Cerpen #2 : Pendampingmu, Aku?

Terinspirasi dari status BBM yang ku buat beberapa hari lalu, kebetulan mendapat cukup banyak respon. Kebanyakan menyangka aku sedang patah hati, mungkin memang iya mungkin pula tidak ^_^.

“Ku tunggu namaku tercetak di undanganmu, meski sebagai tamu”

Tak hanya respon bertanya “kamu kenapa Jan?”, tapi juga bahkan ada yang curhat, betapa sakitnya melihat orang yang kita sayang bersanding dengan yang lain. Dari respon dan curhatan itu aku menjadikannya ide utama cerpen ini.

Pendampingmu, Aku?

Rintik hujan perlahan turun membasahi butiran debu sore itu. Langit sepertinya berkhianat menjanjikan kecerahan tanpa batas sejak pagi hingga beberapa menit lalu. Siapa sangka, di tengah terik matahari menyengat, hujan mengambil alih bumi.

Dan di sinilah aku, terpaku. Tepat di tengah jalan beraspal kusam, warna aspalnya sudah tak mirip dengan benda apapun yang ku bandingkan, sungguh tak enak di lihat. Garis putih batasnya tak lagi lurus. Sebagian besarnya banyak tersapu debu bahkan hilang sama sekali meninggalkan jejak titik-titik putih, bukan garis putus. Berlubang disana-sini, tak begitu dalam memang namun tetap saja tampak berbahaya untuk pengendara yang tak cukup awas. Tapi, aku tak punya waktu menatap kondisi jalan ini lebih jauh, karena tatapan mataku tertuju ke satu arah…

Sungguh aku tak peduli dengan hujan yang mulai membasahi kemeja putihku, yang baru saja ku beli. Tak peduli bagaimana rupaku. Mungkin riasanku telah hancur sempurna, ah sial kenapa tidak ku kenakan maskara waterproof saja tadi pagi? Ah iya, aku pun tak tahu peristiwa ini akan terjadi…

Rambutku yang sedari tadi terurai rapi, perlahan tertiup angin kesana kemari. Mungkin sudah terlihat semrawut, kusut, berantakan atau lepek sempurna. Kenapa angin sore ini berbeda dari biasanya? Begitu menusuk, menghujam ke setiap inchi permukaan kulit, merambati setiap pori. Biasanya aku selalu suka angin kota ini, begitu lembut ramah menyapa kulit dan terkadang tanpa debu, begitu murni. Sore ini, semuanya berbeda. Semua yang ku kenal, yang selama ini ku rasakan, berubah…

Jadi, inikah? Inikah alasannya?

Kenapa aku begitu buta, tak memperhatikan apa yang terlihat begitu jelas di depan mata. Bagaimana bisa aku melewatkan hal tak terelakkan seperti ini? Sudah berapa teman yang mengabariku, memberiku berita tentang dia. Aku buta, atau membutakan mataku demi dia. Aku tulikan telingaku untuknya, tapi beginikah akhirnya?

Mataku mendadak panas, perih. Selama waktu yang hampir terasa sejam aku tak mengedipkan mata, masih tak percaya apa yang aku lihat. Tak pernah aku menatap se-intens ini, sama sekali tak pernah. Tatapan yang begitu lama meski setiap detiknya begitu menyiksa. Tanpa sadar, setetes hujan merayap masuk ke mataku berlama-lama di sana dan turun merayap melewati pipi. Air hujan ini entah kenapa terasa hangat, semuanya terasa kacau.

Aliran air mata ini tak bisa ku bendung, bukan kebiasaanku menangis seperti ini. Bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali aku menangis. Tapi ini? Di depan umum seperti ini? Terlebih di tengah jalan raya ini? Tak hanya di mata, alirannya masuk jauh ke dasar hati. Detik itu, seluruh pertahananku runtuh. Detik ketika aku melihat ke sana…

Mungkin memang ini jawaban atas pertanyaanku selama ini. Ternyata aku bukan satu-satunya, masih ada antrian panjang yang harus aku lewati. Aku urutan ke berapa? Dua, tiga, empat? Atau sama sekali tak masuk daftarnya? Bisa jadi hanya sekedar selingan belaka.

Mataku, tetap terpaku ke arah sana. Ke arah mereka…

Aku menatapmu, tepat ketika kau menatapnya, lembut, mesra…

Pernahkah kau menyadari keberadaanku? Senantiasa berada di dekatmu, di sampingmu, di sisimu. Mungkin tidak, karena di matamu hanya ada dia. Diakah yang utama, atau kedua, ketiga, lantas aku yang keberapa?

Aku tak sadar tanganku begitu gemetar saat ku lihat tanganmu merengkuh tangannya, bukan tanganku. Sama sekali tak ku sangka, ternyata wanita yang kau cinta adalah dia…

Lantas aku?

Aku tersungkur jatuh menyentuh aspal dekil di bawah kakiku, bahkan lututku tak kuasa bertahan tetap berdiri tegak saat ku lihat kau melingkarkan cincin ke jarinya. Jarinya, bukan jariku. Ternyata cincin itu untuknya, bukan untukku.

Ah, sudahlah. Biarlah aku sendiri berkubang dalam sakit hatiku. Sakitku bukan lagi urusanmu.  Aku mencintaimu, tapi cintamu sepertinya bukanlah untukku. Terima kasih atas segala perhatian yang pernah kau beri, segala puji yang pernah kau ucap, seluruh canda yang pernah kita tertawakan.  Semuanya, segera ku hapusnya hingga sirna tak berbekas.

Karena selama ini ternyata hanya ada AKU, hanya ada KAU, tapi takkan pernah ada KITA. KITA hanya ada sebatas di anganku saja. Saat ini aku cuma bisa menunggu, menunggu namaku tercetak di undanganmu, meski sebagai tamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s