Cerpen #1: Aku Perempuan By Liska Rahayu

Cerpen berikut adalah karya adikku sendiri, yang telah di publish di Suara USU (Tabloid khusus mahasiswa Universitas Sumatera Utara). Berikut kisahnya

AKU PEREMPUAN

Kakiku yang indah terus saja melangkah ke kampus hijau itu. Dengan senyum mengembang di wajahku dan tak lupa gaya berjalan yang elegan bagiku meski sebagian orang memandang jijik dan seolah berkata, “apa kau pantas tersenyum seperti itu?” Aku tetap tak peduli. Kaki panjangku semakin tampak indah dengan perpaduan heels hitam yang sangat kontras dengan warna kulitku yang putih bersih. Rambut panjang hitam sebahuku ku biarkan terurai indah di belakangku. Sesekali rambutku tergerai indah mengikuti arah angin yang menerpa wajahku. Aku tampak cantik. Itu menurutku. Kulit putih bersih, dagu panjang serta hidung mancung yang aku jamin ini adalah seratus persen berkah dari Tuhan untukku. Aku bersumpah sedikitpun tak pernah aku berniat mengubahnya. Bibir merah merekahku yang terbalut senyum manis juga asli dari Tuhan. Mataku hitam bulat, dan ini juga asli. Meski alis ini sudah ku ukir, bukan berarti aku mengubah permberian Tuhan seutuhnya. Tubuhku kurus tinggi semampai, betisku kecil dan semakin menampakkan keindahnnya dengan paha yang juga kecil. Dan aku pikir, aku benar-benar cantik.

Psstt, cantik..” goda beberapa pria yang aku tahu mereka juga kuliah di fakultas yang sama denganku. Aku hanya tersenyum menanggapi mereka.

Woi, banci. Berani sekali kau  kuliah di sini.” Hardik salah seorang dari mereka. Sesaat hatiku mencelos mendengarnya. Tapi aku kembali rileks dan melayangkan senyuman terbaikku.

“Awas jangan dekat-dekat, ntar digodain.” Sahut seorang gadis yang aku tahu dia teman sekelasku. Salah seorang yang sering mengolokku.

Aku bahkan tak berani memakai heels setinggi itu.” Ucap salah seorang gadis lain saat aku berbelok memasuki gerbang kampusku. Sementara aku semakin membuatnya panas dengan melemparkan senyum manis di wajah cantikku ini yang aku sadar aku lebih cantik dari dia. Dan benar saja, dia mendecak kesal melihatku.

Ki, santai aja. Mereka gak  kenal kamu, kan? Jangan gubris omongan mereka.” Ujar Bella menenangkanku saat aku menggerutu kesal padanya. Aku adalah anak baik-baik, terlahir dari keluarga baik-baik dan dibesarkan pula dengan cara baik-baik. Tapi orang-orang bertingkah seolah menohokku dengan kata-kata mereka.

Aku terlahir sebagai seorang pria, tapi sudah lama aku memiliki sifat yang keperempuan-perempuanan. Aku memang dididik baik-baik, tapi aku pikir aku sangat dimanjakan oleh ibu dan ketiga kakak perempuanku. Tapi sedikitpun aku tak pernah menyalahkan mereka jika aku begini. Waktu kecil, saat anak laki-laki seusiaku bermain mobil-mobilan, aku  lebih senang bermain boneka. Dan ketika teman-temanku mengajakku bermain bola, aku malah lebih memilih bermain masak-masakan bersama ketiga kakakku.

Hidupku terus berlanjut seperti itu. Perawakan dan watakku semakin lembut dan menyerupai wanita kebanyakan. Perlahan aku mulai merasa risih dengan tubuhku sendiri. Aku ingin memiliki semua yang wanita miliki. Aku mulai menyadari bahwa sesungguhnya aku adalah perempuan, hanya saja terjebak dalam tubuh pria ini. Aku semakin gusar dan sangat tidak nyaman ketika aku menerima komentar pedas dan menyakitkan dari orang-orang di sekitarku. Aku berperawakan lembut dan manis, wajah dan tubuhku juga cantik seperti seorang wanita seutuhnya. Tapi nyatanya, aku berada dalam tubuh pria dan mereka tak bisa menerima itu.

Rasa ketidaknyamananku akhirnya berhenti saat aku memutuskan untuk melakukan operasi jenis kelamin. Keluargaku menolak keinginanku habis-habisan. “Itu aib, Risky.” Kata mereka. Awalnya aku ragu, tapi aku pikir aku bodoh jika meneruskan hal yang membuatku terbelenggu, padahal aku bisa bebas darinya. Dengan keyakinan yang sangat besar, aku akhirnya benar-benar melakukan operasi itu.

Setahun setelahnya aku masih merasa sakit pada bagian bawah tubuhku. Sampai masuk ke tahun kedua aku melakukan operasi, aku mulai merasa nyaman dan menjadi orang baru. Menjadi seorang perempuan cantik dan baik. Menjadi pribadi yang tak memunafikkan diri dengan memaksakan kelamin yang dulu bersamaku. Kini aku merasa bahwa kelamin dan genderku sudah setara.

Orang tuaku mengetahuinya dan mereka menyambutku dengan amarah dan cacian. Sempat terbesit di kepalaku untuk bunuh diri, tapi aku terlalu bodoh jika mengikutinya. Aku bertahan dengan keyakinanku bahwa masa depan yang lebih baik bisa ku dapat dengan perasaan nyaman pada diri sendiri, yang selama ini tak pernah aku dapatkan. Dan pada akhirnya, orangtuaku dapat menerimaku kembali ke keluarga besar kami.

Dasar perempuan jadi-jadian.” Seru seseorang memecah keheningan yang terjadi antara aku dan Bella, sahabat baikku yang dapat menerima aku apa adanya dan menjadi tempatku mencurahkan segala keluh kesahku.

Jangan hiraukan! Kau adalah perempuan.” seru Bella.

Yah, aku memang bukan perempuan seutuhnya seperti mereka. Meski fisikku sama dengan mereka, tetap saja aku tak sama seperti mereka. Tapi itu tidak menjadikan mereka lebih baik dariku. Aku perempuan dengan semua perasaan dan jiwaku. Jika mereka bertanya, “ Perempuankah kau?” aku akan dengan tegas menjawab, “ Aku perempuan.”

***

Aku terus berjalan gagah dengan baju kemeja yang kancingnya sengaja aku buka dan menampilkan kaos metalku di baliknya. Sepatu ketsku yang agak kotor tak membuat aku menundukkan kepalaku ketika berjalan. Tas ranselku yang biasa aku bawa naik gunung juga bertengger megah di pundakku. Aku melangkah dengan pasti menghadapi kehidupanku yang katanya keras ini.

“ Bang, cemana? Naek kita besok?” tanya seorang teman padaku. Yah, aku pikir teman-temanku tidak pernah menganggap aku sebagai seorang perempuan. Mereka kerap kali memanggil aku dengan sebutan ‘abang’.

Wong wedok kok kayak gitu sih, Ndok?” itu adalah ucapan ibuku setiap harinya ketika aku akan berangkat kuliah. Dia selalu protes akan gayaku yang katanya sama sekali tidak perempuan.

Terkadang aku berpikir, seperti apa perempuan sebenarnya? Bagaimana wujud perempuan yang baik dan benar? Apa definisi untuk bisa mendeskripsikan perempuan sebenarnya? Apa menjadi tomboy adalah hal yang salah sebagai seorang perempuan? Ada wanita-wanita cantik yang sering mengenakan pakaian cantik dengan riasan wajah yang menambah kecantikan mereka. Tapi setelah aku lihat lebih dalam, mereka terbahak-bahak saat tertawa. Ada juga temanku yang berpenampilan biasa saja, ternyata setelah aku selidiki dia adalah atlet panjat tebing. Apakah gambaran perempuan-perempuan yang aku ceritakan itu adalah perempuan yang salah?

Timbul lagi pertanyaan dalam diriku. Memangnya saat membela hak kaumnya, apakah Raden Ajeng Kartini mengenakan Heels dan rok. Atau apakah beliau yang notabene adalah keluarga bangsawan tidak pernah mengenakan celana? Atau apakah beliau tidak pernah bermain gunduh saat kecil?

Dan untuk itu, apakah keperempuananku masih dipertanyakan? Aku pikir setiap perempuan memiliki problematika dan cara mereka sendiri untuk memperempuankan diri mereka. Itu pasti.

Boy, perempuan kah kau?” tanya temanku dengan nada meledek.

“ Aku perempuan. Selamanya akan begitu.” Ucapku mantap.

***
Review:
Karena ini karya adikku sendiri, tak akan ku cela sejauh itu ^_^.
  • Pertama, ini ceritanya cukup bagus meski terbilang umum. Sederhana, tapi porsi ceritanya pas, tidak terlalu panjang tapi cukup menggambarkan kegetiran si tokoh.
  • Kedua, dialog-dialognya dibuat sesuai dengan setting cerita, kampus. Hanya saja beberapa dialog telah aku edit dari naskah aslinya karena logatnya kental ‘Medan’. ^_^ Sepertinya kurang cocok jika dipublis dengan kosakata itu.
  • Ketiga, aku paling suka kalimat “Aku pikir setiap perempuan memiliki problematika dan cara mereka sendiri untuk memperempuankan diri mereka“. Ya, semua wanita, memang punya caranya sendiri untuk mewanitakan dirinya.
  • Nice story, Sist… Proud of you… ^_^

One thought on “Cerpen #1: Aku Perempuan By Liska Rahayu

  1. You post interesting articles here. Your website deserves much more
    traffic. It can go viral if you give it initial boost, i
    know very useful service that can help you, just type in google: svetsern traffic tips

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s