“Tanggung Jawab Dunia Akhirat”

Tanggal 18 Januari kemarin, salah seorang teman kantor (Rizki Indraswari) melangsungkan akad nikah, yang bertempat di kota Padang. Aku dan beberapa orang teman lainnya diberikan kesempatan untuk menyaksikan langsung prosesi sakral tersebut.

DSCN1601

Acara dimulai pukul 14.00 WIB bertempat di Masjid Darul Falah, Komplek Cimpago Permai Kel. Koto Lua Pauh Padang. Aku, Bang Pepen, Dina & Chaca tiba disana tepat waktu meskipun melalui semacam konflik dan intrik dengan travel yang mengantarkan kami. ^^.

Tak lama kemudian acara langsung dimulai, terlihat pembawa acara mengambil alih agenda acara, dimulai dengan pembacaan ayat suci AlQur’an oleh Ustadz yang menghadiri acara tersebut.

Kemudian, tibalah saatnya kedua mempelai berbahagia (Rizki dan Vanny) sungkem ke orang tua masing-masing dan calon mertuanya. Acara ini berlangsung singkat dan diiringi dengan pembacaan semacam puisi berbahasa Minang yang tak ku simak betul apa maknanya. :p

Setelahnya giliran mamak (paman) dari pihak perempuan yang menyampaikan wejangan, ini termasuk ada istiadat Minangkabau dimana Paman merupakan penanggungjawab dari mempelai wanita tersebut. Aku tak memiliki kompetensi untuk menjelaskan adat istiadat Minangkabau disini, jadi akan aku lanjutkan saja ceritanya. ^_^

Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba, Pengikraran Ijab Qabul. Penghulu segera bersiap-siap, dengan memberikan sedikit wejangan dan nasihat kepada mempelai. Untuk bagian yang ini, aku menyimak dengan sungguh-sungguh… Hahahah..😀 Beberapa diantaranya yang masih aku ingat…

  1. Ijab Qabul itu bukan hanya sekedar lafadz, melainkan ikrar serah terima atas tanggung jawab si wanita dari ayahnya kepada suaminya, termasuk menanggung jawabi perilaku, sikap, tutur kata, akhlak dan dosa istri akan dipikul oleh suami. Jadi, sejak dinyatakan sahnya ijab qabul, maka gugurlah kewajiban ayah akan putrinya. Sebaliknya, mulailah tanggung jawab suami akan istrinya. Jadi, jika suatu hari istri melakukan kesalahan, maka tugas suamilah untuk mengingatkan karena dosa atas perbuatan tersebut juga ditanggung olehnya. Dan juga amal perbuatan baik istri tersebut tentunya juga menjadi pahala bagi si suami, seimbang kok… nggak usah cemas ^_^.
  2. “Seandainya manusia diperbolehkan sujud kepada manusia lain, tentu akan aku perintahkan seorang istri untuk sujud pada suaminya, (HR. Tarmidzi)”. Penghulu pun menjelaskan maksud hadits itu, bahwa si Istri harus taat, patuh dan berbakti pada suaminya karena tugas dan tanggung jawab suami yang begitu besar atas dirinya kepada sang Pencipta. Yang cewek-cewek…harap dicatat!!! Wkwkwkwk.
  3. Jangan membeda-bedakan yang mana orang tua yang mana mertua. Karena kesemuanya sama. Cintai mertua seperti halnya menyayangi orang tua. Namun bagi para orang tua, tidak diperkenankan mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya karena dikhawatirkan akan terjadi perselisihan antara keduanya. (Ini wajib disimak nih… :p )

Banyak lagi sebenarnya yang diutarakan oleh bapak Penghulu, tapi ketika tulisan ini dibuat aku cuma ingat segitu. :p Maaf…

Balik lagi ke cerita…

Yang akan melaksanakan ijab qabul adalah ayah mempelai wanita dan bg Rizki (mempelai pria), dan sebelum akad terlebih dahulu penghulu menyuruh keduanya untuk masing-masing mencoba mengucapkan lafadz tersebut. Bang Rizki dengan sigap langsung melafadzkan, namun terlalu terburu-buru dan penghulunya langsung mengomentari, “Kenapa terburu-buru? Apa yang mau dikejar?” Otomatis seruangan tertawa mendengar candaannya. Pak Penghulunya cukup lawak, jadi apa yang diucapkannya selalu membuat hadirin tertawa termasuk mempelai, mungkin memang dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan bang Rizki :p.

Memasuki acara inti, seluruh pihak yang berkepentingan mengambil posisi. Kak Vanny pun yang tadinya duduk agak menjauh sekarang disandingkan tepat di sebelah mempelai pria. Wali (ayah) dan mempelai pria berjabat tangan dan mengucapkan lafadz ijab dan segera disambut oleh lafadz qabul oleh mempelai.

Dan…pada percobaan pertama, para saksi langsung menyatakan “SAHHHHH!!!!”

Alhamdulillah…

Teman sekantorku, yang kadang menyebalkan tapi selalu bisa diandalkan, yang biasanya suka melucu nggak jelas, akhirnya sudah sah dimiliki orang lain. ^_^

Sedih? nggak sih, malah pada waktu acara ikut deg-degan…padahal sama sekali nggak ada hubungannya dengan ku :p.

Agak beda dengan acara Akad nikah abangku sekitar 5 tahun lalu. Aku bahagia dengan pernikahannya, tapi juga tidak memungkiri ada sedikit rasa sedih. Abang yang selama ini selalu tinggal bersama sejak kecil, meskipun suka rese’ dan mengganggu tapi selalu bersedia menolong aku dimanapun dan tentunya juga bisa diandalkan. Eh, tiba-tiba pada suatu hari dia menjadi hak milik orang lain. Kebayang nggak tuh??? T_T Sekali abang tetaplah abang, tapi feelnya udah agak beda. Aku tentunya tidak bisa lagi manja-manja nggak jelas, bercanda-canda nggak karuan. Merasa kehilangan pada saat itu. Mungkin itu juga kali ya yang dirasain adik-adiknya bang Rizki… Who Knows!!

Jadi, untuk kalian para abang-abang yang punya adik perempuan, sayangi dulu ya mereka  sebelum kalian menikah…

Oh ya, hampir lupa menceritakan satu hal. Ketika akad nikah dilangsungkan, dan dengan lantang bang Rizki mengucapkan Ijab Qabul, dia benar-benar terlihat Amazing!!! Cool!!! Sangat amat keren!. ^_^

Tiba-tiba aku sadar pemikiran tentang definisi cowok keren selama ini terasa sangat dangkal. Wkwkwkkw… maaf ya. Selama ini definisi keren itu cuma nyantol di mata, bukan di hati.

Kesimpulan:

“Belumlah seorang suami dikatakan suami yang amanah sebelum ia mampu membimbing dan membahagiakan istrinya, dan belumlah seorang istri dikatakan istri solehah sebelum ia berbakti pada suaminya”

Setuju???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s