Resensi #6: The Son Of Neptune By Rick Riordan

Judul               :The Son Of Neptune, Heroes of Olympus 2

By                   : Rick Riordan

Image

Tiga bulan berlalu sejak buku pertama dari The Heroes of Olympus, The Lost Hero ku review. Kali ini, tiba giliran buku ke dua dari seri tersebut, The Son Of Neptunus. Lagi-lagi masih berkisah seputar petualangan demigod yang berlatarbelakang mitologi Yunani dan Romawi Kuno. Berbeda dengan buku pertama, yang membahas mengenai Jason, Piper dan Leo, buku kedua ini cerita akan menceritakan petualangan Percy Jackson. Membuat review novel satu ini lebih sulit dari pada buku pertama, karena petualangan Percy seperti tak berkesudahan, lagi dan lagi. Membuatku bingung bagian mana yang perlu diceritakan dan bagian mana yang tidak.

Karena kesibukan yang melanda, maka review kali ini aku bagi menjadi dua bagian. Ini bagian pertama, dan bagian kedua akan segera menyusul. Oke, langsung saja, ini dia.

Ringkasan Cerita

Berbeda dengan Jason yang terbangun di dalam bus dikelilingi oleh teman-teman sekolahnya, Percy malah menghabiskan waktu dengan membunuhi Gorgon yang  semestinya telah mati namun mewujud kembali berkali-kali. Sama sekali tak ada yang diingatnya, kecuali sebuah nama – Annabeth-. Selama beberapa hari terakhir Percy terus berusaha menghindari dua Gorgon yang entah bagaimana selalu bisa mengetahui keberadaan Percy, dan juga berniat membunuhnya.

Percy juga tak mengerti bagaimana bisa pulpennya berubah menjadi pedang, bagaimana Gorgon bisa hidup kembali padahal sudah dibunuh berkali-kali, siapa Dewi Gaea yang mengutus kedua Gorgon ini? Yang diketahuinya saat ini hanyalah, segera pergi dari Gorgon itu sejauh mungkin.

Di tengah kejar-kejaran tersebut, Percy melihat sebuah terowongan menyerupai bunker, di jaga dua orang anak berpakaian aneh ala Romawi. Tiba-tiba muncul seorang nenek gembel yang memberitahukan bahwa itu adalah pintu masuk ke perkemahan. ‘Perkemahan’, kata itu tidak asing di telinga Percy meski dirinya tak tahu pasti apa itu. Sang nenek mengaku bernama June dan meminta Percy menggendongnya hingga masuk ke perkemahan itu.

Percy mau tak mau menggendong  si nenek misterius, dan begitu mendekati pintu gerbang perkemahan mereka terselamatkan atas bantuan panah si penjaga. Ketika akhirnya berhasil lolos memasuki perkemahan, keberadaan sungai Tiberis membantunya mengalahkan Gorgon tersebut, tentu dengan menggunakan kekuatan Neptunusnya – pengendali air – serta berhasil mendapatkan dua vial darah Gorgon. Konon, darah dari bagian tubuh kanan Gorgon adalah obat dan bagian kiri adalah racun mematikan. Tak lama, si nenek tua berpendar dan berubah wujud, ternyata dia adalah Juno (Hera, dalam Yunani).

Juno berkata, “Bangsa Romawi, ku haturkan Neptunus kepada kalian. Dia telah terlelap selama berbulan-bulan, tapi sekarang, dia sudah terjaga. Nasibnya ada di tangan kalian. Festival Fortuna akan segera tiba dan Maut harus dibebaskan (oh, inilah sebabnya Gorgon yang mengejar Percy tetap hidup meski telah dibunuh, karena Maut ditawan.) jika kalian masih ingin menang dalam pertempuran. Jangan kecewakan aku!”

Kedatangan Percy ke perkemahan Romawi membuat Reyna sang Preator Legiun XII (Pimpinan, sama halnya dengan Jason), tidak begitu senang, sebab entah bagaimana Percy merasa Reyna mengenalnya sebelum ini. Reyna segera membawanya ke Principia (aula utama) dan menyuruh agar Percy menceritakan kejadian barusan secara lengkap. Percy memberitahu Reyna tentang pengalamannya selama tiga hari terakhir – Gorgon yang tidak mati-mati, wanitu tua yang ternyata adalah Dewi dan akhirnya pertemuan dengan Hazel dan Frank (penjaga pintu gerbang), serta mengatakan bahwa ingatannya hilang sama sekali. Reyna tahu Percy bukanlah anggota legiun, karena di lengannya tak ada tato SPQR seperti anggota legiun Romawi lainnya. Dan untuk bergabung ke legiun, Percy harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari si peramal.

Setelah dapat wejangan dari Reyna, Hazel mengajak Percy berkeliling perkemahan, menceritakan pembagian Kohort I hingga V (Pasukan). Perkemahan Romawi jauh melebihi apa yang Percy duga, di sini bukan hanya terdapat perkemahan legiun tetapi juga kota dimana seluruh penghuninya merupakan demigod. Di kota tersebut, semua penduduk aman dan senantiasa berada dalam perlindungan legiun.

Mereka berdua kemudian menemui Octavian, sang augur (peramal) di perkemahan tersebut, keturunan Jupiter. Cara meramalnya agak aneh, dengan memutilasi boneka dan mengeluarkan isinya. Pendapat pertama Percy mengenai Octavian, kurus, ceking, tapi bermata kejam. Lagi-lagi di ruangan itu, ramalan tujuh demigod muncul dalam sebuah ukiran marmer di lantai, berbunyi “Tujuh blasteran akan menjawab panggilan. Karena badai atau api, dunia akan terjungkal.” Kabar baiknya, Percy boleh bergabung bersama legiun meski Octavian sendiri tidak menyukai gagasan itu.

Adik Hazel mendatangi Perkemahan, Nico (Nico berasal dari dunia bawah). Mereka berdua adalah anak Pluto. Ketika memperkenalkan Percy dan Nico, Hazel menyadari ada sesuatu yang salah. Nico mengenal Percy, namun tak sudi menceritakan lebih jauh tentang pemuda itu  kepadanya. Nico dan Hazel bercengkerama, sementara Frank ditugaskan untuk menjemput Percy ke acara malam ini. Di tengah reuni kakak-beradik itu, Hazel pingsan dan kembali ke masa kehidupan lamanya, 17 December 1941. Ah, Hazel ternyata telah meninggal, dan kembali lagi ke dunia. Umurnya memang 13 tahun, sejak 70 tahun lalu.

Kisah beralih ke kehidupan Hazel dimasa lampau. Ibunya memanfaatkan kekuatan Hazel yang bisa mengeluarkan benda berharga dari perut bumi untuk menghidupi mereka berdua. Namun, batu perhiasan yang dihasilkan Hazel terkutuk, siapapun yang menyentuhnya akan mendapat malapetaka. Masa kecil Hazel tidaklah bahagia, dirinya sering diperolok sebagai anak tukang sihir oleh teman-teman sebayanya. Malam itu tidak seperti biasanya, ratu Mary (ibunya ingin dipanggil begitu) ingin agar mereka berdua pindah ke Texas. Nico mengguncang-guncangkan tubuh Hazel untuk menyadarkannya dari pingsan, untunglah berhasil. Nico mewanti-wanti Hazel agar mengendalikan emosinya sehingga tidak sering pingsan dan kembali ke masa lalu. Obrolan mereka terpaksa terhenti, waktunya pertemuan malam dan mereka berdua harus berkumpul di lapangan.

Lain Hazel, lagi lagi kisah Frank. Frank adalah demigod keturunan Asia, dengan wajah imut tapi tubuh yang berotot. Selagi menjemput Percy dan mengajaknya ke pertemuan malam ini, pikirannya larut pada masa ketika neneknya mengungkap rahasia besar akan hidupnya. Hidupnya, tergantung dari sepotong kayu. Singkat cerita, jika kayu itu habis terbakar, maka demikianlah pula dengan nyawa Frank. Tapi Frank tak boleh terus-terusan fokus pada kayu bakar itu, saat ini ada pertemuan yang harus dihadiri.

Penentuan Kohort dilakukan pada pesta malam ini. Di antara kohort I hingga kohort V, bukan rahasia lagi bahwa kohort V lah kohort terpayah dalam legiun itu. Isinya merupakan sekumpulan orang-orang culun dan tak cakap dalam bertempur. Nama Kohort V sempat terangkat ketika Jason Grace dipilih menjadi Preator. Frank dan Hazel juga adalah anggota Kohort V.

Sudah bisa ditebak, anggota Legiun lain tidak ada yang mau menjamin keberadaan Percy di perkemahan tersebut, sebab mereka tak yakin siapa dan dari mana asalnya. Hazel, kemudian memberanikan diri untuk menjadi penjamin keberadaan Percy di legiun tersebut. Tak ayal, Percy-pun otomatis masuk menjadi Kohort V mengikuti penjaminnya. Setelah resmi dinyatakan sebagai anggota Kohort V, seluruh anggota legiun memulai latihan perang. Dan biasanya, Kohort V selalu kalah. Tapi malam itu, mereka membuat perbedaan.

Latihan perang itu dibuat seperti games namun dengan senjata sungguhan, dimana dua Kohort bertugas sebagai pemain bertahan dan tiga kohort sebagai penyerang. Malam ini, Kohort V berperan sebagai penyerang bersama Kohort III dan IV. Tugasnya sederhana, mengambil panji-panji yang disembunyikan Kohort I & II, tapi prosesnya sulit. Terutama Kohort I dan II yang sama sekali tak sudi berkerja sama dengan mereka. Jadilah, Kohort V maju sendiri, sementara kedua kohort lainnya menunggu sambil menonton kekalahan Kohort V. Frank dengan ide briliannya, berhasil membuat Percy dan Hazel maju hingga garis pertahanan, dan berhasil mendapatkan panji.

—- Bersambung ke Part 2 —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s