Resensi #2: Penitence By Jennifer Laurens

Tentang Buku

  • Judul              : Penitence, (Heavenly #2)
  • Pengarang   : Jennifer Laurens.
  • Tema              : Paranormal, Romance.
  • Penerbit       : Belum diterbitkan di Indonesia. Versi Inggris, diterbitkan oleh Groove Creek Publishing.
  • Rating Pribadi  : 3 dari 5.

Gambar

Buku dua. Melihat roh baik dan jahat adalah bakat Zoe yang dijaga selama hidupnya. Meskipun Malaikat pelindungnya lenyap, Zoe memaksa dirinya agar tetap menyadari bahwa dirinya memiliki tujuan, namun bagaimana mungkin dia sanggup memikul beban dari adiknya yang kecanduan?  Beratnya hidup dengan adik pengidap autis, dan sahabat baik yang terobsesi dengan pria yang hanya menginginkan Zoe? Dia tak pernah merasa sesendiri ini sebelumnya. Ketika roh misterius muncul, Zoe berpikir dirinya memiliki malaikat pelindung yang baru. Malahan, kecanduan adiknya bertambah parah, orang tuanya berada dalam pertengkaran yang mengarah perceraian dan sahabat baiknya mencoba memubuhnya. Roh yang dia pikir pelindungnya sama sekali tidak melindunginya ; tujuannya menghancurkan keluarga dan merampas jiwa Zoe ke neraka. Akankah Matthias kembali menjadi malaikat pelindung Zoe? Ataukah cinta mereka merupakan alasan terbukanya gerbang neraka?

Novel ini belum diterbitkan di Indonesia, yang baru terbit hanyalah buku #1 Heavenly. Jadi aku membaca buku ini dalam versi Inggrisnya.

Ringkasan Cerita

Kisah pada buku sebelumnya (Heavenly) berakhir pada adegan Zoe dan Matthias bersatu di Paradise. Nah, di Penitence ini kisah diawali dengan kenyataan bahwa Zoe diharuskan kembali ke tubuhnya semula, dimana para dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawanya di rumah sakit. Kebersamaannya yang singkat dengan Matthias terpaksa hilang direnggut kesadaran bahwa dirinya masih hidup.

Kembalinya Zoe ke dunia membuat dirinya sangat menderita karena kehilangan kebersamaan dengan Matthias. Keluarganya tentu sangat senang mendapati bahwa Zoe berhasil diselamatkan tanpa tahu mengapa Zoe kelihatan sedih. Ibu Zoe menjelaskan luka-luka yang dialami oleh putrinya itu, termasuk luka besar yang hampir merusak dada kanannya.

Beberapa minggu dirawat di RS, penglihatan Zoe tetap muncul seperti waktu melihat arwah wanita yang menunggu kematian suaminya di RS itu. Namun kedatangan Matthias tak kunjung tiba, meskipun sudah berminggu-minggu sejak kecelakaan itu. Zoe merasa sangat kehilangan akan kehadiran Matthias, namun ia sadar bahwa hidupnya tetap berarti, bagi keluarganya, dan bagi dirinya sendiri. Dia memutuskan akan tetap menjalani hidup, meskipun tanpa kehadiran Matthias, pelindungnya. 

Selama Zoe dalam masa perawatan, Chase teman sekelasnya di Kelas Jurnilistik terus menerus mengunjunginya, menyiratkan bahwa pemuda itu memang jatuh hati pada Zoe. Aku pun bepikir bahwa mungkin  pemuda inilah yang akan menjadi cinta segitiga dalam kisah ini. Ternyata tidak. Zoe memang menyadari bahwa Chase menyukainya tapi sama sekali tidak menanggapi perasaaan pemuda itu. Baginya, Chase adalah sesama teman yang pernah melihat guardian angel.

Zoe menceritakan kepada adiknya Luke bahwa dirinya telah mati dan bertemu Matthias, namun harus kembali ke dunia ini. Luke mempercayainya.

Zoe terus menjalani kegiatannya setelah dinyatakan sembuh, berangkat ke sekolah seperti biasanya. Namun ia masih bertanya-tanya dimana Matthias, apa yang terjadi padanya. Kekhawatiran akan keadaan Matthias selalu menjadi prioritas dalam pikirannya.

Selama di sekolah, Zoe menyadari ada yang aneh dengan Weston (Pacar Britt yang tempo hari di Heavenly mencoba mengerjainya), selalu menatap ke arahnya dimanapun berada. Selama masa-masa itu, Zoe dekat dengan Chase, karena memang Chase banyak membantunya dan selalu menjadi tempat curhatnya. Selain itu Zoe juga memiliki teman baru, Krissy seorang kutu buku yang terobsesi menjadi populer.

Di sekolah, Zoe bertemu dengan arwah pendatang baru, yang awalnya dia kira adalah malaikat pelindungnya menggantikan Matthias. Kemiripannya dengan Matthias membuat Zoe bertanya-tanya, dan akhirnya mengetahui bahwa ia bernama Albert, ayah Matthias.

Setelahnya, Zoe menghayalkan mendengar suara Matthias, dan ya akhirnya Matthias kembali muncul ke hadapan Zoe setelah sekian lama. Dan Zoe harus menerima kenyataan bahwa Matthias bukanlah lagi malaikat pelindungnya, namun begitu Zoe tetap bersyukur karena setidaknya Mattahis merupakan pelindung Abria. Paling tidak, bisa bertemu sesekali, pikirnya.

Zoe menceritakan pertemuaannya dengan Albert, dan Matthias memberitahukan kenyataan bahwa ayahnya itu bukanlah malaikat pelindung, melainkan salah satu pemimipin Iblis.

Suatu hari, Chase mengajak Zoe jalan. Nah, Zoe mengajak Britt serta. Britt tentunya tak ingin meninggalkan Weston, apalagi sejak Weston tak mau bicara padanya. Mereka bertiga menjemput Weston, dan akhirnya malah Britt ditinggalkan sendirian di jalan karena ulahnya sendiri dan jadilah hanya mereka bertiga yang turut serta ke arena Bowling. Disini Weston bersikap sangat manis dengan mengajari Zoe bermain Bowling. Tak lama kemudian Zoe menyadari bahwa roh jahat yang menyertai kedatangan tiga orang pria, sehingga memutuskan untuk segera beranjak dari arena itu sembari menelpon polisi. Keesokan harinya, berita menyiarkan perampokan yang terjadi di arena yang mereka datangi itu.

Sesampainya dirumah, Weston meminta waktu kepada Zoe untuk bicara dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya dulu dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi (akhirnya pertanyaanku di Heavenly dulu terjawab), bahwa begitu Brady menyentuh Zoe, seakan ada perisai pelindung dan seketika tubuh Brady terlempar di udara.

Lambat laun, Zoe dan Weston semakin dekat, Weston terus menerus merasa bersalah akan sikapnya dulu. Matthias bahkan mengatakan, bahwa Zoe akan aman bersamanya. Kejutan di buku 2 ini, Weston jatuh hati pada Zoe, tergila-gila padanya dan bahkan Zoepun peduli padanya setelah menyakinkan dirinya bahwa Weston memang menyesal dan patut diberi kesempatan.

Cinta segitiga antara Matthias-Zoe-Weston tentunya tak bisa dihindari. Meskipun cintanya yang besar terhadap Matthias, namun Zoe tak menyangkal bahwa ia juga mencintainya Weston. Matthias pun selalu mengintervensi    pada saat ketika Zoe dan Weston dianggap melanggar batas, Yup, Matthias cemburu. Bagaimana dengan Britt? tentunya dia sangat membenci Zoe karena mencuri Weston darinya.

Puncak cerita, Krassy yang obsesi menjadi populer mengadakan pesta dengan mengundang seluruh anak disekolahnya termasuk Zoe, Weston, Chase dan Brady. Karena melihat banyaknya roh jahat yang ada disana, Zoe memutuskan untuk pulang bersama dengan Weston. Tengah malam, didapati kabar bahwa Brady meninggal akibat permainan gantung diri.

Mereka semua terkejut dengan berita ini, dan Weston seketika menyalahkan Zoe karena tidak memberitahunya apa yang dilihatnya malam itu. Dan setelah itu, Zoe memutuskan bahwa Weston cukup dapat dipercaya dan menceritakan segalanya tentang ‘penglihatannya’ itu.

Disisi lain, Albert terus menerus berusaha menghancurkan hidup Zoe, membuat Luke terus menerus menjadi pecandu. Mungkin dengan kematian Brady membuatnya sadar, tapi entahlah. Orang tua Zoe juga sering bertengkar, dan membuat hidup Zoe semakin susah. Namun selalu ada Matthias untuk melindunginya dan mengusir keberadaan Albert. Suatu hari, Matthias memberanikan diri bersentuhan dengan Zoe, membuatnya kembali menjadi Zoe’s guardian angel.

Di pemakaman Brady, Ibu Brady menembakkan pistol ke arah Weston, namun dihalangi oleh Zoe. Tubuhnya hampir saja tertembus peluru kalau tidak ada Matthias yang melindunginya. Kejadian itu membuat semuanya kacau, dan peti mati Brady bahkan belum dimasukkan ke tanah.

Orang tua Krassy menyeret Krassy pulang, sebelumnya Zoe melihat banyak arwah jahat yang bergelayutan di punggung ayah Krassy itu. Kemudian Weston mengantarkan Zoe pulang. Di mobil, Weston mengakui bahwa dirinya merasa tertekan dengan Matthias, bahwa dirinya tak mungkin bisa bersaing dengan malaikat. Dia merasa rendah diri, karena menyadari Zoe tak bisa mencintainya, Dan akhirnya, Weston memutuskan untuk ‘break’ sejenak dengan Zoe. Yah, Zoe merasa kehilangan. Namun, dengan adanya Matthias, dia sanggup melaluinya.

Chase menelpon, memberitahukan bahwa ada yang salah dengan Krissy dan meminta Zoe ikut dengannya untuk melihat keadaan Krissy.

-End-

Ulasan Buku

Buku pertama kemarin, aku menilainya mirip dengan Twilight. Dan buku kedua ini, lagi-lagi mirip dengan New Moon, kemiripannya:

  • Edward menghilang dari kehidupan Bella, dan Matthias juga menghilang dari kehidupan Zoe selama beberapa lama.
  • Bella menemukan kembali semangat hidupnya setelah bertemu dengan Jacob, Zoe kembali merasakan cintanya setelah bertemu dengan Weston.
  • Edward dan Matthias menghilang di hampir setengah awal buku, dan muncul lagi pada pertengahan cerita.

Lagi-lagi buku ini tamat dengan ceritanya yang tanggung. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang terjadi dengan Krissy? Entahlah, mungkin dibuku ketiga nanti dia akan memiliki peran yang lebih besar.

Albert yang merupakan musuh utama disini, sama sekali belum melakukan apa-apa. Belum melakukan tindakan-tindakan besar untuk menyakiti Zoe. Menurutku, kejahatannya akan diungkapkan seluruhnya pada buku ketiga nanti.

Buku kedua ini, isinya didominasi oleh romantisme antara Zoe-Weston. Yup, sekilas Matthias hanya jadi figuran di buku kedua ini. Para pembaca dibuat jatuh hati dengan sikap dan ketulusan Weston. Tak heran kalau nanti akan ada Tim Matthias dan Tim Weston, sama halnya dengan Tim Edward dan Tim Jacob.

Secara umum kisahnya lumayan asyik, tapi terlalu rata. Tak ada puncak cerita yang membuat gregetan. Mungkin karena aku sudah banyak membaca buku-buku serupa, membuatku membanding-bandingkannya. Namun begitulah, tak ada hal spesifik yang menjadi ketegangan dalam buku ini.

Matthias disini menceritakan masa lalunya, tentang ayahnya yang menjadi penyebab kematiannya, dan segalanya. Namun tetap saja ada banyak pertanyaan. Kemana Matthias pergi selama ini? Kenapa tidak muncul dihadapan Zoe? apa dia mendapatkan hukuman dari Surga? Well, banyak pertanyaan tak terjawab.

Brady yang meninggal juga menjadi arwah jahat dan bergabung bersama Albert, entah bagaimana asalnya kisahnya.

Akhir ringkasan, aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Tapi untuk seleraku, buku ini belum menyentuh, dan kurang menarik untuk dibaca berulang kali. Bahkan kurang menarik untuk dibeli versi Indonesianya.

4 thoughts on “Resensi #2: Penitence By Jennifer Laurens

  1. Terima kasih buat ringkasan ceritanya.. penasaran bgt dan greget bgt nunggu seri ke 2 dan ke 3nya.. dan ternyata kamu udah baca dan ngasih ringkasan yg makin bikin pengen baca lanjutannya.. thanks bgt ya..

    • Sama-sama mbak…
      Kebetulan udah baca, trus dibikin reviewnya deh.

      Tapi jangan lupa baca bukunya juga ya, karena review ini kan cuma penilaian dari sudut pandang aku, mana tau dari penilaian mbak nanti beda..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s