Resensi #3 : City Of Bones By Cassandra Clare

  • Judul            : The Mortal Instruments, City Of Bones (Book #1).
  • Pengarang :  Cassandra Clare.
  • Tema            : Action, Romance, Fiction.
  • Rating          : 5 dari 5

Image

Selama ini Clary yang hampir berusia 16 tahun, mengira dirinya hanyalah anak seorang pelukis biasa. Tapi sejak ibunya diculik dan Clary sendiri hampir mati oleh serangan iblis, ia terpaksa masuk ke dalam dunia baru yang gelap sekaligus menawan, yaitu Dunia Bayangan.

Ternyata sejak ribuan tahun yang lalu, hanya kaum Nephilim (manusia keturunan malaikat) yang membasmi iblis demi melindungi manusia. Mereka disebut Pemburu Bayangan. Salah satunya adalah Jace yang kasar, sombong dan luar biasa menyebalkan. Tapi justru itulah yang membuat cowok berambut keemasan itu lebih menggemaskan. Lagipula, bagaimana Clary bisa tahan kalau ada cowok yang selalu siap menerjang iblis, vampir, bahkan manusia serigala demi melindunginya?

Lalu mengapa iblis mengincar soerang gadis biasa seperti Clary? Bagaimanakah tiba-tiba Clary mendapatkan “penglihatan”, sehingga kini ia bisa melihar peri, warlock, dan nephilim? Para Pemburu Bayangan pun benar-benar ingin mengetahuinya…

Membaca buku ini merupakan rekor baru bagiku. Yup, dengan buku setebal 660 halaman, dapat aku selesaikan dalam waktu 1 hari. Ini bulan Ramadhan, dan aku sama sekali tidak keberatan membacanya hingga begadang tengah malam padahal harus sahur, untunglah hari ini Minggu jadi aku tidak ada kewajiban masuk kantor. Sehabis sahur pun setelah sholat Subuh, aku sama sekali tidak tidur seperti yang biasa aku lakukan, malahan aku lanjut membaca buku ini hingga pagi dan saking asyiknya, saat menjelang berbuka puasa, Alhamdulillah aku sudah menyelesaikannya. Bisa banyangkan tidak? Buku seperti apa yang membuat aku tak sanggup melepaskannya? Rekorku sebelumnya adalah membaca buku Harry Potter dan Orde Phoenix yang paling tebal dari seri Harry Potter selama 2 hari, dan ini cuma 1 hari. Aku sendiri juga takjub.

Ringkasan Cerita

Clary dan Simon sedang berada di klub Pandominium ketika Clary pertama kali melihat ada 2 orang pemuda dan seorang gadis yang  menghunus pisau kepada pemuda yang lain, bahkan membunuhnya, membunuh iblis itu. Clary melihat dengan jelas pemuda berambut keemasan itu, dan Simon tidak melihat apa-apa. Dari situ Clary mulai curiga dengan penglihatannya.

Karena bertengkar dengan ibunya, Jocelyn, Clary memutuskan untuk pergi hang out ke kafe bersama Simon, disana lagi-lagi Clary bertemu dengan pemuda berambut keemasan itu -yang ternyata bernama Jace- dan menyuruh agar Clary mengikutinya ke institut namun Clary mendapatkan telepon dari Ibunya yang sedang panik dan ketakutan. Tak ayal lagi, Clary segera berlari pulang ke rumah namun ibunya hilang entah kemana. Bahkan Clary diserang oleh monster pembuas yang mengancam membunuhnya. Clary melawan sekuat tenaga dan akhirnya berhasil membunuh makhluk itu dan tak lama kemudian Jace datang dan menyelamatkan Clary yang juga hampir mati terkena racun iblis itu.

Di Institut, Jace menjelaskan bahwa dirinya, Alec dan Isabelle adalah Pemburu Bayangan, dan Jace juga curiga bahwa Clary merupakan salah satu dari mereka, terbukti dengan rune – tanda-tanda magic- yang diukir oleh Jace dikulit Clary sama sekali tidak menyakitinya bahkan bekerja dengan baik, tidak seperti jika memakaikan rune itu kepada mundane (makhluk Fana). 

Karena Clary juga penasaran tentang hal itu, dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya, untuk memeriksa barang-barang ibunya untuk mencari petunjuk. Di sana ia bertemu dengan Madam Dorothea, tetangga Clary yang menceritakan bahwa dulu Jocelyn (ibu Clary) juga merupakan pemburu bayangan. Dengan sisa serbuk teh, Madam Dorothea meramal Jace dan mengatakan bahwa pemuda itu akan jatuh cinta dengan orang yang salah. Madam Dorothea mengatakan bahwa ada selubung di dalam ingatan Clary yang mencegahnya untuk meramal gadis itu. Sehingga dengan kartu tarot pemberian ibu Clary,  akhirnya Madam Dorothea bisa membacakan sedikit ramalan untuk gadis itu. Karena disana ada portal, tanpa pikir panjang Clary membawa Jace bersamanya menyebrangi portal itu untuk mencari petunjuk keberadaan ibunya, dan ternyata mereka tiba di halaman rumah Luke, sahabat dekat Jocelyn.

Disana mereka berdua bertemu Simon yang sedang mengawasi gerak gerik Luke, dan Clary menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya sejak terakhir kali bertemu dengan Simon malam itu. Kemudan bertiga, mereka mengendap-endap ke rumah Luke dan tak lama kemudian mereka mendengarkan percakapan antara Luke-Pangborn-Blackwell. Hati Clary teriris mendengar nada cuek yang diucapkan oleh Luke tentang ibunya, sehingga menganggap bahwa Luke selama ini sebenarnya tidak pernah peduli kepada keluarganya. Dari situ pula, mereka tahu bahwa Jocelyn diculik oleh Valentine, mantan pemburu bayangan yang berubah jahat dan bekerja sama dengan iblis.

Di institut, Hodge (guru Jace, Alec, Isabelle) menjelaskan tentang sejarah Valentine dan kelompoknya yang bernama Lingkaran (circle) serta tujuan utamanya untuk membunuh makhluk dunia bawah. Hodge mengaku pernah menjadi anggotanya, begitu pula dengan ibu Clary, ayah Jace dan orang tua Alec dan Isabelle.

Untuk menyingkap ingatan Clary, Jace menemaninya ke kota Tulang, tempat dimana Silent Brother (Saudara Hening) tinggal untuk mengangkat pelindung memori itu, namun sayangnya tidak bisa karena ingatan Clary telah dimantrai oleh seseorang bernama Magnus Bane. Dengan kebetulan, Isabelle memiliki undangan pesta besar yang diadakan di rumah Magnus Bane, Warlock Agung dari Brooklyn. Dari Magnus mereka mengetahui bahwa Ibu Clarylah yang meminta tolong padanya agar ingatan Clary dan penglihatan Clary akan dunia bayang dihilangkan. Namun sayang, Magnus tidak bisa mengangkat kembali mantranya untuk memulihkan ingatan Clary, ia hanya membantu Clary agar dapat mengingat lebih cepat dengan menunjukkan gambar-gambar rune ingatan kepada gadis itu.

Masalah muncul ketika Simon yang mereka ajak ke pesta itu tanpa sengaja minum Cocktail sehingga mengubah tubuhnya menjadi tikus, dan terbawa pulang oleh kawanan Vampir. Jace dan Clary datang menyelamatkan Simon, untunglah mereka bisa lolos dari sarang Vampir itu.

Kejadian itu membuat Alec marah besar kepada Clary, karena Clary lagi-lagi membahayakan nyawa Jace dan mengusir Clary dari institut. Clary yang terpancing amarahnya mengatakan bahwa Alec berbuat begitu karena Clary sebenarnya mengetahui bahwa Alec jatuh cinta pada Jace, ya Alec gay. Alec yang naik pitam menampar Clary.

Simonpun datang ke kamar Clary dan saling bercerita hingga Simon ketiduran di ranjang Clary. Tak lama, terdengar ketukan di pintu dan ternyata Jace dan ia mengajak Clary ke rumah kaca. Disana Jace merayakan ulang tahun Clary yang ke 16. Jace yang menyebalkan sangat bersikap baik saat itu, bahkan mencium Clary.

Namun, Simon memergoki mereka. Jace yang cemburu mengeluarkan kata-kata kasarnya yang biasa dan berlalu pergi. Simon yang patah hati akhirnya mengakui bahwa selama 10 tahun terakhir ini ia jatuh cinta kepada Clary tapi Clary sama sekali tak pernah menanggapinya dan bahkan tidak tahu. Simon lebih sedih lagi setelah melihat buku sketsa Clary yang ternyata ada gambar Jace didalamnya.

Ya, meskipun Jace pemuda kasar dan sarkastis, Clary justru mulai terpesona pada pemuda itu. Simon pergi dari institut, dan pulang ke rumahnya. Dengan pikiran kalut, tiba-tiba Clary mengetahui bagaimana ibunya menyembunyikan piala Mortal – Salah satu mortal instrument yang saat ini sedang dicar- cari oleh Valentine- . Entah bagaimana Clary mampu membayangkan sebuah rune yang akan mengeluarkan piala Mortal itu dari gambar persembunyiannya.

Akhirnya, Clary, Jace, Alec, Isabelle dan dibantu oleh Simon datang kembali ke rumah Madam Dorothea, karena piala Mortal itu berada dalam kartu tarot pemberian ibunya. Dengan menggambarkan rune, akhirnya piala mortal itu dapat diambil Clary. Namun iblis datang, Abbadon dan menghajar mereka semua. Iblis itu berhasil dikalahkan berkat ide cemerlang Simong yang memanah tepat ke arah jendela sehingga matahari masuk dan menghabisi iblis itu. Alec mengalami luka parah dan segera dilarikan ke institut.

Mengetahui bahwa piala Mortal telah berada di tangan Clary, Hodge segera mengambil tindakan dengan melapor kepada Valentine. Ya, ternyata selama ini Hodge masih setia kepada Valentine. Jace pingsan tak sadarkan diri karena entah apa yang dilakukan oleh Hodge padanya dan Clary terkurung dalam semacam dinding kristal. Setelah mendapatkan piala Mortal, Valentine juga menculik Jace dan mengatakan bahwa Jace akan segera bersama ayahnya.

Clary tentunya menganggap bahwa Valentine berniat membunuh Jace karena ayah Jace sudah meninggal  sejak lama. Hodge yang telah berkhianat pergi meninggalkan institut dan lari. Clary yang berhasil menyelamatkan diri setelah dikurung dengan menggambarkan rune didinding kristal kemudian mengejar Hodge. Dengan bantuan seekor serigala, Hodgepun kalah.

Di dalam sebuah kamar yang kumuh, akhirnya Clary tahu bahwa serigala yang menolongnya tadi adalah Luke, sahabat baik ibunya. Dari Luke, Clary mengetahui cerita sesungguhnya bahwa Valentine adalah suami Jocelyn, dan tak lain adalah ayah Clary sendiri. Luke juga menceritakan semuanya, termasuk kenapa ibu Clary sampai melarikan diri dari dunia bayangan dan menyembunyikan Clary dari penglihatan itu. Clary juga akhirnya tahu bahwa dulu dia mempunyai seorang kakak lelaki, Jonathan Christopher, yang telah dibunuh Valentine.

Dengan bantuan Luke dan kawanan serigalanya, mereka menerjang sarang Valentine untuk menyelamatkan Jocelyn dan Jace. Jocelyn ditemukan namun dalam keadaan tak sadarkan diri. Memasuki sarang Valentine bukannya tanpa perlawanan, banyak serigala yang terluka termasuk Luke. Jace juga ditemukan oleh Clary berada dalam salah satu ruangan dari kastil itu, dengan kondisi baik. Jace menceritakan bahwa di sini ia bertemu dengan ayahnya yang ternyata masih hidup.

Ternyata, ayah Jace adalah Valentine.

Valentine mencoba membujuk Jace untuk berpihak padanya, namun Clary selalu menampik kebohongan-kebohongan yang diucapkan oleh Valentine. Valentine juga mengatakan bahwa Jocelynlah yang kabur meninggalkan Jace, dan lagi-lagi Clary membantahnya.

Valentine akhirnya menjatuhkan rahasia sesungguhnya, bahwa Jace dan Clary adalah kakak beradik, Jace shock akan berita itu, namun Clary telah mengetahuinya sesaat Jace mengatakan bahwa Valentine adalah ayahnya. Jace bimbang memihak siapa, namun akhirnya Jace kembali ke pikiran warasnya dan memutuskan untuk mengambil kembali piala Mortal dari tangan Valentine. Sayang, Valentine telah melarikan diri dengan portal ke Idris.

Epilog, Ibu Clary dirawat di Rumah Sakit dengan Luke yang terus menerus menjaga disisinya. Namun Jocelyn tak kunjung bangun. Clary dan Jace tetap bersikap seperti biasa, sadar bahwa mereka adalah kakak beradik. Namun rasa cinta dalam hati mereka, tetap ada.

Ulasan Buku

Rating buku ini kuberi 5 dari 5!!! Amazing.

Memang secara cerita buku ini tidak terlalu original karena diadaptasi setidak-tidaknya dari Harry Potter, karena ada kehidupan lain selain dunia Fana, dalam Harry Potter, Muggle.

Aku suka ceritanya, ringan dan yang paling utama, percakapan antar tokohnya yang pas. Ada juga sisi humor dari setiap pembicaraan mereka, yang menurutku lebih bagus kalau dibaca dalam bahasa Inggris. Oh ya, sebelumnya aku sudah membaca buku ini dalam Versi Inggris namun tetap memutuskan untuk membeli bukunya yang bahasa Indonesia.

Jace sama sekali bukan tokoh pahlawan yang selama ini ada dalam pikiran kita. Jace sama sekali tidak berlemah lembut, bahkan Jace ini menyebalkan. Sangat pandai memancing emosi orang lain, terutama menyindir, itu keahliannya selain membunuh iblis. Oh ya, satu lagi, kadang-kadang Jace bahkan mengidap penyakit Sindrom Pangeran, merasa sok ganteng. Hahahah, tapi aku menyukainya.

Clary, sama keras kepalanya. Clary sama sekali tidak sadar dengan kecantikannya, karena dia selalu menganggap gadis cantik itu adalah yang seperti Isabelle, dengan body yang hot. Sedangkan dirinya cuma gadis pendek dengan rambut merah menyala. Clary juga bukan gadis penurut, namun dia selalu mengatamakan ibunya diatas segala hal.

Alce, dengan sangat mengejutkan menambah cerita dalam kisah ini karena ternyata dia Gay. Clary sudah membaca tanda-tandanya, namun pembaca seperti kita tidak akan menebak ke mana arah cerita hingga sampai saat Clary meneriakkan kata-kata pedan ke arah Alec dan terbongkarlah semuanya.

Isabelle, yang kecantikannya sempurna, ternyata mempunyai cacat, masakannya mengerikan. Untunglah, karena aku khawatir Isabelle menjadi sosok sempurna dalam kisah ini. Kalau aku banding-bandingkan Isabelle agak mirip dengan Rosalie Hale dalam Twilight yang terobsesi dengan kecantikan.

Kisah di buku ini, meliuk-liuk dengan tajam, karena akhirnya tidak dapat ditebak. Siapa sangka ternyata Jace dan Clary bersaudara? Oh Tidak, terus bagaimana kisah cinta selanjutnya? Kasihan mereka berdua.

Fakta-fakta kebenaran yang telah didapatkan oleh Clary juga dapat diubah dengan masuk akal oleh Valentine, sehingga pembaca awalnya bingung cerita siapa yang benar dan siapa yang salah. Penggambaran kisah juga sangat jelas dan hidup, tapi kembali lagi percakapannyalah yang aku suka meskipun kadang-kadang ada humor yang garing. Heheheheh…

Baik, dengan demikian aku SANGAT MEREKOMENDASIKAN buku ini untuk jadi koleksi kalian selanjutnya.

Rating 5 dari 5 !!! Salah satu buku yang akan membuatku membacanya berulang-ulang.

2 thoughts on “Resensi #3 : City Of Bones By Cassandra Clare

    • Kemaren itu browsing-browsing di mediafire (berkat bantuan Google) Udah langganan newsletter Goodreads belom? disitu ntar dikasih tau novel apa yang baru terbit. Kalau novelnya udah lama tapi populer, kemungkinan besar ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s