Sense of Lingkungan

2 minggu terakhir ini kegiatanku setiap sore adalah ‘belajar nyetir’. Tidak bisa mengendarai motor bukan berarti tidak bisa nyetir mobil kan? So, here I am. Learning for it.

Sore ini telah sampai pada pertemuan 11 dari 12 kali pertemuan yang dijadwalkan. Over all, secara penguasaan mobil aku dianggap telah ‘agak mapan’ dan diperbolehkan untuk menyetir sendirian nantinya (Kata Instrukturnya), tapi… ada hal fatal yang kurang…

Sense Of Lingkungan

Waktu si instruktur bicara demikian, aku merasa seperti ‘jleb, ngena!’ Seolah aku sudah tahu sejak lama bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun sense of environmentku memang kurang tajam. Aku sering tak peduli dengan apa yang terjadi dengan lingkungan di sekitarku. Tapi sewaktu apa yang aku pikirkan, apa yang aku rasakan kemudian diucapkan tepat didepan wajahku, I feel like ‘Ya, benar! Tapi aku tak tahu harus apa!’

Sifatku yang begitu bukan tanpa sebab. Dulu sekali, aku selalu terbuka pada lingkungan, tapi lingkungan pula yang mengajarkan aku untuk membangun semacam tembok tak kasat mata, penyebab : menipisnya rasa percaya.

Bukan sifatku untuk bertanya terlalu jauh tentang masalah seseorang yang tak ada kaitannya denganku. Anggapanku, jika mereka memang mau curhat maka tetap akan cerita tanpa harus ditanya. Sebaliknya apabila itu memang rahasia, sebanyak apapun dikorek tetap akan terkunci rapat. Mungkin itu salah satu alasan teman-temanku menjadikanku tempat curhatan, sebab 99% rahasia mereka Insya Allah aman. Yang mereka tidak tahu, tempat curhat juga butuh tempat curhat lainnya.

Rasa risih yang ku dapati ketika orang terlalu banyak ingin tahu tentang diriku membuatku berpikir sama, bahwa ‘orang lain juga mungkin tidak senang kehidupan pribadinya dipertanyakan bahkan dicampuri’. Tak heran, aku paling sungkan menanyakan hal-hal privasi ke orang-orang.

Lama kelamaan, tanpa sadar disekelilingku mungkin telah terbentuk tembok dengan sendirinya. Aku seperti punya pembatas dengan lingkungan, dengan orang-orang. Dan terhadap masing-masing orang, bervariasi pula tebal dan tinggi temboknya. Aku menyebutnya ‘Wall Of Defense’. Dinding dimana aku bisa melindungi diriku sendiri.

Kadang ketika mood sedang down, tembok itu seolah menebal dan bertambah tingginya. Sehingga ketika sekelilingku tertawa terbahak entah tentang hal apa, reaksiku nihil. Tak peduli dunia segempita apapun, tembokku telah terbangun dan aku di dalamnya, berkutat dengan pemikiranku sendiri.

Tembok itu tak melulu negatif, sisi positifnya juga banyak. Ketika teman-teman disekelilingku lebih suka berkeluh kesah, berpikiran negatif, tembok itu melindungi. Seolah mampu membendung aura mereka. Seperti aku mampu menciptakan duniaku sendiri, nyaman, aman, tak terusik.

Karena telah terbiasa aman dibalik tembok, keterkejutan menyergap ketika ada yang menyadarkan bahwa aku terlalu lama berada di dalamnya. Segeralah keluar.

Tapi ya begitu, krisis rasa percaya yang membuatku seperti ini…

Semoga, waktu akan kembali mengajariku mempercayai orang lain.

So, Can I trust you?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s