Resensi #4 : Perahu Kertas By Dee

10 09 2012

“Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memendam dan diam”

Ini novel Indonesia pertama yang ku baca sekitar 4 bulan terakhir. Novel ini membuat aku merasa kembali menginjakkan kami di bumi. Soalnya, novel-novel terjemahan yang kubaca sebelum ini berkisah seputar makhluk-makhluk fiksi, mulai dari vampir, manusia serigala, fallen angel, dan sebagainya yang tak mampu lagi diingat saking banyaknya. Makanya kehadiran perahu kertas dalam daftar bacaanku membuat aku seolah balik ke dunia, setelah terlalu lama menghuni dunia makhluk fiksi.

Image

Perahu kertas, judul yang sederhana sama halnya dengan kisah cerita keseluruhannya. Dee membuat cerita seperti buku harian lengkap dengan tanggal dan nama kota. Sudut pandang bergantian disesuaikan dengan isi cerita, terkadang dari sudut pandang Kugy, Keenan bahkan tak jarang pula dari sudut pandang tokoh-tokoh lainnya.

Oke, langsung saja ini ringkasan ceritanya. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa ini seluruhnya spoiler, Warning!!!

Ringkasan Cerita

Kisah berawal di Juni 1999 Amsterdam, Belanda, dimana Keenan telah menghabiskan hidupnya selama 6 tahun dan kini diharuskan pulang kembali ke tanah air dan meninggalkan kegiatan melukis yang selama ini ditekuninya demi janjinya kepada sang ayah.

Sementara itu di Jakarta, Kugy tengah bersiap-siap mengemas barang-barangnya dan berangkat ke Bandung, melanjutkan kuliah disana. Kugy merupakan satu dari lima anak di K family, yang seluruh anggota keluarganya berinisial K. Menurut mereka semua, Kugy lah yang paling aneh tingkahnya. Dia bahkan berniat mengganti namanya jadi Karma Chameleon, karena menurutnya itulah yang cocok. Sementara berkemas, Noni sahabatnya sejak kecil menelpon dan menanyakan persiapan Kugy dan berjanji untuk menjemputnya di stasiun, karena Noni telah lebih dulu tinggal di Bandung dan juga sudah menyiapkan kamar kost untuk Kugy tepat disebelah kamarnya sendiri. Sejak dulu, Nonilah yang selalu mengurus dan menjaga Kugy, kasarnya sih Baby Sitternya Kugy. Sifat mereka berdua sungguh bertolak belakang, Noni yang selalu teratur dan Kugy sebaliknya serampangan. Di Bandung nanti, Kugy mengambil jurusan Sastra demi mengejar cita-citanya menjadi penulis dongeng, sewaktu sekolah Kugy juga menjadi pimpinan redaksi majalah sekolahnya, intinya Kugy sangat bekerja keras demi menggapai mimpinya itu.

Sejak kecil Kugy memiliki kebiasaan menghanyutkan perahu kertas ke laut, berisi tentang curhatannya kepada Neptunus. Kebisaan ini muncul karena Karel kakakknya memberitahukan bahwa zodiak Kugy adalah Aquarius. Dan Kugypun menghayal bahwa dirinya adalah agen mata-mata Neptunus yang sengaja diletakkan di Bumi untuk mengamati dunia atas dan melaporkannya. Sejak saat itu, Kugy selalu menghayutkan perahu kertas ke laut, atau ke sungai terdekat dengan tempat tinggalnya. Sebelum berangkat, Kugy kembali menghanyutkan perahu kertasnya sebagai pemberitahuan kepada Neptunus bahwa dirinya akan pindah ke Bandung.

Keenan yang diterima di universitas di Bandung, juga mempersiapkan keberangkatannya, dan yang akan menjemputnya di stasiun adalah sepupunya sendiri, Eko yang sudah 10 tahun tak bertemu. Keenan menyadari betul bahwa mungkin saja Eko dan dirinya sendiri saling tidak ingat satu sama lain, namun mamanya telah mengantisipasi dengan menyuruh Eko membawa tulisan nama Keenan ketika sampai di stasiun. Dari sini pula mulai diketahui bahwa papanya Keenan sama sekali keberatan dengan hobi melukisnya, terlihat dari ekspresi papanya ketika hendak mengantarkan Keenan ke stasiun.

Kugy yang sedang tidur siang terpaksa harus bangun karena Noni dan pacarnya, Eko mengajaknya ke stasiun untuk menjemput sepupunya Eko yang datang dari Jakarta. Kugy menolak karena ia sama sekali tidak mengenal sepupunya Eko dan merasa tak ada keterkaitan dengan dirinya, sedangkan Noni kan pacarnya Eko, tentu harus ikut menjemput. Dengan polosnya Noni mengemukakan alasan bahwa Fuad (nama mobil Eko) selalu terancam mogok dan untuk itulah tenaga Kugy dibutuhkan. Lalu Kugy yang ogah-ogahanpun terpaksa ikut, dan memilih untuk tetap memakai kostum tidurnya barusan, celana batik kusam pendek dan kaus “Lake Toba” kegedean yang menurut Noni pantas dijadikan kain lap, dan bahkan rambutnyapun sama sekali tak disisir. Jadilah Kugy seperti gadis gelandangan. Eko menertawakan penampilannya, namun yang ditertawakan malah bangga. Itulah satu dari sekian ratus keanehan Kugy.

Sesampainya di statiun barulah Eko ingat bahwa tulisan nama sepupunya tertinggal. Jadilah Kugy terpaksa menyabotase loket pengumuman guna menyebutkan nama Keenan. Ternyata Keenan adalah cowok yang barusan menegurnya tadi, cowok yang menurut Kugy paling cakep yang pernah dilihatnya. Di stasiun itu, pertemuan pertama mereka.

Mereka berempat, Kugy, Keenan, Eko dan Noni lama kelamaan menjadi akrab. Selagi memainkan permainan lingkaran suci (semacam truth or dare) diketahuilah bahwa dulu Eko sempat naksir Kugy, dan disambut dengan cemoohan dan tertawaan yang lainnya. Lalu, Kugy memberikan Keenan buku dongengnya yang sangat sakral bagaikan harta karun pribadinya. Kugy sendiripun heran kenapa ia berani memberikan harta karunnya itu kepada orang asing yang baru saja dikenal. Setelah itu, Keenan lantas membaca buku dongeng tersebut, dan terpukau akan imajinasi gadis itu namun sangat prihatin dengan kemampuannya menggambar. Tak ayal, Keenan tiba-tiba ingin menggambarkan ilustrasi sesuai dengan dongeng yang ada dibuku Kugy tersebut.

Setelah membaca dongeng buatan Kugy, Keenan mengakui bahwa dirinya memang penulis berbakat. Akibatnya mendadak Kugy salah tingkah, dan meminta melihat lukisan-lukisan Keenan. Di kostnya, Keenan memperlihatkan berbagai jenis lukisan yang telah dibuatnya dan menyuruh Kugy menebak salah satu judulnya. Tak disangka, Kugy dapat menebaknya dengan tepat.  Kugy menyebutnya radar Neptunus, karena mereka berdua sama-sama Aquarius. Disinilah mereka saling curhat tentang cita-cita dan mimpi mereka yang bertolakan dengan keinginan orang tua. Kemudian, Keenan menyerahkan buku sketsanya pada Kugy. Ya, sketsa dongeng yang dibuatnya semalaman untuknya. Kugy terharu saking indah dan seolah benar-benar mampu memvisualisasikan imajinasinya. Ketika tahu kalau buku itu sengaja dibuat untuknya, Kugy refleks memeluk Keenan.

Mereka bahkan menonton film midnight bersama sehingga calo tiket langganan (Mas Itok) berpikir mereka double date, Eko dan Noni, Keenan dan Kugy. Pada suatu malam Minggu, ketika di bioskop, Eko berceletuk, “Gawat, gara-gara keseringan nonton midnight bareng, kita berempat nanti bisa jadi double date beneran.”

“Aminnn”, sahut Keenan. Walaupun kesannya bercanda, di sini pembaca mulai yakin bahwa Keenan memang punya hati terhadap Kugy.

Jadwal nonton selanjutnya, Keenan dikejutkan dengan informasi baru Kugy ternyata telah memiliki pacar.

Setelahnya, Keenan jadi agak menghindar dari Kugy. Keenan yang memang jarang ada di kampus, semakin susah ditemui. Ketika bertemu, Kugy langsung minta pendapat Keenan tentang cerpennya yang baru saja diterbitkan di salah satu majalah. Sama sekali diluar prediksi, Keenan ternyata tidak menyukai cerpen buatan Kugy itu, karena menurutnya tidak memiliki nyawa. Kugy terkejut mendengar penuturan itu, karena penasaran lalu ia membandingkan tulisan dongeng dan cerpennya, akhirnya barulah ia menyadari apa yang dikatakan Keenan benar adanya. Di dongeng, dia menulis sesuai dengan keinginan hatinya, namun dicerpen ia mendapati bahwa ia menulis demi menyenangkan pembaca.

Liburan semester, Keenan dan Kugy pulang bareng ke Jakarta naik kereta. Perjalanan ini benar-benar membangun chemistry antara mereka berdua. Pembaca akan merasakan bagaimana arti dari perjalanan singkat ini bagi kedua tokoh tersebut. Di stasiun, Kugy terpaksa harus berpisah dengan Keenan karena Joshua (pacarnya) menjemput. Joshuapun langsung curiga bahwa ada sesuatu antara Keenan dan Kugy.

Keenan minta ijin orang tuanya untuk berlibur ke Bali, tempat Pak Wayan. Disana ia akan melukis kembali, hal yang sudah lama tidak dilakukannya. Dengan predikat IP tertinggi seangkatan, Keenan mendapatkan ijin. Sebelum berangkat, terlebih dahulu ia berpamitan pada Kugy via telepon. Sebagai oleh-oleh, Kugy minta dibuatkan sesuatu yang spesial.

Di Jakarta, Kugy memiliki proyek membuat buku dongengnya yang digabung dengan ilustrasi Keenan. Berhari-hari ia mengerjakannya, untuk diberikan di hari ulang tahun Keenan yang tepat sehari setelah ulang tahunnya sendiri. Sementara itu di Ubud, Keenan juga tengah menyiapkan pahatan spesial untuk hadiah ulang tahun Kugy.

Setelah masuk kuliah lagi, minus Keenan yang masih liburan di Bali, Eko dan Noni berencana menyomblangi Keenan dengan Wanda (sepupunya Noni) yang akan datang ke Bandung beberapa hari lagi. Kugy tentunya tak bisa mendukung rencana mereka, namun tak bisa mengungkapkan alasannya. Di kost, Kugy ingin curhat pada Noni tentang apa yang selama ini dia rasakan, keanehan-keanehan yang timbul dalam hatinya menyangkut Keenan. Namun yang diajak curhat malah semangat cerita mengenai Wanda, alhasil Kugy mengurungkan niatnya.

Hari yang ditunggupun tiba, Wanda datang ke Bandung dan Keenan juga sudah tiba di kostnya. Dari kacamata Kugy, Wanda merupakan wanita yang sangat cantik dan feminin, sangat berseberangan dengan perilakunya. Kugy agak optimis bahwa Wanda bukanlah tipe Keenan sama sekali.

Noni dan Eko berencana mengajak Wanda ke kost Keenan, Kugy menolak ikut. Sepanjang malam, Kugy agak was-was mengenai hasil pencomblangan mereka. Jauh di dalam hatinya ia ingin agak proyek Noni itu gagal total. Tapi siapa sangka, ternyata Wanda adalah seorang kurator sekaligus putri pemilik galeri Warsita (ceritanya ini galeri terbesar di Jakarta). Wanda sangat mengagumi hasil karya Keenan. Setelahnya, Noni menceritakan keberhasilan usaha mereka pada Kugy. Malamnya, Kugy menangis dan menyadari bahwa ia benar telah jatuh cinta pada Keenan.

Untuk mengalihkan perhatiannya dari Keenan dan Wanda, Kugy bergabung menjadi pengajar di Sakola Alit, Sekolah khusus anak-anak kurang mampu yang berada di kawasan kumuh Bandung. Alhasil, kesibukan baru ini benar-benar membuat Kugy kehilangan waktunya berkumpul bersama Keenan, Eko dan Noni.

Wanda memiliki rencana besar mengenai lukisan Keenan, yaitu membujuk ayahnya untuk memasukkan lukisan Keenan dalam galeri mereka. Tentu saja Wanda punya tujuan lain dibalik itu semua, ia menyukai pelukisnya.

Keenan sengaja menunggu Kugy keluar dari kelasnya, saking susahnya anak satu ini ditemui. Keenan mengajak Kugy untuk nonton bareng lagi, namun mendengar nama Wanda yang juga ikut maka Kugy dengan berat hati menolak ajakan itu. Kembali Keenan memberitahukan kabar baik bahwa lukisannya akan masuk galeri Warsita, dan Kugy mengucapkan selamat. Sebagai perayaan, Keenan mengajak Kugy makan namun lagi-lagi ia menolak.

Mas Itok, menyangka bahwa Wanda adalah pacar baru Keenan sewaktu mereka berempat nonton. Wanda malah senang disebut begitu.

Cerita beralih ke Kugy dan Ojos (Joshua), saat ini Ojos mulai menyadari adanya perubahan pada sikap Kugy. Ia tak seceria biasanya, malah terkesan murung. Ia pun lalu menanyakan hal tersebut pada Noni, apakah ada hubungan kondisi mood Kugy dengan Keenan, tapi Noni menidakkan.

Di Sakola Alit, Kugy yang awalnya merasa kewalahan menangani anak-anak tersebut mulai mendapatkan ide ampuh, yaitu dengan membuatkan mereka dongeng yang tokohnya merupakan diri mereka sendiri, yang kemudian diberi judul “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit”.

Kugy di ajak jalan oleh Eko dan Noni, namun siapa sangka ternyata mereka malah menuju ke galeri Warsita dimana hari tersebut merupakan hari pertama lukisan Keenan resmi dipajang. Kugy merasa salah tingkah, pertama karena kostumnya yang pas-pasan sama sekali tidak sesuai dengan suasana pesta di galeri dan kedua karena Keenan dan Wanda terlihat sangat akrab. Bahkan Wanda dengan terang-terangan sok dekat kepada keluarga Keenan.

Suatu hari, Keenan mendatangi Sakola Alit. Kugy senang bukan main. Tidak hanya berdampak positif pada moodnya hari itu, anak-anak Alit juga bersemangat meminta Keenan menggambar ini itu. Setelahnya, mereka mengobrol panjang lebar. Momen ini memang sangat berkesan, pembaca akan ikut hanyut pada pengakuan dan penuturan kisah mereka akan mimpi dan cita-cita yang ingin mereka raih, Kugy menjadi penulis dongeng dan Keenan menjadi pelukis. Sebagai ganti hari yang sangat berkesan itu, Kugy memberikan buku tulis berisi kisah petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit pada Keenan. Keenan mengatakan bahwa selama Kugy tidak ada, ia sangat merasa kehilangan. Kali ini gantian, Keenan yang memeluk Kugy.

Sesuatu tergerak dalam diri Keenan, setelah membaca buku Kugy tersebut ia memutuskan untuk melukis sebuah lukisan yang akhirnya diberi judul yang sama, Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.

Sudah hampir seminggu Keenan membolos kuliah, Eko akhirnya memutuskan untuk menjenguk sepupunya itu. Ternyata Keenan sedang menyelesaikan lukisan terbarunya. Pada kesempatan itu pula Eko menanyakan bagaimana perasaan Keenan pada Wanda. Keenan mengatakan bahwa ia lebih tertarik dengan… (menurutku dia hampir mengatakan Kugy) namun ucapannya dipotong Eko. Keenan mengakui bahwa Wanda itu cantik, pintar dan banyak membantunya, malah Keenan menyukainya namun entah kenapa rasanya ia tak yakin ingin dijadikan pacar.

Malamnya, yang diobrolin datang ke kost Keenan. Wanda memberitahukan kabar baik bahwa lukisan Keenan yang ada di galeri telah habis terjual. Mereka berdua lalu makan di suatu restoran, dan dengan blak-blakan Wanda mengakui bahwa dirinya mencintai Keenan, sedangkan cowok yang dimaksud masih bimbang namun memutuskan untuk bersedia memulai semuanya dan setuju untuk pacaran.

Sementara itu, Ojos sedang mengajak Kugy untuk liburan ke Bali, dan setelah dibujuk susah payah akhirnya setuju. Ketika pulang ke kostnya, Kugy mendapat kabar mengejutkan dari Noni yang mengatakan bahwa rencananya sukses besar, Keenan dan Wanda jadian. Kugy cuma berdiri mematung, mengingat kenangan-kenangannya bersama Keenan dan sadar kalau selama ini ia ternyata salah harap.

Suatu malam, Kugy dan Ojos nonton berdua. Eh, malah mas Itok dengan rese’nya bertanya apakah itu pacar barunya Kugy? Ojos kontan curiga dan menanyakan hal yang sebenarnya, namun Kugy malah mengatakan bahwa dirinya batal pergi ke Bali karena Sakola Alit ada ujian. Mereka berdua bertengkar, singkat cerita mereka pun putus karena Ojos merasa bahwa dirinya selalu dinomor-terakhirkan oleh Kugy.

Di kost Keenan, Wanda, Noni dan Eko sedang merencanakan pesta ulang tahun Noni. Dan Wanda dengan sukarela menjadi EO-nya. Noni yang heran dengan perubahan style Wanda mengatakan bahwa sekarang ia tampak lebih mirip Kugy. Wanda langsung naik pitam dan bertanya pada Keenan apakah betul Keenan sengaja ingin mengubahnya seperti Kugy?

Demi mencapai impiannya untuk hidup mandiri dengan melukis, Keenan akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah dan minggat dari rumah. Dia dan papanya bertengkar hebat sampai-sampai Keenan tak lagi diijinkan pulang.

Keenan berhenti kuliah sedangkan Kugy malah ingin cepat-cepat lulus dari kampus itu dan memutuskan mengambil semester pendek sementara anak-anak lain liburan semester. Ia sudah tidak tahan lagi, terutama setelah dijauhi oleh teman-temannya akibat aksi diamnya. Kugy akhirnya mengetahui dari Wanda bahwa Keenan berhenti kuliah, iapun semakin sadar bahwa dirinya bahkan tak punya tempat apa-apa dalam hati Keenan, karena berita sepenting ini tak diberitakan padanya.

Noni yang awalnya kesal akan sikap Kugy, akhirnya mengundang Kugy ke pesta ulang tahunnya di Jakarta. Kugy berniat hadir, namun setelah mengetahui bahwa pesta tersebut diadakan di rumah Wanda, niatnya batal.

Pesta Noni terbilang tidak sukses, karena tamu agungnya, Kugy tidak muncul. Nonipun menyerah pada sikap Kugy dan tak ingin berteman dengannya lagi. Wanda yang tengah mabuk marah-marah pada Keenan karena selama ini Keenan tak pernah menunjukkan perhatian padanya, dan terungkaplah bahwa yang membeli lukisan-lukisan Keenan di galeri adalah Wanda.

Bukan main hancurnya hati Keenan mendengar pengakuan Wanda, detik itu juga mereka putus. Namun Keenan terlanjur kehilangan kepercayaan diri untuk melukis lagi.

Ketika sedang asyik mengajar, Kugy dikejutkan oleh kedatangan Keenan di Sakola Alit. Dengan kehadirannya, Keenan mampu menarik perhatian anak-anak dan mengajarkan matematika yang tentunya pakai gambar. Setelah sekolah bubar, Kugy nyaris tercekat ketika mendengar Keenan tak akan melukis lagi. Keenan menceritakan segalanya tentang perbuatan Wanda dan merasa bahwa selama ini dia salah bermimpi. Kugy yang kecewa akhirnya berkata, “ternyata selama ini aku ketinggian menilai kamu”. Dari sini, mereka berpisah.

Kugy menulis bahwa Keenan selama ini bukanlah orang yang ia cinta, bahwa dirinya terlalu banyak berharap. Keenan bukanlah orang yang mengejar mimpinya, melainkan tak lebih dari seorang pria yang rapuh. Tulisan itu kemudian dilipat menjadi perahu dan dihanyurkan di kali dekat kost.

Kabar bahagia menghinggapi Keenan, Pak Wayan menyuruhnya datang ke desa Lodtunduh, Ubud. Lukisan Keenan yang berjudul Jenderal Pilik dan Pasukan Alit juga telah laku terjual di galeri pak Wayan. Tanpa ragu, Keenan menyetujui usul Pak Wayan dan segera berangkat ke Bali.

Di Lodtunduh, Keenan berkenalan dengan keponakan Pak Wayan, gadis itu bernama Luhde. Ia pintar, lembut, cantik meskipun sikapnya pemalu. Luhde memiliki kebiasaan suka sekali mengintip Keenan melukis, sebenarnya bukan melukis melainkan menatapi kanvas kosong karena Keenan sama sekali tak punya ide. Luhde berkata bahwa lukisan Keenan belum bertemu jodohnya, apabila sudah ditemukan nantinya maka kuas-kuas itu akan bergerak sendiri. Bersama Luhde, Keenan menemukan kepercayaan dirinya kembali. Berulang-ulang Luhde terus menyemangati Keenan agar mampu mengibas langit berawan yang kini tengah hinggap dalam kepalanya. Akhirnya, dengan bekal buku tulis Jenderal Pilik Pasukan Alit-nya Kugy, Keenan melukis kembali.

Kugy yang juga kehilangan jatidirinya, memutuskan untuk pensiun menulis. Ia lebih memilih untuk fokus pada satu hal “lulus” secepatnya.

Di galeri, Keenan kedatangan tamu yang merupakan pembeli lukisan pertamanya. Dan kali ini pria itu juga mengakui ketertarikan pada lukisan-lukisan Keenan yang merupakan rangkaian cerita.

Kugy pindah ke kost baru yang cukup jauh dari kost Noni dan sekarang ia kembali mulai dekat dengan Eko. Di pulau lain, Keenan dan Luhde semakin akrab hari ke hari. Luhde seringkali mengingatkan Keenan akan Kugy, mulai dari lucunya, kecerdasannya, bahkan sampai kesukaannya pada menulis.

Sebagai hadiah ulang tahun, Luhde minta diberikan pahatan spesial Keenan. Keenan bimbang karena pahatan berbentuk hati itu awalnya ditujukan untuk Kugy dan bahkan tertera K & K. Akan tetapi, lembaran baru telah diputuskan, dan Keenan memberikannya pada Luhde.

Disela-sela kesibukan masing-masing, Keenan dan Kugy saling merindu meskipun realitanya mereka sudah hampir dua tahun tak bertemu, tanpa tahu dimana keberadaan satu sama lain.

Ketika Kugy sidang, hanya Eko yang setia menemaninya sampai pengumuman keluar. Setelah mengetahui dirinya mendapat nilai A, ia  dan Eko saling berpelukan. Dan..adegan ini disaksikan oleh Noni. Kugy ingin memberikan kabar gembira sekaligus berpamitan, terpaksa harus menghadapi amarah Noni yang cemburu padanya. Noni salah paham, dan memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Kugy.

Sepulangnya ke Jakarta, Kugy magang di perusahaan periklanan yang bernama Advocado. Pemiliknya, Remigius Aditya adalah seorang pengusaha muda sukses, cerdas, dan tampan. Awalnya Kugy cuma kebagian jadi petugas foto kopi, namun pada suatu rapat ia diminta mengemukakan pedapat mengenai iklan wafer. Tak disangka, pendapat Kugy sangat disukai dan alhasil dia berhenti sebagai anak magang dan mulai benar-benar bekerja. Beberapa kali dirinya dijadikan project leader sebuah iklan.

Di Ubud, Keenan mulai kehilangan inspirasi seiring dengan hampir habisnya cerita petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang dibuatkan Kugy. Luhde terus saja memberinya semangat, dan mengatakan wajar kalau seorang seniman sesekali merasa jenuh.

Kugy mulai dekat dengan atasannya, Remi. Mereka berdua selalu terlihat bersama, dan Kugypun mengakui bahwa dirinya merasa nyaman berada disisi Remi. Sementara itu di Bandung, penghuni kamar lama Kugy menemukan buku yang tertinggal dan akhirnya diserahkan pada Noni. Noni sama sekali tak berniat membukanya dan langsung disimpan disudut lemari.

Papa Keenan jatuh sakit terkena serangan stroke, dan Ibunya mau tak mau harus menjemputnya di Bali. Mendengar hal itu, Keenan langsung bersegera pulang dan pamitan pada Luhde disertai dengan janji bahwa dirinya akan segera kembali.

Ketika hendak pulang kantor, Kugy mendapati bahwa lukisan baru telah dipajang di lobi. Ia merasa tertarik dan tiba-tiba ia ingat murid-muridnya di Sakola Alit. Ia terus menatapi lukisan itu hingga menangis, dan melihat bahwa pelukisnya berinisial KK.

Karena tak bisa mengurusi perusahaan, Keenan bersedia menggantikan papanya, dengan kata lain kini dialah yang diharuskan menjadi direktur dan menggantikan seluruh tugas papanya.

Disuatu malam di Ancol, Remi akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Kugy. Kugy yang tak tahu harus bilang apa, memilih untuk menetapkan hatinya pada Remi.

Setelah sekian lama, barulah Noni memutuskan untuk membaca buku peninggalan Kugy tersebut, yang isinya ternyata buku dongeng dan sketsa serta sepucuk surat. Dan tahulah Noni bahwa selama ini Kugy mencintai Keenan, diapun mengerti alasan dibalik perubahan sikap Kugy. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memendam dan diam. (I love this line). Noni langsung ke Jakarta dan menemui Kugy, dan menanyakan hal keseluruhan. Namun mengetahui bahwa Kugy saat ini telah memiliki pacar baru, Noni tidak memberitahu bahwa Keenan ada di Jakarta. Sebaliknya ia mengundang Kugy untuk hadir di acara pertunangannya dengan Eko beberapa hari lagi. Di saat yang sama, Eko juga mengundang Keenan.

Dengan mengenakan gaun, Kugy hendak berangkat menuju pesta pertunangan kedua sahabatnya, Eko dan Noni namun sayang sekali Remi tidak bisa hadir. Mau tak mau, Kugy berangkat sendiri. Betapa terkejutnya Kugy ketika melihat orang yang berada di sebelah Eko, Keenan. Setelah hampir tiga tahun tidak berjumpa, ia sadar betapa dirinya merindukan pria itu. Ketika kedua mata mereka saling menemukan, barulah keduanya yakin bahwa tidak berhalusinasi.

“Saya nggak nyangka ketemu kamu dalam…gaun,” Keenan berkomentar. “Kamu membuat saya yakin bahwa Charles Darwin memang benar, evolusi itu memang bisa terjadi.”

“Monyet.” Semprot Kugy sambil tertawa.

“Ya,persis. Itu dia. Dari monyet berantakan sampai jadi manusia cantik bergaun velvet.”

Kugy lantas menanyakan bagaimana kabarnya, dan kemana saja dia selama ini. Mereka berdua bercerita panjang lebar malam itu. Dan terungkap pulalah bahwa mereka telah memiliki kekasih masing-masing. Keenan mengucapkan terima kasih atas Jenderal Pilik dan Pasukan Alitnya, karena buku itulah yang menjadi sumber inspirasi baginya.

Keesokannya, Keenan mengajak Kugy jalan seharian ke Bandung tempat dimana dulu Sakola Alit berada, namun sayang tempat itu kini telah digusur dan Pilik (murid Kugy) telah meninggal dunia. Keenan menghibur Kugy yang sedih atas kematian Pilik, lalu mengajaknya ke suatu pantai favoritnya. Keenan mengajak Kugy membuat karya bersama, Kugy menulis dongeng dan Keenan yang akan melukis ceritanya. Kugy tentu saja senang dengan hal ini, mimpinya tiba-tiba seolah ada didepan mata.

Demi mengejar mimpinya dan serius mengerjakan dongeng, Kugy memutuskan untuk mengundurkan diri dari Advocado. Remi menerima keputusan Kugy dan terus mendukung keinginan kekasihnya itu.

Tiap minggu, Keenan harus bolak balik ke rumah Kugy untuk menjemput naskah dongeng. Tiap minggu pula, mereka berkesempatan untuk bertemu. Maklum saja, tugas kantor membuat Keenan banyak kehabisan waktu. Namun pada suatu malam Minggu, Keenan tak bisa hadir ke rumah Kugy, karena Luhde datang ke Jakarta. Kugy tersadar, bahwa dirinya bukanlah apa-apa, dan mengingatkan kembali bahwa ia telah memiliki Remi.

Remi dan Kugy liburan ke Bali. Remi berkunjung ke galeri pak Wayan (ternyata pembeli pertama lukisan Keenan adalah Remi), sedangkan Kugy hunting foto di Pura. Di sana ia bertemu dengan Luhde, bahkan mengambil beberapa foto. Luhde kemudian mengenal siapa Kugy sebenarnya dari tulisan tangannya. Tahulah ia bahwa inilah wanita yang tulisannya selalu jadi inspirasi bagi Keenan. Kugy dan Luhde bercanda gurau beberapa saat, dan mereka terlihat sangat dekat. Malam itu, kebetulan Keenan sedang berada di Ubud dan esok akan kembali ke Jakarta, dan Luhde akhirnya memutuskan untuk mengikhlaskan Keenan lepas darinya.

Sambil makan malam, Keenan memberikan kabar gembira bahwa buku Kugy akan segera diluncurkan. Begitu pula dengan lukisannya, akan segera diadakan pameran. Akhirnya, cita-cita mereka, mimpi mereka, terwujud. Inilah karya bersama.

Pada suatu kesempatan, Keenan bertemu dengan Remi. Mereka saling bertukar nomor ponsel, dan Remi menceritakan pada Keenan bahwa dirinya akan segera melamar gadis pujaannya. Keenan tentu bahagia mendengarnya dan bahkan menawarkan bantuan kalau-kalau ada yang dibutuhkan.

Kugy menunjukkan foto-foto Luhde pada Remi, Remi mengatakan bahwa gadis tersebut adalah pacar dari pelukis favoritnya, Keenan. Seketika Kugy shock, tidak seperti Wanda, Kugy justru sangat menyukai Luhde. Remi kemudian memberanikan diri untuk melamar Kugy. Namun Kugy yang shock tak menjawab apapun dan meminta diberikan waktu, Remipun menyetujui. Kugy menghilang dari peredaran beberapa lama, Noni dan Ekopun tak tahu keberadaannya.

Keenan menemui Noni dan menanyakan apa yang terjadi pada Kugy. Tanpa basa basi, Noni menjawab bahwa selama ini Kugy mencintai Keenan. Keenan terkejut, siapa sangka ternyata selama ini perasaan mereka berdua sama. Dengan menggunakan ponsel Keenan, Noni menelpon pacar Kugy dan tertulislah nama Remi ditelepon itu. Keenan begitu terpukul, karena menurutnya Remi adalah pria baik dan wanita manapun akan beruntung mendapatkannya, tak disangka wanita itu adalah Kugy.

Radar Neptunus membuat Keenan berhasil menemukan Kugy di rumah Karel (kakak Kugy), dan Keenan mengakui bagaimana perasaannya pada Kugy selama bertahun-tahun ini, sejak pertemuan pertama mereka. Namun mereka berdua harus menerima kenyataan, bahwa kini mereka tidak mungkin bersama.

Mendengar penuturan Keenan, Kugy akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran Remi dan memberikan buku dongeng sketsa yang baru saja diserahkan Noni padanya. Remi kemudian menemukan sepucuk surat, dan tahulah dia bahwa selama ini Kugy hanya mencintai Keenan.

Akhirnya, Remi memutuskan untuk mengalah, karena tahu bahwa sekuat apapun perasaannya pada Kugy, tetap saja Keenan akan selalu ada disana.

Kugy memutuskan untuk pergi ke pantai tempat yang ia dan Keenan pernah kunjungi dulu, ternyata Keenan pun juga ada disana… radar Neptunus mempersatukan mereka…

Review

  1. Cerita. Secara keseluruhan aku suka novel ini, ceritanya ringan tapi asyik. Ceritanya dapat dikatakan bertele-tele tapi kadang itulah yang terjadi. Bagaimana Kugy yang menyukai Keenan namun sadar bahwa dirinya masih memiliki Ojos. Disisi lain Keenan terlanjur menyukai Kugy, dan baru saja mengetahui bahwa gadis itu telah ada yang punya.

Kadang aku kesal dengan Keenan yang plin plan. Ia tidak menyukai Wanda, tapi kenapa jadian dengannya? Lantas begitu tahu bahwa Wanda menipunya dengan membeli seluruh lukisan, mereka putus begitu saja.

Dipertengahan cerita, begitu tokoh-tokoh Luhde dan Remi muncul, pembaca dibuat menyukai karakter mereka, dengan Luhde yang anggun dan lembut, serta Remi yang gentleman dan baik hati. Aku seolah bisa membelah buku ini menjadi dua session. Pertama seasion Ojos dan Wanda, dan session kedua Remi dan Luhde.

  1. Tokoh

Seandainya Keenan tidak seplin-plan itu, mungkin dia bakal masuk tokoh Fiksi favoritku. Bagaimana tidak, pintar, ganteng, lucu, yah tapi sayang pilihannya agak ekstrim dengan berhenti kuliah. Keenan menurutku selalu dibayang-bayangi oleh Kugy, terbukti dengan Luhde yang menurut Keenan selalu mengingatkannya pada sosok gadis itu, dari cara bicaranya, dari sikap dan tulisannya.

Kugy, cewek aneh yang berpenampilan seenaknya, cuek-secueknya sampai membuat aku berpikir, beneran ada nggak cewek seaneh ini? Tapi dia lucu, itu yang aku suka. Sampai akhirnya kelucuannya sirna karena patah hati. Yah, patah hati memang mampu membuat seorang gadis kehilangan jati diri ^^.

  1. Alur,

Alurnya amat sangat lambat. Butuh empat tahun dari awal cerita hingga Kugy dan Keenan benar-benar bersatu. Tapi alur yang lambat ini diselingi dengan dialog-dialog yang pas, lucu dan segar. Walaupun alurnya bercabang kemana-mana, akhirnya tetap bersatu pada batang yang sama. Intinya, kalau jodoh takkan kemana… ^_^

  1. Dialog

Tak jarang aku senyum-senyum sendiri karena membaca novel ini. Ya, itu karena dialognya. Ini point terkuat yang ada di novel ini. Lelucon-leluconnya asyik walaupun kadang agak garing, namun tetap mampu membuat pembaca tersenyum. Dee membuat dialog antar tokoh  mengalir alami, khas anak muda. Tak peduli novel ini dibuat tahun 90-an, tetap terasa cocok hingga sekarang.

  1. Visualisasi

Berbeda dengan novel terjemahan (luar) yang sarat dengan deskripsi lokasi kejadian, novel Dee ini tidak terlalu banyak menggambarkan deskripsi setting tempat terjadinya suatu peristiwa. Memang ada di beberapa adegan, deskripsinya lumayan detail, namun selebihnya tidak, hanya deskripsi seadanya. Lagi-lagi keunggulannya terletak pada dialognya.

  1. Pesan Moral

Pesan moralnya agak tinggi nih, sampai bingung gimana mengungkapkannya. Intinya,seperti halnya Kugy dan Keenan yang berjuang menggapai mimpinya meskipun berliku, seperti itu pulalah kita diharapkan mampu melakukannya. Ini salah satu hal yang menarik dari novel ini, aku seperti halnya Kugy sangat suka menulis, namun Kugy merealisasikan impiannya dalam langkah-langkah sistematis dan realistis, sementara aku tidak. Aku lebih memilih menjadikannya sekedar hobi belaka.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: