan dirinya begitu indah. Sama sekali tak pernah Knife lihat dirinya sedetail itu, bahkan tidak dari cermin di Oak. Malam itu, Knife setuju untuk tinggal di Rumah.

Esoknya, Knife mencoba kabur namun terhalangi oleh seekor kucing peliharaan Paul. Hampir saja nyawanya melayang kalau saja Paul tidak datang tepat pada waktunya. Mereka kembali mengobrol dan Paul menanyakan beberapa hal, Knife menjawab seadanya. Pembicaraan berlanjut hingga ke bidang seni. Paul menjelaskan beberapa seniman terkenal kesukaannya dan menunjukkan beberapa karya mereka. Knife begitu senang karena memperoleh pengetahuan baru dari dunia manusia,sementara Oak sudah kehabisan ide-ide baru. Terus menerus bercerita tentang seni membuat mereka lupa waktu dan malam ini kembali Knife setuju untuk tinggal di Rumah lagi.

Paul menceritakan tentang Alfred Wrenfield, pelukis pertama yang melukis peri. Dan didalam lukisan tersebut terdapat peri laki-laki dan perempuan. Knife menyangkal bahwa di Oak sama sekali tidak ada peri laki-laki dan menceritakan kalau semua peri berasal dari telur. Hal ini membuat Knife bertanya-tanya apakah memang pernah ada peri laki-laki sebelumnya di Oak?

Berkat kebaikan Paul, Knife kembali mendapatkan senjatanya lagi setelah hilang saat berhadapan dengan gagak. Dari Paul, Knife diajarkan bagaimana pandangan manusia terhadap berbagai hal, apa itu sahabat dan sebagainya. Pembicaraan mereka mengalir begitu luasnya, Knife malah semakin betah berada di sisi Paul, namun ia harus kembali ke Oak.

Paul bersedia melepasnya, dan berbaik hati mengantarkan Knife setengah perjalanan ke Oak, di tengah jalan keduanya berpisah. Namun Knife curiga kemana Paul akan pergi dan mengikutinya. Paul tiba di tepi danau berlumpur dan menceburkan diri dengan kursi rodanya. Tak ayal, Knife menyelamatkannya dengan sekuat usaha yang ia bisa meski tubuhnya begitu kecil. Sihirpun terlibat, tiba-tiba tubuh Knife membesar seukuran manusia dan berhasil menarik Paul ke pinggiran danau. Paul selamat, namun apakah Knife berubah menjadi manusia?

Tidak, sihir itu hanya sekejap saja. Begitu mengantarkan Paul kembali ke rumah, Knife kembali ke wujud semula. Namun ia memaksa Paul untuk menjelaskan mengapa ia mencoba bunuh diri?

Paul sedari kecil adalah seniman handal, acapkali menjuarai lomba menggambar sejak ia masih duduk di TK. Ia percaya bahwa lukisan-lukisannya seolah bernyawa,hidup namun beranjak dewasa ia tak lagi memiliki kemampuan melukis seperti dulu lagi. Akhirnya ketertarikannya beralih ke olah raga dayung. Di bidang ini Paul juga selalu menjadi juara dan bermimpi akan menjadi juara dunia olahraga dayung hingga pada suatu malam ia mengalami kecelakaan di depan gerbang sekolahnya dan menjadi lumpuh dari pinggah ke bawah. Sejak itu, ia kehilangan mimpinya, bahkan hidupnya.

Knife kembali ke Oak dan melapor pada Ratu tentang keberadaannya selama tiga hari belakangan tanpa menceritakan detail pertemuan dengan si manusia lantaran takut akan mendapat hukuman lebih parah dibandingkan buku-buku yang dibakar. Namun, sebah buku harian Heather malah tiba dikamarnya, menuntut untuk dibaca. Heather dalam bukunya menjelaskan bagaimana kehidupannya di dunia manusia, inilah yang ingin diketahui Knife. Dari sini pula Knife tahu bahwa peri mampu menyerap kreativitas manusia, bakat manusia sehingga menjadikan para peri bisa belajar hal-hal baru, melukis, menjahit, dll.

Knife sesekali menyelinap ke luar untuk mendatangi Paul ketika ia bisa, bisa lari dari pengawasan Ratu maupun warga Oakenfolk lainnya. Sayangnya hal ini tak berlangsung lama, Ratu menugasinya untuk merawat telur peri yang baru saja menetas, ini tentu menyita waktunya, sebab Knife menjalani peran ganda sebagai pemburu dan pengasuh bayi.

Lantas, bagaimanakah selanjutnya perburuan Knife terhadap asal usul peristiwa Pencabutan terhadap kaum peri? Mampukah Paul menolongnya? Bagaimana? Simak kelanjutan ceritanya di Knife Pemburu Mantra Bagian Ke-2 yaa…

Segera di post. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s